• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Perang Dagang Amerika dan Tiongkok, Analis: Indonesia Harus Tentukan Masa Depan Dunia

Redaksi Editor Redaksi
Sabtu, 5 Juli 2025 - 10:55
in Ekonomi
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dokumen INDOPOSCO)

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dokumen INDOPOSCO)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Lebih dari lima dekade dunia berada dalam hegemoni Amerika Serikat, penguasa dolar, pengendali energi, dan pengatur lalu lintas perdagangan global. Namun sejak 2017, setelah 35 tahun membangun kekuatan ekonominya secara sistematis dan tenang, Tiongkok mulai menyaingi dominasi tersebut.

Pascapandemi Covid-19, negara Tiongkok melesat dalam teknologi, kesehatan, militer, hingga sistem pembayaran global melalui konsolidasi BRICS. “Perang dagang Amerika dan Tiongkok bukan sekadar persaingan ekonomi, tapi benturan dua sistem besar,” ujar Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care (HAC) dan Haidar Alwi Institute (HAI), Sabtu (5/7/2025).

BacaJuga:

Pekan Depan Emas Masih Berpotensi Bergejolak, Ini Kisaran Harga yang Diprediksi

Di Bawah Kepemimpinan Gubernur Andra Soni, Bank Banten Tumbuh Melesat

Kementerian UMKM Hadirkan Peluang Baru bagi Pengusaha Kopi Terdampak Bencana di ICX 2026

Dan, menurutnya, Indonesia harus memilih, menjadi penonton perang dagang Amerika Tiongkok, atau ikut menentukan arah masa depan dunia. Strategi pelemahan dolar oleh Amerika bertujuan menghidupkan kembali industrinya.

“Ini membuka celah bagi negara-negara seperti Indonesia untuk membangun fondasi baru, asal ada keberanian untuk berubah,” katanya.

Ia mengatakan, Amerika saat ini mencoba menghidupkan kembali ekonomi militernya melalui ketegangan geopolitik. Salah satunya adalah serangan terhadap Iran pada masa Trump. Langkah itu, menurutnya, sempat diduga akan menjadi alat untuk mendorong permintaan senjata, sebagaimana pola lama Amerika di berbagai konflik.

“Hasilnya justru sebaliknya, waktu menyerang Iran yang muncul bukan legitimasi, tapi kecaman. Bukan hanya dari dunia internasional, tapi juga dari dalam negeri mereka sendiri,” jelasnya.

“Dunia tak lagi menyambut perang dengan dukungan. Maka strategi ekonomi menjadi pilihan, bukan lagi menguasai dunia dengan senjata, tetapi dengan harga yang lebih kompetitif,” sambungnya.

Lebih jauh ia mengungkapkan bahwa pelemahan dolar bukanlah tanda kelemahan Amerika, melainkan strategi sadar untuk menghidupkan ekspor dan industri dalam negeri. Ketika produk Amerika tak bisa bersaing dengan barang-barang murah dari Tiongkok, maka yang paling logis adalah membuat dolar lebih murah.

“Dolar bisa turun ke Rp14.000 bahkan Rp13.000. Ini bukan karena rupiah menguat, tapi karena Amerika sedang membalik strategi mereka,” ungkapnya.

“Bagi Indonesia, pelemahan dolar memberi dampak ganda. Produk AS akan lebih murah dan pasar lokal bisa terganggu, jika tak ada perlindungan yang bijak dan adil,” imbuhnya.

Namun, lanjut dia, jika dikelola dengan cerdas, momentum tersebut juga bisa membuka ruang fiskal dan memperkuat sektor produksi dalam negeri. Di tengah ketidakpastian global, menurutnya, Indonesia justru menyimpan kekuatan besar yang belum digarap maksimal.

Seperti produk domestik bruto (PDB) mendekati Rp24.000 triliun, populasi 280 juta jiwa, mayoritas usia produktif, cadangan nikel terbesar dunia, ditambah emas, batu bara, migas, dan panas bumi, posisi strategis di jalur dagang dan maritim internasional dan bonus demografi terbesar di Asia Tenggara.

