INDOPOSCO.ID – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong mahasiswa untuk mengasah kemampuan berpikir analitis dan solutif dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa. Para calon pemimpin masa depan diminta tidak hanya mampu membaca kondisi Indonesia, tetapi juga berani mengambil peran untuk memberikan solusi berbasis data.
Menurut dia, mahasiswa sebagai calon pemimpin harus memiliki kemampuan membaca persoalan secara objektif sebelum menentukan langkah yang akan diambil.
Brian memaparkan sejumlah indikator ekonomi Indonesia untuk menggambarkan tantangan yang masih harus dihadapi. Dia menyebut Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia meningkat dari sekitar USD 1,02 triliun pada 2017 menjadi USD 1,48 triliun pada 2024.
Pertumbuhan tersebut, menurutnya, menunjukkan perekonomian Indonesia tumbuh hampir 35 persen dalam kurun tujuh tahun. Namun, menurut Brian, capaian pertumbuhan ekonomi tidak bisa dilihat hanya dari satu indikator.
Berdasarkan data Pusat Data Bank Dunia 2025 yang dipaparkannya, jumlah penduduk miskin dan rentan miskin pada periode tersebut justru meningkat dari 46,1 juta menjadi 49,5 juta orang. Sementara jumlah penduduk kelas menengah turun dari 22,1 juta menjadi 17,4 juta orang.
Kondisi tersebut, kata Brian, menjadi gambaran bahwa pertumbuhan ekonomi belum otomatis dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat. “Ke manapun Anda pergi, harus ada angka dan data yang dapat menjelaskan. Pertumbuhan ekonomi kita bagus, tapi kemudian angka kemiskinan naik dan penduduk kelas menengah menurun,” kata Brian.
Dia juga menyoroti peningkatan kekayaan kelompok masyarakat terkaya. Kekayaan 10 orang terkaya di Indonesia disebut meningkat hingga 153 persen.
“Ternyata, pertumbuhan ekonomi ini hanya dirasakan oleh sangat sedikit masyarakat. Indonesia secara alami kaya raya, namun sejak dulu kita masih belum mampu mengelola kekayaan itu,” lanjutnya.
Karena itu, Brian meminta mahasiswa membangun argumentasi berdasarkan data ketika membaca persoalan maupun menyampaikan gagasan. Kemampuan tersebut dinilai penting lantaran mahasiswa nantinya akan memasuki berbagai sektor dan memiliki ruang kontribusi yang beragam.
“Dengan memahami persoalan secara berbasis data, mahasiswa dapat menentukan masalah yang membutuhkan intervensi sekaligus memilih kontribusi yang paling relevan untuk diberikan,” terangnya.
Brian juga menyoroti peran perguruan tinggi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah. Menurut dia, kampus memiliki posisi strategis dalam menghubungkan riset dengan kebutuhan pembangunan melalui hilirisasi.
Dia menyebut terdapat data yang menunjukkan sekitar 80 persen dari 50 klaster pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia berbasis di sekitar perguruan tinggi.
“Kami terus mendorong penguatan hubungan antara perguruan tinggi dengan dunia industri. Tujuannya agar hasil riset tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi memiliki jalur untuk dikembangkan dan dimanfaatkan,” terangnya.
Ia mengatakan, sejumlah klaster center of excellence perguruan tinggi di berbagai wilayah Indonesia juga terus didorong untuk memperkuat keterhubungan antara perguruan tinggi, riset, inovasi, dan kebutuhan pembangunan daerah.
Menurut Brian, pembangunan ekonomi dan perubahan sebuah negara merupakan proses panjang. Karena itu, generasi muda perlu memiliki ketekunan untuk terus belajar dan berkarya serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. (nas)

















