INDOPOSCO.ID – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan di tengah meningkatnya tensi geopolitik global dan tekanan dari harga komoditas energi. Pada penutupan perdagangan Senin (4/5/2026), rupiah tercatat melemah 57 poin ke level Rp17.394 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah kali ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama konflik yang memanas di kawasan Eropa Timur dan Timur Tengah.
“Pelemahan rupiah ini masih didominasi faktor eksternal, khususnya dari geopolitik. Di Eropa Timur, Ukraina terus menyerang wilayah kilang minyak Rusia menggunakan drone jarak jauh, yang menyebabkan kebakaran besar dan mendorong kenaikan harga minyak dunia,” ujar Ibrahim melalui gawai, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, meskipun Rusia mengklaim telah menghancurkan puluhan drone Ukraina, intensitas serangan yang meningkat tetap berdampak pada terganggunya produksi energi. Kondisi ini kemudian memicu lonjakan harga minyak global.
Selain itu, ketegangan di Timur Tengah juga turut memperburuk sentimen pasar. Ibrahim menyoroti dinamika terbaru terkait potensi konflik di sekitar Selat Hormuz.
“Di Timur Tengah, ada dorongan dari Donald Trump untuk membebaskan Selat Hormuz dari pengaruh Iran. Namun Iran juga telah bersiap menghadapi perang panjang, sehingga ketegangan ini menjadi cukup masif,” jelasnya.
Kenaikan harga minyak mentah akibat konflik geopolitik tersebut dinilai berpotensi mendorong inflasi global. Dampaknya, bank-bank sentral dunia diperkirakan akan mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter.
“Jika harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel, kemungkinan besar bank sentral akan menaikkan suku bunga. Ini yang membuat dolar kembali menguat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” tutur Ibrahim.
Dari sisi domestik, sebenarnya terdapat sejumlah indikator positif. Neraca perdagangan Indonesia tercatat masih surplus selama 19 bulan berturut-turut, didukung kuatnya aktivitas ekspor-impor, terutama dengan Tiongkok. Namun, sentimen positif tersebut tertutupi oleh data sektor manufaktur yang menunjukkan kontraksi.
“PMI manufaktur Indonesia mengalami kontraksi di bawah 50 persen. Ini sinyal penting bagi investor, karena menunjukkan adanya perlambatan aktivitas industri, salah satunya akibat kenaikan biaya impor karena harga minyak yang tinggi,” ungkapnya.
Ibrahim menambahkan, pelemahan rupiah sepanjang hari perdagangan menunjukkan tekanan yang meningkat secara bertahap.
“Di awal perdagangan hanya melemah sekitar 8 poin, sempat mendekati 36 poin di pertengahan, dan akhirnya ditutup melemah 57 poin di level Rp17.394,” katanya.
Untuk perdagangan Selasa (5/5/2026), rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan dengan kisaran pergerakan di level Rp17.390 hingga Rp17.440 per dolar AS.
“Kami melihat potensi pelemahan masih berlanjut, dengan resistensi di Rp17.440. Bahkan dalam sepekan ke depan bisa terjadi pelemahan hingga sekitar 50 poin, tergantung perkembangan geopolitik global,” tutup Ibrahim.(her)











