INDOPOSCO.ID – Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani Aher menyatakan, bahwa kemunculan kasus Hantavirus menjadi pengingat bahwa Indonesia perlu memperkuat kesiapsiagaan menghadapi penyakit infeksi emerging dan zoonosis yang berpotensi muncul akibat perubahan lingkungan dan mobilitas global.
“Kita tidak boleh menunggu kasus membesar baru bertindak. Prinsip kesehatan masyarakat adalah mencegah sebelum menjadi wabah,” kata Netty dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (9/5/2026).
Ia meminta Kementerian Kesehatan memperkuat sistem surveillance epidemiologi dan kesiapan fasilitas kesehatan, terutama di daerah yang sudah teridentifikasi memiliki kasus Hantavirus.
“Tenaga kesehatan perlu mendapatkan penguatan kapasitas agar mampu mengenali gejala secara cepat, melakukan diagnosis dini, serta mencegah keterlambatan penanganan,” ujar Netty.
Ia juga mengingatkan pentingnya komunikasi risiko yang tepat kepada masyarakat agar publik tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan.
“Edukasi harus masif. Masyarakat perlu memahami bahwa penularan dominan berasal dari tikus dan lingkungan yang terkontaminasi, sehingga langkah-langkah menjaga kebersihan rumah dan lingkungan menjadi sangat penting,” tuturnya.
Masyarakat diminta rutin bersih-bersih rumah, memakai alat pelindung, dan segera ke dokter jika mengalami gejala pascakontak dengan area terkontaminasi.
Selain itu, ia mendorong penguatan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah daerah, untuk pengendalian populasi tikus, perbaikan sanitasi, dan pengelolaan sampah.
Sembilan provinsi di Indonesia telah mendeteksi kasus Hantavirus dengan konsentrasi tertinggi di Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Rinciannya adalah: Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta masing-masing enam kasus; Jawa Barat lima kasus; serta Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur masing-masing satu kasus.(dan)











