• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Perang Dagang Amerika dan Tiongkok, Analis: Indonesia Harus Tentukan Masa Depan Dunia

Redaksi Editor Redaksi
Sabtu, 5 Juli 2025 - 10:55
in Ekonomi
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dokumen INDOPOSCO)

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dokumen INDOPOSCO)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Lebih dari lima dekade dunia berada dalam hegemoni Amerika Serikat, penguasa dolar, pengendali energi, dan pengatur lalu lintas perdagangan global. Namun sejak 2017, setelah 35 tahun membangun kekuatan ekonominya secara sistematis dan tenang, Tiongkok mulai menyaingi dominasi tersebut.

Pascapandemi Covid-19, negara Tiongkok melesat dalam teknologi, kesehatan, militer, hingga sistem pembayaran global melalui konsolidasi BRICS. “Perang dagang Amerika dan Tiongkok bukan sekadar persaingan ekonomi, tapi benturan dua sistem besar,” ujar Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care (HAC) dan Haidar Alwi Institute (HAI), Sabtu (5/7/2025).

BacaJuga:

J&T Express Dorong Mahasiswa Naik Kelas Jadi Entrepreneur lewat Program Nasional

Momentum Ramadan-Lebaran, Paxel Catat Lonjakan Pengiriman Barang Food dan Nonfood

Pengelola Fiskal Perlu Kuasai AI hingga Baca Tren Global, Ini Alasannya

Dan, menurutnya, Indonesia harus memilih, menjadi penonton perang dagang Amerika Tiongkok, atau ikut menentukan arah masa depan dunia. Strategi pelemahan dolar oleh Amerika bertujuan menghidupkan kembali industrinya.

“Ini membuka celah bagi negara-negara seperti Indonesia untuk membangun fondasi baru, asal ada keberanian untuk berubah,” katanya.

Ia mengatakan, Amerika saat ini mencoba menghidupkan kembali ekonomi militernya melalui ketegangan geopolitik. Salah satunya adalah serangan terhadap Iran pada masa Trump. Langkah itu, menurutnya, sempat diduga akan menjadi alat untuk mendorong permintaan senjata, sebagaimana pola lama Amerika di berbagai konflik.

“Hasilnya justru sebaliknya, waktu menyerang Iran yang muncul bukan legitimasi, tapi kecaman. Bukan hanya dari dunia internasional, tapi juga dari dalam negeri mereka sendiri,” jelasnya.

“Dunia tak lagi menyambut perang dengan dukungan. Maka strategi ekonomi menjadi pilihan, bukan lagi menguasai dunia dengan senjata, tetapi dengan harga yang lebih kompetitif,” sambungnya.

Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa pelemahan dolar bukanlah tanda kelemahan Amerika, melainkan strategi sadar untuk menghidupkan ekspor dan industri dalam negeri. Ketika produk Amerika tak bisa bersaing dengan barang-barang murah dari Tiongkok, maka yang paling logis adalah membuat dolar lebih murah.

“Dolar bisa turun ke Rp14.000 bahkan Rp13.000. Ini bukan karena rupiah menguat, tapi karena Amerika sedang membalik strategi mereka,” ungkapnya.

“Bagi Indonesia, pelemahan dolar memberi dampak ganda. Produk AS akan lebih murah dan pasar lokal bisa terganggu, jika tak ada perlindungan yang bijak dan adil,” imbuhnya.

Namun, lanjut dia, jika dikelola dengan cerdas, momentum tersebut juga bisa membuka ruang fiskal dan memperkuat sektor produksi dalam negeri. Di tengah ketidakpastian global, menurutnya, Indonesia justru menyimpan kekuatan besar yang belum digarap maksimal.

Seperti produk domestik bruto (PDB) mendekati Rp24.000 triliun, populasi 280 juta jiwa, mayoritas usia produktif, cadangan nikel terbesar dunia, ditambah emas, batu bara, migas, dan panas bumi, posisi strategis di jalur dagang dan maritim internasional dan bonus demografi terbesar di Asia Tenggara.

“Tapi semua itu tidak berarti tanpa kedaulatan dalam pengelolaannya. Kita harus berhenti menjual mentah dan membeli mahal,” katanya.

“Indonesia perlu mengelola sendiri kekayaan alamnya, dan membangun industrinya dengan percaya diri,” sambungnya.

Dia mengusulkan kepada pemerintah lima langkah strategis untuk memperkuat pondasi ekonomi nasional. Mulai, dana pembangunan berbasis komoditas strategis, pasar inovasi nasional berbasis karya anak bangsa, koperasi digital untuk kepemilikan tambang dan hilir industri.

Dan, rupiah digital lokal untuk transaksi domestik dan pembaruan kurikulum ekonomi di sekolah menengah. “Menjelang usia 80 tahun Indonesia tidak kekurangan sumber daya dan tidak kekurangan kecerdasan. Hanya butuh keberanian untuk bertindak, dan kemauan kolektif untuk berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya. (nas)

Tags: Amerika SerikatAnalisHaidar AlwiPerang DagangPerang Dagang China-ASTiongkok

Berita Terkait.

J&T
Ekonomi

J&T Express Dorong Mahasiswa Naik Kelas Jadi Entrepreneur lewat Program Nasional

Rabu, 29 April 2026 - 12:04
Paxel
Ekonomi

Momentum Ramadan-Lebaran, Paxel Catat Lonjakan Pengiriman Barang Food dan Nonfood

Rabu, 29 April 2026 - 11:03
Revisi UU Parpol Dinilai Mendesak, DPR Soroti Pendanaan dan Modernisasi Partai
Ekonomi

Pengelola Fiskal Perlu Kuasai AI hingga Baca Tren Global, Ini Alasannya

Rabu, 29 April 2026 - 02:27
Revisi UU Parpol Dinilai Mendesak, DPR Soroti Pendanaan dan Modernisasi Partai
Ekonomi

Sabut Kelapa Minahasa Selatan Tembus Pasar China, Limbah Jadi Devisa

Rabu, 29 April 2026 - 01:23
Bukan Sekedar Ibadah, Kurban Dompet Dhuafa Bagian dari ‘Green Jobs’ dan Ekonomi Hijau
Ekonomi

Bukan Sekedar Ibadah, Kurban Dompet Dhuafa Bagian dari ‘Green Jobs’ dan Ekonomi Hijau

Rabu, 29 April 2026 - 00:11
Lapangan Mako Ditargetkan 120 MMSCFD, Pertamina Drilling Turun dengan Jack Up Rig
Ekonomi

Lapangan Mako Ditargetkan 120 MMSCFD, Pertamina Drilling Turun dengan Jack Up Rig

Selasa, 28 April 2026 - 23:15

BERITA POPULER

  • Breaking News: KRL Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi, Jalur Lumpuh Total

    Breaking News: KRL Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi, Jalur Lumpuh Total

    2541 shares
    Share 1016 Tweet 635
  • Klaim Bukan Terpidana, Menteri LH Jumhur Hidayat Sebut Status Hukumnya ‘Ngambang’

    992 shares
    Share 397 Tweet 248
  • Gempa Bumi Dangkal Guncang Semarang Pagi Ini, Begini Catatan BMKG

    905 shares
    Share 362 Tweet 226
  • Ragam Busana Adat Daerah Warnai Kemeriahan Peringatan Hari Kartini 2026 di Permatahati

    938 shares
    Share 375 Tweet 235
  • Begini Penampakan Gerbong Perempuan KRL Usai Ditabrak KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur

    780 shares
    Share 312 Tweet 195
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.