• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Indonesia Stop Impor Beras, Harga Dunia Ikut Terkoreksi

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Senin, 4 Mei 2026 - 14:44
in Ekonomi
Beras

Ilustrasi - Pekerja menuangkan beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (9/5/2025). Foto: Dokumen INDOPOSCO

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Indonesia menorehkan babak baru dalam sektor pangan dengan keberhasilan menghentikan impor beras sepanjang 2025. Langkah ini tak hanya memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional, tetapi juga memberi efek kejut pada pasar global.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman, menilai peningkatan produksi domestik serta penguatan cadangan pemerintah telah mengubah peta perdagangan beras dunia.

BacaJuga:

Kolaborasi Lintas Disiplin Jadi Standar Baru, LIXIL Dorong Desain Berbasis Riset

Rupiah Tersungkur ke Rp17.394, Dihantam Sentimen Global dan Kontraksi Manufaktur

One SIKA Dikawal Serius, PDC Bidik Zero Accident lewat Standarisasi Kerja

“Dulu saat Indonesia masih impor beras hingga sekitar 7 juta ton, harga pangan dunia bisa mencapai sekitar USD660 per ton. Ketika kita berhasil memperkuat produksi dalam negeri dan menekan impor secara signifikan, harga dunia ikut turun, bahkan sempat berada di kisaran USD340 per ton,” ujar Amran, Senin (4/5/2026).

Data Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2025 mencatat produksi beras mencapai 34,69 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi nasional sebesar 31,16 juta ton. Surplus ini membuat Indonesia sepenuhnya mandiri tanpa perlu impor sepanjang tahun.

Efeknya terasa hingga level global. Data Food and Agriculture Organization (FAO) atau menunjukkan indeks harga beras internasional (FARPI) terus menurun sepanjang 2025, bahkan menyentuh angka 96,9 pada November, terendah dalam empat tahun terakhir.

Tak hanya produksi, cadangan beras pemerintah juga mencetak rekor baru. Saat ini stok mencapai sekitar 5,12 juta ton, melampaui capaian sebelumnya yang hanya sekitar 2,6 juta ton pada 1984.

“Stok beras kita saat ini mencapai sekitar 5,12 juta ton. Ini tertinggi selama Republik Indonesia berdiri. Sebelumnya, pada tahun 1984 stok pernah berada di angka sekitar 2,6 juta ton,” jelas Amran.

Capaian ini turut mengangkat posisi Indonesia di panggung internasional. Pengakuan global kembali diraih, melanjutkan jejak keberhasilan sektor pangan nasional di masa lalu.

“Dulu Presiden Soeharto pernah mendapatkan penghargaan dari FAO atas keberhasilan sektor pangan. Sekarang, di era Presiden Prabowo, dalam waktu satu tahun Indonesia kembali mendapatkan dua penghargaan dari FAO, yakni penghargaan tertinggi bidang ketahanan pangan dan penghargaan atas kontribusi memperkuat sistem pangan global,” terang pria yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian itu.

Laporan Rice Outlook April 2026 dari USDA (Kementerian Pertanian-nya Amerika Serikat) juga mencatat Indonesia sebagai negara dengan penurunan impor beras paling drastis di antara sekitar 80 negara, dengan penurunan mencapai 3,8 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

“Ketahanan pangan yang kita bangun hari ini bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga memberi dampak bagi dunia,” kata Amran.

Menurut Amran, capaian ini tak sekadar soal angka produksi, melainkan juga dampak nyata bagi petani dan kontribusi Indonesia terhadap stabilitas pangan dunia.

“Keberhasilan sektor pangan tidak hanya diukur dari produksi yang meningkat, tetapi juga dari kesejahteraan petani yang semakin baik serta kontribusi Indonesia terhadap stabilitas pangan dunia,” tutupnya.(her)

Tags: BapanasHarga BerasImpor Beraspangan

Berita Terkait.

OASE
Ekonomi

Kolaborasi Lintas Disiplin Jadi Standar Baru, LIXIL Dorong Desain Berbasis Riset

Senin, 4 Mei 2026 - 17:07
Rupiah
Ekonomi

Rupiah Tersungkur ke Rp17.394, Dihantam Sentimen Global dan Kontraksi Manufaktur

Senin, 4 Mei 2026 - 15:45
Pelatihan
Ekonomi

One SIKA Dikawal Serius, PDC Bidik Zero Accident lewat Standarisasi Kerja

Senin, 4 Mei 2026 - 14:04
bc2
Ekonomi

Produsen Lem dari Ngawi Resmi Jadi Kawasan Berikat

Senin, 4 Mei 2026 - 12:32
fuso
Ekonomi

Kolaborasi Mitsubishi Fuso-Takari Dorong Truk Listrik yang Lebih Fleksibel

Senin, 4 Mei 2026 - 12:02
Pegadaian Dukung Kartini Race 2026 sebagai Tonggak Baru Motorsport Indonesia
Ekonomi

Pegadaian Dukung Kartini Race 2026 sebagai Tonggak Baru Motorsport Indonesia

Minggu, 3 Mei 2026 - 22:33

BERITA POPULER

  • Buruh Sebut MBG Tidak Bermanfaat saat May Day, Prabowo Auto Respons Begini

    Buruh Sebut MBG Tidak Bermanfaat saat May Day, Prabowo Auto Respons Begini

    3661 shares
    Share 1464 Tweet 915
  • PSIM vs Persita: Ambisi Revans Laskar Mataram Digoyang Kendala Internal

    1597 shares
    Share 639 Tweet 399
  • Buruh dan Petani Pilih Aksi di DPR Ketimbang Monas demi Suarakan Kesejahteraan

    1293 shares
    Share 517 Tweet 323
  • Breaking News: KRL Tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi, Jalur Lumpuh Total

    2570 shares
    Share 1028 Tweet 643
  • 22 Tahun UU PPRT Baru Disahkan, DPR RI: Ini Kemenangan Pekerja Perempuan

    1031 shares
    Share 412 Tweet 258
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.