• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Refleksi 2025: Ketika Kesehatan Publik Tumbang oleh Kepentingan Oligarki

Dilianto Editor Dilianto
Rabu, 31 Desember 2025 - 17:31
in Nasional
rokok

Ilustrasi - Produk rokok dengan label peringatan kesehatan. Kebijakan cukai yang tidak dinaikkan dinilai melemahkan upaya pengendalian konsumsi rokok dan mengancam kesehatan generasi muda. Foto: ANTARA

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Bencana demi bencana menandai perjalanan Indonesia sepanjang 2025. Di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat, bencana ekologis merenggut lebih dari 1.300 nyawa, menghancurkan infrastruktur publik, dan meluluhlantakkan permukiman warga. Kerugian ekonomi ditaksir mencapai Rp 68,67 triliun. Namun, di balik puing-puing bencana alam itu, Indonesia sedang menghadapi ancaman yang jauh lebih senyap, sistemik, dan berjangka panjang, runtuhnya kesehatan publik akibat kebijakan negara yang tunduk pada kepentingan oligarki ekonomi.

Bencana ekologis di Sumatera bukan semata akibat cuaca ekstrem. Lenyapnya tutupan hutan akibat perambahan yang dilegalkan melalui izin-izin ugal-ugalan menjadi pemicu utama. Negara, sekali lagi, absen dalam melindungi kepentingan publik. Pola serupa kini berulang dalam sektor kesehatan, dengan dampak yang berpotensi jauh lebih mematikan.

BacaJuga:

Rp50 Triliun Dihemat, Prabowo Ungkap Wajah Baru BUMN

Ketua MPR Klaim Program MBG Kunci Menuju Generasi Emas

Mendagri Dorong Kepemimpinan Teknokratik Kepala Daerah untuk Tingkatkan Pendapatan Daerah

Pegiat perlindungan konsumen sekaligus Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menyebut kondisi ini sebagai jalan menuju “bencana demografi”.

“Tragisnya, fenomena bencana demografi ini bukan terjadi secara alamiah, melainkan didesain secara struktural oleh kebijakan pemerintah yang tunduk pada kepentingan oligarki ekonomi. Kesehatan publik dilindas oleh kepentingan industri,” ujar Tulus melalui gawai, Rabu (31/12/2025).

Menurut Tulus, tanda-tanda ketundukan negara terhadap industri tampak jelas dari pemangkrakan implementasi Undang-Undang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan. Salah satu mandat penting regulasi tersebut adalah pengendalian ketat produk pangan tinggi gula, garam, dan lemak, khususnya Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK).

PP Kesehatan mengamanatkan penerapan Front of Pack Label (FOPL), label peringatan berwarna di bagian depan kemasan agar konsumen memperoleh informasi yang jelas. Namun hingga kini, Kementerian Kesehatan belum menerbitkan aturan turunan berupa Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes).

“Ironisnya, hanya soal label saja bisa digagalkan. Wacana Permenkes kandas karena veto industri makanan dan minuman yang tergabung dalam GAPPMI. Dalihnya klasik: biaya tinggi dan turunnya produksi, tanpa bukti empirik,” kata Tulus.

Lebih jauh, Tulus menyebut adanya tekanan internasional. “Bahkan ada intervensi dari Pemerintah Amerika Serikat, karena banyak industri makanan dan minuman di Indonesia dimiliki investor dari sana,” ujarnya.

Kebijakan pengenaan cukai terhadap MBDK bernasib tak lebih baik. Sejak diwacanakan pada 2022 dan direncanakan berlaku pada 2023, kebijakan ini terus ditunda, hingga empat kali berturut-turut, dan kembali gagal pada 2026.

Tulus menilai alasan penundaan tersebut tidak berdasar. “Klaim bahwa cukai MBDK akan memicu PHK massal dan menurunkan daya beli sama sekali tidak berbasis kajian akademik. Ini murni narasi industri yang diakomodasi negara,” tegasnya.

Sementara itu, kebijakan paling ekstrem, menurut Tulus, adalah keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan cukai rokok pada 2026. Padahal, rokok merupakan produk dengan eksternalitas negatif paling besar terhadap kesehatan publik.

“Dalam isu tembakau, sektor kesehatan selalu digadaikan. Menkeu (Menteri Keuangan) hanya mendengar industri rokok dan pihak-pihak pro industri, sementara suara ahli kesehatan dan masyarakat sipil diabaikan,” katanya.

