INDOPOSCO.ID – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) atau PGE makin memperkokoh kinerja bisnisnya di tengah akselerasi pengembangan energi bersih nasional. Hingga kuartal III-2026, perusahaan panas bumi ini berhasil membukukan laba bersih USD126,62 juta, tumbuh 21,45 persen dibandingkan USD104,26 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan laba tersebut ditopang pertumbuhan pendapatan sebesar 10,46 persen menjadi USD352,20 juta, dari sebelumnya USD318,86 juta. Peningkatan produksi listrik panas bumi, optimalisasi aset, serta pengendalian biaya menjadi faktor penting yang menjaga momentum pertumbuhan Perseroan.
Direktur Keuangan PGE Fransetya Hasudungan Hutabarat mengatakan, pertumbuhan kinerja keuangan Perseroan menunjukkan konsistensi PGE dalam menjalankan strategi bisnis yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.
“Pertumbuhan laba bersih yang melampaui pertumbuhan pendapatan ini mencerminkan semakin kuatnya profitabilitas PGE. Kinerja ini didukung oleh peningkatan produksi, optimalisasi pendapatan, serta disiplin pengelolaan biaya yang terus kami jalankan. Fundamental keuangan yang solid menjadi modal penting bagi Perseroan untuk menjaga kesinambungan bisnis sekaligus mendukung pengembangan kapasitas panas bumi ke depan,” ujar Fransetya dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).
Penguatan kinerja juga terlihat pada laba usaha yang meningkat 17,44 persen menjadi USD186,26 juta dari USD158,60 juta. Margin laba bersih pun naik dari 32,70 persen menjadi 35,95 persen, menandakan semakin optimalnya kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan.
Dari sisi neraca, total liabilitas PGE berhasil ditekan menjadi USD955,55 juta, turun dibandingkan USD988,89 juta pada akhir 2025. Perseroan juga memiliki kas dan setara kas sebesar USD713,68 juta yang menjadi penopang fleksibilitas keuangan untuk operasional dan ekspansi bisnis.
Di balik pertumbuhan finansial tersebut, sektor operasional menjadi salah satu motor utama pencapaian PGE. Sepanjang Januari-September 2026, produksi listrik dari wilayah kerja yang dioperasikan sendiri (own operation) mencapai 4.114 gigawatt hour (GWh). Angka ini tumbuh 9,79 persen secara tahunan, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, sekaligus mencapai 108,22 persen dari target 3.801 GWh.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menjelaskan, pencapaian tersebut merupakan hasil penerapan operational excellence secara konsisten melalui pengelolaan reservoir, pemeliharaan pembangkit, dan optimalisasi produksi.
“Rekor produksi ini merupakan hasil disiplin operasional dalam menjaga kesiapan pasokan uap, keandalan pembangkit, dan efektivitas pemeliharaan. Kami terus mengoptimalkan kinerja setiap aset panas bumi melalui pengelolaan reservoir yang disiplin dan pemeliharaan pembangkit yang terencana. Inilah komitmen operational excellence PGE untuk menghadirkan pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan,” katanya.
Kualitas operasional tersebut turut tercermin dari Equivalent Availability Factor (EAF) yang mencapai 98,51 persen, jauh melampaui target 92,20 persen. Sementara Equivalent Forced Outage Rate (EFOR) hanya sebesar 0,21 persen. Kedua indikator ini memperlihatkan tingginya kesiapan pembangkit sekaligus keberhasilan perusahaan menekan gangguan operasional.
Pencapaian PGE juga memiliki makna tersendiri pada 2026, ketika perjalanan panas bumi Indonesia genap berusia 100 tahun. Sejarahnya bermula dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat, pada 1926. Setelah satu abad, panas bumi semakin diperhitungkan sebagai sumber energi strategis dalam memperkuat ketahanan energi dan mempercepat transisi menuju energi bersih.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menegaskan momentum ini sebagai pengingat sekaligus penyemangat bagi Perseroan untuk terus mengembangkan potensi panas bumi Indonesia dan memperluas manfaatnya bagi masyarakat.
“Seratus tahun perjalanan panas bumi Indonesia merupakan warisan sekaligus tanggung jawab bagi kami untuk terus mengembangkan potensi energi bersih nasional. Komitmen PGE bukan hanya menjaga keandalan operasional dan pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan panas bumi terus memberikan manfaat bagi masyarakat, mendukung ketahanan energi, dan menciptakan nilai bagi generasi mendatang,” jelasnya.
Sejalan dengan ambisi tersebut, PGE terus mendorong percepatan sejumlah proyek strategis, antara lain Lumut Balai Unit 3 dan 4, Hululais Unit 1 dan 2, serta Lahendong Unit 7 dan 8.
Melalui pengembangan proyek-proyek tersebut, Perseroan membidik kapasitas terpasang sebesar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034. Target ini sekaligus menegaskan ambisi PGE untuk memperbesar kontribusi panas bumi dalam bauran energi nasional, sekaligus menciptakan pertumbuhan bisnis yang memberikan manfaat bagi masyarakat.(her)


















