INDOPOSCO.ID – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin membahas peluang penempatan tenaga kerja terampil di sektor formal saat bertemu dengan Secretary for Labour and Welfare Hong Kong Chris Sun Yuk-han, Senin (2/11/2026).
Dalam pertemuan bilateral tersebut, Mukhtarudin menegaskan pentingnya memperkuat dialog dan koordinasi antara Pemerintah Indonesia dan Hong Kong, mengingat wilayah tersebut merupakan salah satu tujuan utama penempatan Pekerja Migran.
“Kementerian P2MI menyampaikan terima kasih atas kesempatan untuk bertemu dengan Secretary for Labour and Welfare Hong Kong,” kata Mukhtarudin dalam keterangannya, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Pertemuan itu menjadi momentum yang baik memperkuat dialog dan kerja sama antara Indonesia dan Hong Kong, khususnya dalam meningkatkan pelindungan, kesejahteraan, serta perluasan peluang kerja bagi Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong.
Mukhtarudin berharap pertemuan tersebut dapat mempererat komunikasi dan koordinasi dengan Labour and Welfare Bureau, terutama dalam membahas pelindungan Pekerja Migran peningkatan keterampilan tenaga kerja.
“Serta pengembangan peluang kerja yang memberikan manfaat bagi kedua pihak,” ucap Mukhtarudin.
Kementerian P2MI melihat potensi penempatan tenaga kerja Indonesia di sektor perawatan lansia, perhotelan, restoran, dan berbagai bidang jasa lainnya.
Mukhtarudin mengungkapkan, penempatan Pekerja Migran di Hong Kong selama periode 2023–2026 masih sangat didominasi sektor domestik, yakni mencapai 99,92 persen atau sebanyak 332.674 layanan.
Oleh karena itu, pemerintah Indonesia menyambut baik Pilot Scheme for Foreign Domestic Carers dan mendorong pembahasan lebih lanjut mengenai persyaratan, standar kompetensi, kondisi kerja, serta mekanisme pelindungan bagi Pekerja Migran yang akan bekerja melalui skema tersebut.
Selain itu, Kementerian P2MI mendorong perluasan penempatan Pekerja Migran pada institusi perawatan lansia melalui Special Scheme to Import Care Workers for Residential Care Homes. Pemerintah Hong Kong diharapkan dapat memfasilitasi komunikasi dengan pengelola fasilitas perawatan agar tenaga kerja Indonesia memperoleh akses terhadap peluang tersebut.
“Upaya ini akan didukung penyelarasan kurikulum, pelatihan, dan standar kompetensi melalui program SMK Go Global sehingga tenaga kerja Indonesia memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja Hong Kong,” imbuh Mukhtarudin.(dan)


