Tulus mengingatkan bahwa secara normatif, kebijakan tersebut melanggar Undang-Undang Cukai yang mewajibkan kenaikan cukai rokok setiap tahun. “Tidak naiknya cukai pada 2025 dan 2026 adalah pelanggaran mandat undang-undang. Ini preseden buruk,” ujar Tulus.

Tak heran, Indonesia kini mencatat indeks interferensi industri rokok tertinggi di dunia, dengan skor di atas 84.

Adapun dampak kebijakan cukai yang stagnan sangat serius. Konsumsi rokok dan MBDK dipastikan meningkat, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Saat ini, prevalensi perokok anak telah mencapai 7,4 persen, sementara pada rumah tangga miskin, belanja rokok menjadi pengeluaran terbesar kedua setelah beras.

Konsekuensinya adalah lonjakan penyakit tidak menular seperti jantung koroner, stroke, kanker, dan diabetes melitus. Pada 2023 saja, biaya penanganan penyakit jantung koroner menembus Rp 20 triliun. “Pasien jantung sekarang makin muda, bahkan usia 45 tahun. Ini alarm keras,” kata Tulus.

Tulus menilai, jika kebijakan ini terus dibiarkan, Indonesia sedang menggali kuburnya sendiri. “Bonus demografi akan berubah menjadi bencana demografi. Anak-anak muda kita justru memasuki usia produktif dengan penyakit degeneratif. Ini jauh lebih mengerikan daripada bencana ekologis,” ujarnya.

Ia menegaskan, kebijakan cukai sejatinya bukan instrumen pendapatan negara semata, melainkan alat pengendali konsumsi demi kesehatan publik.

“Menkeu seharusnya bersinergi dengan kebijakan kesehatan, bukan dengan industri. Menkes pun seharusnya menjadi panglima kesehatan publik, bukan duduk sejajar dengan pelaku industri,” tutupnya.

Di tengah puing bencana alam dan kebijakan yang tumpul, 2025 menjadi cermin buram arah pembangunan Indonesia. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah negara mampu melindungi kesehatan rakyatnya, melainkan apakah masih ada nyali politik untuk melawan oligarki demi masa depan generasi bangsa? (her)

Tags: Bencana SumateraFKBIKesehatan PublikRefleksi 2025tulus abadi

Berita Terkait.

Massa Gelar ‘Aksi Bela Al-Qur’an’ di Gedung OT Cengkareng, Ratusan Personel Dikerahkan
Nasional

Rp50 Triliun Dihemat, Prabowo Ungkap Wajah Baru BUMN

Jumat, 14 Agustus 2026 - 18:31
Puan
Nasional

Ketua MPR Klaim Program MBG Kunci Menuju Generasi Emas

Jumat, 14 Agustus 2026 - 15:27
Mendagri
Nasional

Mendagri Dorong Kepemimpinan Teknokratik Kepala Daerah untuk Tingkatkan Pendapatan Daerah

Jumat, 14 Agustus 2026 - 14:46
Rini-Widyantini
Nasional

Menteri PANRB: Perlindungan Sosial Bukan Sekadar Bantuan, tapi Wujud Negara Hadir

Jumat, 14 Agustus 2026 - 13:05
Surat-Suara
Nasional

Pilkada Tanpa Wakil, Akankah Politik ‘Bagi-Bagi Peran’ Berakhir?

Jumat, 14 Agustus 2026 - 11:43
Rini
Nasional

Tak Perlu Bolak-balik Urus Dokumen, Akta Kelahiran Kini Bisa Terbit Otomatis

Jumat, 14 Agustus 2026 - 11:03

BERITA POPULER

  • ertiga

    Suzuki Ertiga Hybrid Cruise, MPV Nyaman dengan Teknologi Hybrid di GIIAS 2026

    1166 shares
    Share 466 Tweet 292
  • Perayaan 1 Tahun dengan Berbagai Penghargaan, Mitsubishi Destinator Tampil Mentereng di GIIAS 2026

    1000 shares
    Share 400 Tweet 250
  • iCAR V23 dan V27 Hadir di GIIAS 2026, Bawa Pilihan Baru Kendaraan Elektrifikasi

    972 shares
    Share 389 Tweet 243
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    3709 shares
    Share 1484 Tweet 927
  • Restrukturisasi Subholding Upstream, SP PDSI Minta PDSI Diperkuat Jadi National Drilling Champion

    864 shares
    Share 346 Tweet 216
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.