• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

Mendorong Lompatan Bank Syariah: dari Payroll Pemerintah, Pembiayaan Emas hingga Mimpi Rumah Gen Z

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:32
in Ekonomi
Nasabah melakukan transaksi tarik tunai tanpa kartu (cardless) melalui aplikasi mobile banking BSya di ATM BCA, Kantor Cabang BCA Syariah, Jakarta/Dokumen BCA Syariah

Nasabah melakukan transaksi tarik tunai tanpa kartu (cardless) melalui aplikasi mobile banking BSya di ATM BCA, Kantor Cabang BCA Syariah, Jakarta/Dokumen BCA Syariah

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Besarnya potensi ekonomi syariah Indonesia belum sepenuhnya tercermin dalam pangsa pasar industri perbankan syariah. Di tengah peluang pertumbuhan yang masih terbuka lebar, penguatan industri tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan literasi dan inklusi keuangan.

Pemerintah perlu ikut membangun ekosistem transaksi syariah, sementara perbankan dituntut menghadirkan produk yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk generasi muda yang tengah membangun aset dan merencanakan kepemilikan rumah.

BacaJuga:

Dukung Kemandirian Energi Nasional, Kemenkop dan Aspebindo Siap Perkuat Sinergi

Pertamina dan Kemenkop Dorong Minyak Jelantah Jadi Sumber Energi Terbarukan

Rig Pertamina Drilling Sukses, Sumur BNG-084 Alirkan Minyak dan Gas Alami

Payroll dan Ekosistem Keagamaan Jadi Mesin Pertumbuhan

Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah (KPKS) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Masyita, menilai salah satu langkah konkret untuk memperbesar industri perbankan syariah dapat dimulai dari sistem penggajian aparatur pemerintah. Menurutnya, kementerian dan lembaga perlu memberikan alternatif penggunaan bank syariah dalam layanan payroll, tanpa harus menghapus pilihan bank konvensional yang selama ini digunakan.

“Kalau misalnya di payroll kementerian-kementerian itu punya pilihan konvensional, seharusnya ada pilihan lain. Mereka tidak mau membuka dua opsi, jadi dua daftar penggajian. Itu saja, buka dua opsi. Silakan masyarakat memilih dengan dua opsi,” ujar Dian di Kantor Pusat BCA Syariah, Jakarta, pada Rabu (30/9/2026) lalu.

Menurut Dian, kebijakan tersebut tidak harus dilakukan melalui perubahan sistem secara menyeluruh. Pemerintah cukup membuka kesempatan bagi pegawai untuk memilih rekening bank syariah sebagai rekening penerimaan gaji. Langkah sederhana ini berpotensi memperluas basis nasabah sekaligus menciptakan aktivitas transaksi yang lebih besar bagi industri perbankan syariah.

Selain payroll, potensi pengembangan ekosistem juga terbuka di lingkungan Kementerian Agama dan sektor pendidikan Islam. Aktivitas haji, umrah, pesantren, sekolah berasrama Islam, yayasan keagamaan, hingga lembaga amil zakat memiliki keterkaitan erat dengan prinsip ekonomi syariah. Karena itu, penggunaan layanan perbankan syariah di sektor-sektor tersebut dinilai perlu lebih dioptimalkan.

“Yang kedua, Kementerian Agama dan Pendidikan yang ekosistemnya syariah. Umrah, penghajian, itu boleh menggunakan bank syariah. Pesantren saja, semua pakai syariah. Kita tidak muluk-muluk kalau berharap pesantren menggunakan bank syariah,” katanya.

Dian memperkirakan optimalisasi transaksi dari ekosistem yang secara alami memiliki karakteristik syariah dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan industri. Bahkan, jika potensi tersebut dimanfaatkan secara optimal, pangsa pasar perbankan syariah berpeluang meningkat lebih tinggi.

“Kalau ekosistem yang nature-nya syariah itu dijalankan, mungkin bisa menembus 30 sampai 40 persen,” ungkapnya.

Ia menilai penguatan ekosistem akan memberikan dampak lebih konkret dibandingkan hanya mengandalkan kampanye literasi. Sebab, peningkatan pemahaman masyarakat perlu diikuti ketersediaan akses dan penggunaan layanan keuangan syariah dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

“Pertanyaannya, mengapa lembaga-lembaga keuangan syariah dan keagamaan tidak menggunakan perbankan syariah? Apalagi kalau travel haji dan umrah serta kegiatan sosial keagamaan lainnya. Lembaga-lembaga tersebut seharusnya menggunakan layanan keuangan syariah,” tegasnya.

