Ekonomi

Kolaborasi KemenKopUKM Indonesia-Korsel, Ciptakan Startup Inovatif Sekaligus Pendukung SDGs

“Kami juga membuka pintu seluas-luasnya untuk menerima masukan maupun sumbangsih ide dan inisiatif kerja sama dari berbagai pihak,” katan Teten.

Deputi Bidang Kewirausahaan KemenKopUKM Siti Azizah menambahkan, KemenKopUKM memberikan apresiasi wirausaha muda, berbasis inovasi, berkelanjutan yang merupakan hasil dua kompetisi bertaraf internasional hasil kerja sama KemenKopUKM, Kementerian UMKM dan Startup Republik Korea.

Kompetisi pertama adalah Ecothon Indonesia, dengan tema Sustainable Consumption and Production (SCP), yang merupakan kompetisi bisnis model dengan level wirausaha. Yaitu calon wirausaha (masih berbentuk ide bisnis/ prototype) hingga wirausaha pemula (sudah diterima pasar dan butuh diakselerasi lebih lanjut).

Kompetisi kedua adalah Korea-ASEAN Business Model Competition (BMC), dengan tema Digital Economy for SDGs, yang merupakan kompetisi bagi wirausaha pemula dan mapan yang telah siap produk/jasa nya, diterima pasar dan usahanya telah berbadan hukum/ terdaftar, namun butuh akselerasi lebih lanjut untuk menjadi usaha kecil dan menengah (omzet di atas Rp 2-50 miliar).

“Lesson learned dari kedua kegiatan ini selain kompetisi startup, terjadi proses pembelajaran, networking dan mentoring dari mentor skala internasional,” kata Azizah.

Menurut Azizah, para pemenang telah melewati serangkaian tahapan, terkurasi dari 140 tim eco-entreprenuer untuk kegiatan Ecothon Indonesia, dan 173 startup ASEAN dan Korea untuk kegiatan Business Model Competition.

Tiga dari empat pemenang Business Model Competition merupakan startup berasal dari Indonesia, dan satu pemenang startup berasal dari Korea Selatan. Hal ini menunjukkan, potensial talenta muda Indonesia yang usahanya berbasis Research dan Development (R&D), Digital, Industri 4.0, Bisnis Hijau (Green Business) yang ramah lingkungan, serta berbasis energi terbarukan serta mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).

KemenKopUKM turut mengundang berbagai stakeholder seperti Nexus Indonesia, Astra Internasional, Yayasan Dharma Bhakti Astra, Fundex, Investree, dan ANGIN. “Sesuai arahan MenKopUKM agar tercapai dampak nyata bagi perekonomian nasional, diperlukan peran stakeholder untuk mengawal akselerasi para pemenang hingga menjadi future SMEs dengan menciptakan ekosistem keterhubungan rantai nilai hulu hilir dalam skala ekonomi,” ujar Azizah.

Pihaknya berharap, agar kolaborasi ini terus berlanjut. Semoga inisiasi baik ini bisa memberikan dampak yang positif bagi perkembangan startup dan perekonomian nasional serta hubungan Indonesia-Korea.

Di waktu yang sama Sekretaris Jenderal ASEM-Eco-Innovation Center (ASEIC) Cho Choong-lai secara daring menyampaikan pilot project kerjasama antara kedua pemerintah yaitu KemenKopUKM bersama Kementerian UKM dan Startup Korea memiliki Green Business Center (GBC).

“Perusahaan rintisan pemenang penghargaan telah menunjukkan bahwa mereka membawa dunia kita menuju pemulihan dengan menggunakan metode digital yang sesuai dengan slogan SDGs ‘No one leave behind’,” ucapnya.

Cho Choong-lai berharap kesempatan ini dijadikan sebagai batu loncatan untuk menjadi Unicorn, perusahaan Decacorn di masa depan. (adv)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button