INDOPOSCO.ID – Rektor Universitas Pancasila, Prof. Dr. Ir. Marsudi W. Kisworo mengatakan, di kampus yang dipimpinnya telah mengintegrasikan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam berbagai aspek pembelajaran, mulai dari analisis data mahasiswa hingga pengembangan kurikulum yang lebih responsif terhadap kebutuhan pasar kerja.
“Kecerdasan buatan bukan hanya teknologi masa depan, tetapi juga merupakan alat yang sangat penting dalam pendidikan modern. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan, kita dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih adaptif dan personal bagi setiap siswa,” kata Prof. Marsudi, dalam workshop nasional bertajuk “Kelas Masa Depan: Pendekatan dan Praktik untuk Kelas Internasional dan Kecerdasan Buatan”, yang diselenggarakan oleh Yayasan Ummusshabri di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, Jumat (5/7/2024).
Menurutnya, kolaborasi antara institusi pendidikan seperti yang dilakukan oleh Yayasan Ummusshabri dan Universitas Pancasila adalah kunci untuk mengakselerasi inovasi dalam pendidikan. Dengan bekerja sama, dapat saling belajar dan tumbuh lebih cepat dalam menghadapi tantangan era digital.
“Sebagai universitas yang telah terakreditasi Unggul, Universitas Pancasila berkomitmen untuk mendukung pengembangan kelas AI di Yayasan Ummusshabri,” ungkapnya.
Prof. Marsudi percaya bahwa pemahaman mendalam tentang AI akan membantu para pendidik untuk lebih efektif dalam mengajar dan mempersiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan.
Kemudian, Prof. Marsudi turut menunjukkan rasa kagumnya terhadap Pondok Pesantren Ummushabri Kendari yang memiliki ribuan santri ini, penerapan konsep modern, dan bertaraf internasional dengan mengadopsi kurikulum Cambridge dan terdapat kelas khusus digital.
“Ke depan, direncanakan akan ada kelas khusus AI dan dimulai sejak Taman Kanak-kanak (TK) atau Diniyah sampai tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Aliyah. Luar biasa visinya ini sebuah pesantren lho pemirsa bukan sekolah umum,” pujinya.
“Semoga Pesantren Ummushabri ini menjadi pelopor sekolah kecerdasan artifisial di Indonesia,” harapnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Ummusshabri Supriyanto menekankan pentingnya adaptasi dalam dunia pendidikan.
“Di lembaga pendidikan, pasti ada kontestasi dalam berbagai bidang termasuk mutu, citra, kelembagaan, dan pembiayaan,” katanya, saat membuka workshop.
Menurut Supriyanto, penyelenggara pendidikan yang mampu beradaptasi dengan perubahan akan berfokus untuk memenangkan kontestasi tersebut. Penyakit yang paling akut dalam kontestasi adalah ketika guru merasa nyaman dan tidak ingin beranjak dari zona nyaman.
“Guru yang selalu ingin berkontestasi akan berusaha berada di zona baru untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,” pungkasnya. (ibs)