Meski demikian, Dian memahami bahwa penguatan ekosistem tidak dapat dilepaskan dari persaingan industri perbankan. Dibutuhkan dukungan kebijakan pemerintah agar penggunaan layanan syariah di sektor-sektor potensial dapat berkembang secara terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Pembiayaan Emas Jadi Andalan Ekspansi Bisnis

Di sisi lain, peluang pertumbuhan juga datang dari pengembangan produk pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Salah satunya pembiayaan emas yang semakin menarik di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap logam mulia sebagai instrumen investasi.

Kepala Satuan Kerja Bisnis Ritel dan Konsumer BCA Syariah, Bukit Mas Siahaan, mengatakan emas memiliki karakteristik berbeda dibandingkan produk pembiayaan konsumer lainnya, seperti rumah dan kendaraan. Selain memiliki fungsi investasi, emas relatif lebih mudah diakses melalui fasilitas pembiayaan dengan pilihan nominal yang beragam.

“Emas ini menarik, dia produk investasi. Dia berbeda dengan produk konsumen yang lain, seperti rumah dan kendaraan atau mobil,” ujar Bukit.

BCA Syariah melihat kenaikan harga emas sepanjang akhir 2025 hingga 2026 sebagai momentum untuk memperbesar penyaluran pembiayaan. Perseroan mengembangkan kemudahan akses melalui layanan digital agar produk tersebut dapat menjangkau lebih banyak nasabah.

Saat ini, pembiayaan emas dengan nominal relatif kecil, mulai dari 5 gram, 10 gram, hingga 25 gram, dapat diakses melalui aplikasi mobile banking BSya. Sementara itu, pembiayaan dengan gramasi lebih besar umumnya dilayani melalui jaringan kantor cabang.

Bukit menjelaskan, fasilitas pembiayaan memungkinkan nasabah memperoleh emas dengan jumlah lebih besar dibandingkan pembelian menggunakan dana tunai yang tersedia.

“Kalau misalnya seseorang punya uang Rp10 juta, itu hanya bisa membeli sekitar 4 gram emas. Tapi dengan pembiayaan, Rp10 juta itu bisa mendapatkan emas yang 50 gram,” jelasnya.

Namun, kemudahan memperoleh pembiayaan tetap perlu diimbangi dengan perhitungan kemampuan membayar dan pemahaman terhadap risiko perubahan harga emas. Bagi perbankan, pengembangan produk ini bukan hanya menjadi peluang bisnis, melainkan juga sarana memperluas penetrasi layanan keuangan syariah.

Kilau emas kian diminati masyarakat, terutama dari kalangan Gen Z. Foto: Istimewa

Untuk memperkuat pemasaran, BCA Syariah memanfaatkan sinergi dengan induk usaha, BCA. Salah satunya melalui BCA Expo yang diselenggarakan dua kali dalam setahun, yakni pada Februari dan Agustus. Dalam kegiatan tersebut, BCA Syariah menawarkan berbagai program promosi, hadiah, serta margin yang kompetitif.

Perseroan juga mulai memperluas pendekatan kepada nasabah BCA, khususnya segmen prioritas yang memiliki kapasitas finansial untuk mengambil pembiayaan emas dengan gramasi lebih besar. Ke depan, kanal distribusi juga akan diperluas melalui MyBCA sehingga produk pembiayaan emas tidak hanya tersedia di aplikasi BSya, tetapi dapat menjangkau nasabah melalui ekosistem digital BCA.

Di luar pembiayaan emas, BCA Syariah tetap mengembangkan produk multijasa, KPR, dan kendaraan bermotor. Setelah memperluas jaringan developer, dealer, serta rekanan bisnis sepanjang 2024 dan 2025, perseroan kini berfokus pada penetrasi pasar dan optimalisasi kemitraan yang telah terbangun.

“Menurut saya, ada tiga hal penting dalam bisnis, yaitu menjaga hubungan, proses pembiayaan, serta layanan dan servis,” pungkas Bukit.

Gen Z Tertarik Emas, Akses KPR Masih Menjadi Tantangan

Menariknya, peluang pembiayaan emas juga memperlihatkan perubahan preferensi konsumen berdasarkan kelompok usia. Data BCA Syariah menunjukkan, generasi Z memiliki porsi sekitar 19 persen pada segmen pembiayaan emas. Namun, kontribusi kelompok usia tersebut dalam pembiayaan kepemilikan rumah atau KPR baru mencapai 7,4 persen.

Pengamat ekonomi syariah, Sutan Emir Hidayat, menilai perbedaan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa generasi muda lebih memilih emas daripada properti. Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada aksesibilitas dan kemampuan finansial Gen Z dalam memenuhi persyaratan pembiayaan rumah.

“Gen Z tidak sedang memilih emas ketimbang rumah, mereka sedang memilih produk yang pintu masuknya terbuka,” kata Emir kepada INDOPOSCO melalui gawai, Jumat (30/10/2026).

