INDOPOSCO.ID – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi menginstruksikan pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Papua Selatan.
Pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, edukasi masyarakat, serta optimalisasi personel dan peralatan pemadaman menjadi langkah prioritas untuk mencegah kebakaran kembali meluas.
Arahan tersebut disampaikan Kristomei saat memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla dan kekeringan di Provinsi Papua Selatan, yang berlangsung di Kantor Bupati Merauke, Jumat (30/10/2026).
Dalam rapat tersebut, Kristomei secara khusus menyoroti Kabupaten Merauke yang menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar terhadap kejadian karhutla di provinsi tersebut, terutama pada klaster Jago Merah-Tanah Miring.
Berdasarkan analisis data geospasial menggunakan citra satelit Sentinel-2 dan MODIS, Kabupaten Merauke menyumbang 90 persen titik panas, 96 persen luas kebakaran, dan 97 persen area kebakaran yang belum padam di Provinsi Papua Selatan.
Sementara itu, berdasarkan data per 30 Oktober 2026, Papua Selatan berada pada peringkat kedelapan dari 38 provinsi untuk jumlah titik panas, tetapi menempati peringkat kedua berdasarkan luas kebakaran.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah klaster Jago Merah-Tanah Miring yang mencakup empat wilayah, yakni Jago Merah, Tanah Miring, Animha, dan Semangga. Dari total 502 hektare area kebakaran yang belum padam di Papua Selatan per 29 Oktober, sekitar 250 hektare atau hampir separuhnya berada di klaster tersebut.
“Klaster ini juga menyumbang 36 persen titik panas provinsi berdasarkan data per 30 Oktober,” kata Kristomei dalam keterangannya, Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa proporsi area kebakaran yang belum padam di klaster Jago Merah-Tanah Miring relatif lebih besar dibandingkan kontribusinya terhadap jumlah titik panas.
Kondisi itu mengindikasikan bahwa kebakaran di wilayah tersebut cenderung lebih sulit dipadamkan sehingga memerlukan perhatian dan penanganan lebih intensif.
“Angka-angka ini memiliki implikasi langsung. Hampir seluruh persoalan karhutla di Papua Selatan terjadi di Kabupaten Merauke,” ujat Kristomei.
“Karena itu, ketika kita berbicara tentang pengendalian karhutla di tingkat provinsi, maka penguatan penanganan di Kabupaten Merauke menjadi hal yang sangat penting,” tambahnya.(dan)


















