INDOPOSCO.ID – Pengamat politik Hendri Satrio menilai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak akan menjadi beban bagi Presiden Prabowo Subianto maupun Gibran.
Sebaliknya, putusan tersebut dinilai berpotensi menjadi alasan bagi kedua kubu untuk menempuh jalan politik berbeda pada Pemilu 2029.
Menurut Hendri, yang akrab disapa Hensa, keputusan MK justru bisa menjadi jalan keluar jika Prabowo dan kubu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) memilih mengakhiri kebersamaan politik mereka.
“Keputusan MK bukan beban bagi Prabowo ataupun Gibran/Jokowi, keputusan MK justru dapat jadi solusi, alasan, jalan keluar bila mereka ingin berpisah jalan di 2029,” ujar Hensa melalui gawai, Selasa (27/10/2026).
“Alasannya simpel saja. Anda enggak mau lindungi saya, saya juga punya jalan sendiri. Ya sudah, kita pisah saja,” lanjutnya.
MK membacakan putusan pada Selasa (6/10/2026). Majelis menyatakan permohonan tidak dapat diterima sehingga Gibran tidak dapat didiskualifikasi. Dalam pertimbangannya, MK menyebut tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa Gibran memiliki ijazah setara SMA serta menilai KPU lalai memeriksa persyaratan administrasi pencalonan. Istana menyatakan Presiden tidak akan mengintervensi putusan tersebut.
Hensa melihat indikasi perbedaan arah politik Prabowo dan Jokowi dari sejumlah pernyataan serta langkah politik mantan presiden tersebut. Mulai dari wacana dua periode Prabowo-Gibran hingga pernyataan bahwa Pemilu 2029 masih lama, menurutnya, menunjukkan dinamika yang patut dicermati.
“Kan awalnya kata Pak Jokowi, Prabowo-Gibran dua periode. Kemudian Pak Jokowi bilang 2029 masih lama. Kemudian Pak Jokowi juga mengumumkan dia anggota PSI, memanaskan mesin atau memanaskan aura kompetisi di Bandung, di kandangnya Pak Prabowo. Kemudian berbagai peristiwa politik terjadi, yang bisa terbaca sangat mungkin Prabowo dan Gibran/Jokowi tidak sejalan lagi atau akan menempuh jalan sendiri-sendiri di 2029,” jelas pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI itu.
Bagi Hensa, keputusan Jokowi bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) juga dapat dibaca sebagai sinyal dimulainya persiapan politik menuju kontestasi mendatang. Ia menilai partai-partai lain akan memperhitungkan kesiapan Jokowi, termasuk jaringan pendukung dan sumber daya politiknya.
“Semua partai politik yang memahami seorang Jokowi pasti memahami, oh, dia memanaskan mesin. Logistiknya sudah siap, akar rumput juga sudah bersatu. Jangan-jangan memang Pak Jokowi yang logistiknya paling siap hari ini,” tutur Hensa.
Sementara itu, Gibran dinilai terus membangun popularitas melalui kegiatan blusukan dan menyapa masyarakat. Hensa menyebut pola tersebut sebagai cara untuk menjaga eksistensi politik sekaligus mengikuti langkah sang ayah.
“Mas Gibran jalan-jalan, salaman-salaman. Mas Gibran itu kalau salaman, blusukan, keuntungannya dua. Yang pertama, popularitas dan elektabilitasnya naik. Yang kedua, dia dapat pahala karena nurut bapaknya, karena bapaknya jalan-jalan,” terangnya.
Di sisi lain, Hensa menilai Prabowo juga tengah menyusun strategi politiknya sendiri. Menurut dia, dinamika yang berlangsung belum memastikan apakah kedua tokoh tersebut akan kembali beriringan atau benar-benar berpisah menjelang 2029.
“Makanya saya jauh-jauh hari mengatakan Jokowi dan Prabowo sedang membangun jalan politiknya yang baru. Apakah nanti di ujungnya mereka akan bertemu lagi, bersama atau tidak bersama Gibran/Jokowi, yang jelas mereka berdua sedang membangun jalan politiknya sendiri,” tambahnya. (her)

