Emas relatif lebih mudah dijangkau karena dapat dimulai dari nominal kecil, memiliki fleksibilitas waktu, serta didukung layanan digital. Sebaliknya, KPR menuntut komitmen keuangan jangka panjang, umumnya 15 hingga 20 tahun, disertai persiapan uang muka, penilaian kelayakan, appraisal, dokumen penghasilan, serta persyaratan administratif dan legalitas.

“Sebaliknya, pengajuan KPR membutuhkan komitmen keuangan jangka panjang, umumnya selama 15 hingga 20 tahun. Calon debitur juga harus menyiapkan uang muka, memenuhi penilaian kelayakan pembiayaan, menjalani proses appraisal, mengurus dokumen penghasilan, hingga menyelesaikan berbagai persyaratan administratif dan legalitas,” jelas Emir.

Persoalan keterjangkauan harga rumah dan stabilitas pendapatan turut menjadi tantangan. Rekam jejak pinjaman konsumtif, termasuk penggunaan layanan pinjaman daring, juga dapat memengaruhi penilaian kelayakan pembiayaan.

“Rekam jejak pinjaman konsumtif, termasuk penggunaan layanan pinjaman daring, juga dapat menjadi faktor yang diperhatikan dalam penilaian kelayakan kredit. Karena itu, kebiasaan mengelola utang sejak awal menjadi aspek penting bagi generasi muda yang ingin memiliki rumah,” ujar pria yang menjabat sebagai Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) itu.

Tantangan tersebut tercermin dari kondisi pasar perumahan nasional. Hingga akhir kuartal III 2026, penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) mencapai 160.070 unit atau 45,73 persen dari target 350.000 unit. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026 menunjukkan backlog kepemilikan rumah turun dari 9,64 juta menjadi 9,29 juta unit. Backlog kelayakan rumah juga menurun dari 18,77 juta menjadi 18,01 juta unit.

“Meski menunjukkan perbaikan, angka tersebut menggambarkan bahwa kebutuhan terhadap hunian yang layak dan terjangkau masih menjadi pekerjaan besar. Bagi generasi muda, persoalannya bukan hanya menemukan rumah yang sesuai keinginan, tetapi juga memperoleh rumah dengan harga dan skema pembiayaan yang sejalan dengan kemampuan finansial,” terang Emir.

Di tengah tantangan tersebut, emas tetap memiliki daya tarik sebagai instrumen pembentukan aset. Dalam sepuluh tahun terakhir, harganya meningkat lebih dari 200 persen. Perkembangan ekosistem usaha bullion juga memperkuat infrastruktur dan pilihan layanan terkait emas.

“Kondisi tersebut membuat emas semakin menarik bagi anak muda yang ingin mulai membangun aset tanpa harus langsung mengambil komitmen pembiayaan jangka panjang sebesar KPR,” ungkapnya.

Meski demikian, Emir mengingatkan bahwa emas bukan instrumen tanpa risiko. Harga dapat mengalami koreksi, sedangkan kewajiban angsuran pembiayaan tetap harus dipenuhi sesuai perjanjian.

Karena itu, perbankan syariah perlu menjadikan pembiayaan emas sebagai pintu masuk untuk membangun hubungan jangka panjang dengan nasabah muda. Produk investasi tersebut dapat diintegrasikan dengan perencanaan keuangan lain, termasuk persiapan uang muka rumah.

“Emas sebaiknya diposisikan sebagai entry point yang terhubung ke tujuan berikutnya, misalnya skema tabungan atau cicil emas yang secara eksplisit diarahkan sebagai akumulasi uang muka rumah, lengkap dengan simulasi target,” tutur pria yang juga menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) itu.

Strategi tersebut dapat dilengkapi simulasi akumulasi dana dan target kepemilikan rumah berdasarkan kemampuan finansial nasabah. Dengan demikian, hubungan antara bank dan nasabah tidak berhenti pada satu produk, tetapi berkembang mengikuti perubahan kebutuhan dan peningkatan pendapatan.

Perumahan subsidi sebagai salah satu alternatif hunian terjangkau melalui fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) bagi masyarakat, khususnya generasi muda. Foto: Dokumen BP Tapera

Emir juga mendorong perbankan syariah mengembangkan pembiayaan berjenjang dengan metode penilaian kelayakan yang lebih adaptif. Hal ini penting mengingat sebagian generasi muda bekerja sebagai pekerja lepas, pelaku usaha mikro, dan pekerja informal dengan pendapatan yang tidak selalu tetap setiap bulan. Penilaian berbasis arus kas dan rekam jejak keuangan dapat menjadi alternatif untuk memperluas akses, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Selain itu, optimalisasi FLPP syariah dinilai dapat membantu memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan terbatas. Sebagai gambaran, Bank Syariah Nasional (BSN) disebut telah menguasai pangsa pasar KPR subsidi syariah hingga 84 persen.