“Tapi semua itu tidak berarti tanpa kedaulatan dalam pengelolaannya. Kita harus berhenti menjual mentah dan membeli mahal,” katanya.

“Indonesia perlu mengelola sendiri kekayaan alamnya, dan membangun industrinya dengan percaya diri,” sambungnya.

Dia mengusulkan kepada pemerintah lima langkah strategis untuk memperkuat pondasi ekonomi nasional. Mulai, dana pembangunan berbasis komoditas strategis, pasar inovasi nasional berbasis karya anak bangsa, koperasi digital untuk kepemilikan tambang dan hilir industri.

Dan, rupiah digital lokal untuk transaksi domestik dan pembaruan kurikulum ekonomi di sekolah menengah. “Menjelang usia 80 tahun Indonesia tidak kekurangan sumber daya dan tidak kekurangan kecerdasan. Hanya butuh keberanian untuk bertindak, dan kemauan kolektif untuk berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya. (nas)

Tags: Amerika SerikatAnalisHaidar AlwiPerang DagangPerang Dagang China-ASTiongkok

Berita Terkait.

Pekan Depan Emas Masih Berpotensi Bergejolak, Ini Kisaran Harga yang Diprediksi
Ekonomi

Pekan Depan Emas Masih Berpotensi Bergejolak, Ini Kisaran Harga yang Diprediksi

Minggu, 2 Agustus 2026 - 18:32
Andra-Soni
Ekonomi

Di Bawah Kepemimpinan Gubernur Andra Soni, Bank Banten Tumbuh Melesat

Minggu, 2 Agustus 2026 - 11:23
UMKM
Ekonomi

Kementerian UMKM Hadirkan Peluang Baru bagi Pengusaha Kopi Terdampak Bencana di ICX 2026

Minggu, 2 Agustus 2026 - 09:41
X-Force
Ekonomi

Mitsubishi New Xforce: Bahan Bakar Efisien, Tampilan Modern dan Menawan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 08:40
Fronx
Ekonomi

Tak Sekadar Tampil Sporty, Suzuki Fronx SGX Hybrid Kuro Kini Punya Fitur DVR

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 23:25
Vinfast
Ekonomi

VinFast Perkuat Ekosistem Kendaraan Listrik, Hadirkan Beragam Inovasi di GIIAS 2026

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 22:34

BERITA POPULER

  • Jasad

    Kasus Pembunuhan Satpam Waduk Jatiluhur, DPR Tekankan Keadilan dan Perlindungan Keluarga Korban

    2089 shares
    Share 836 Tweet 522
  • Industri Sawit Nasional Miliki Fondasi Kuat dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    2214 shares
    Share 886 Tweet 554
  • Blak-blakan Soal Keputusannya Gabung Persib, Mariano Peralta Tegaskan Hal Ini

    1075 shares
    Share 430 Tweet 269
  • Persebaya Juara Grup B, Persija Dampingi ke Semifinal Piala Presiden

    900 shares
    Share 360 Tweet 225
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    3182 shares
    Share 1273 Tweet 796
Champions
Olahraga

Pimpin Revolusi Spanyol Rebut Piala Dunia Kedua, Rodri: Kami Mampu Kendalikan Semua Laga

Editor Nelly Marinda Situmorang
Selasa, 21 Juli 2026 - 12:24

INDOPOSCO.ID - Spanyol tidak hanya mengangkat Trofi Piala Dunia 2026. La Roja juga mengirim pesan tegas kepada dunia bahwa dominasi...

SelengkapnyaDetails
Messi

Messi Usai Final Piala Dunia 2026: Butuh Waktu Sembuhkan Luka Ini

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:13
Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Tak Hanya Juara, 3 Penghargaan Individu Piala Dunia 2026 Turut Diborong Spanyol

Senin, 20 Juli 2026 - 11:39
Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Scaloni Legawa Argentina Tumbang di Final: Kami Kalah dengan Kepala Tegak

Senin, 20 Juli 2026 - 11:00
Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Scaloni Isyaratkan Mundur Usai Argentina Gagal Pertahankan Gelar Piala Dunia

Senin, 20 Juli 2026 - 09:32
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.