“Pengalaman tersebut dapat menjadi pijakan bagi industri untuk memperluas jangkauan pembiayaan perumahan bagi generasi muda, khususnya mereka yang baru membangun stabilitas pendapatan,” tambahnya.

Besarnya potensi ekonomi syariah pada akhirnya membutuhkan pendekatan yang saling melengkapi. Pemerintah dapat memperkuat ekosistem transaksi melalui payroll dan lembaga keagamaan, sedangkan perbankan perlu memperluas inovasi produk serta akses pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik nasabah.

Bagi generasi muda, pembiayaan emas dapat menjadi langkah awal membangun aset sebelum beralih pada kebutuhan finansial yang lebih besar, seperti kepemilikan rumah. Sementara bagi industri, tantangannya adalah memastikan setiap peluang transaksi berkembang menjadi hubungan keuangan jangka panjang.

Dengan mempertemukan dukungan kebijakan, ekosistem transaksi, dan inovasi produk, pertumbuhan perbankan syariah tidak lagi hanya bertumpu pada potensi pasar. Lebih dari itu, industri memiliki peluang untuk hadir sebagai bagian nyata dari aktivitas ekonomi dan perjalanan finansial masyarakat Indonesia. (her)

Tags: Bank SyariahBCA SyariahBukit Mas SiahaanDian MasyitaGen ZKNEKSOJKPayrollPembiayaan EmasPerbankan SyariahSutan Emir Hidayat

Berita Terkait.

ferry
Ekonomi

Dukung Kemandirian Energi Nasional, Kemenkop dan Aspebindo Siap Perkuat Sinergi

Jumat, 30 Oktober 2026 - 22:02
Pertamina dan Kemenkop Dorong Minyak Jelantah Jadi Sumber Energi Terbarukan
Ekonomi

Pertamina dan Kemenkop Dorong Minyak Jelantah Jadi Sumber Energi Terbarukan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:56
minyak
Ekonomi

Rig Pertamina Drilling Sukses, Sumur BNG-084 Alirkan Minyak dan Gas Alami

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:15
Subholding Upstream Pertamina Raih 2 Penghargaan Energi Subroto 2026
Ekonomi

Pertamina Gandeng Sonatrach dan Pemerintah Algeria, Perkuat Ketahanan Energi Indonesia

Jumat, 30 Oktober 2026 - 13:05
NOBI Project dan JJ Glow Gelar LIVE Bootcamp Bandung, Perluas Ekosistem Affiliate TikTok Shop
Ekonomi

NOBI Project dan JJ Glow Gelar LIVE Bootcamp Bandung, Perluas Ekosistem Affiliate TikTok Shop

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:45
Subholding Upstream Pertamina Raih 2 Penghargaan Energi Subroto 2026
Ekonomi

Subholding Upstream Pertamina Raih 2 Penghargaan Energi Subroto 2026

Jumat, 30 Oktober 2026 - 12:01

OLAHRAGA

Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting
Olahraga

Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

Editor Nelly Marinda Situmorang
Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:13

INDOPOSCO.ID – Persaingan Super League 2026/2027 semakin memanas. Memasuki pekan kedelapan, sejumlah duel menarik siap tersaji pada 30 Oktober hingga...

SelengkapnyaDetails
Wamendagri Tegaskan Kepercayaan Masyarakat Jadi Modal Utama Kepemimpinan Kepala Daerah

Krisis Tata Kelola Futsal, Pemilik Klub Minta PSSI Turun Tangan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:57
catur

Borong 17 Medali, Percasi DKI Jakarta Kembali Rajai Kejurnas Catur 2026

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:43
timnas

Laga Indonesia Vs Yordania Terancam Batal, Erick Thohir Beber Kekhawatiran PSSI

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:22
liverpool

Liverpool vs Chelsea: Iraola Isyaratkan Rotasi, The Reds Siap Tempur

Rabu, 28 Oktober 2026 - 17:27

BERITA POPULER

  • Karhutla Masih Marak, BNPB Ingatkan Pelaku Usaha Tak Bakar Lahan

    Kurangi Beban Dosen, Mendiktisaintek Bakal Tata Kembali Prodi untuk Efisiensi Kampus

    5152 shares
    Share 2061 Tweet 1288
  • Kementerian PKP Bedah Rumah Warga Tak Mampu di Kampung Ambon

    1265 shares
    Share 506 Tweet 316
  • Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

    1096 shares
    Share 438 Tweet 274
  • Lahan Perhutanan Sosial Seluas 638 Hektar di Humbang Hasundutan Resmi Dikelola Kelompok Tani

    988 shares
    Share 395 Tweet 247
  • Gempa Bumi Dangkal Getarkan Aceh Tenggara, BMKG: Kedalaman Hiposenter 3 Km

    942 shares
    Share 377 Tweet 236
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.