INDOPOSCO.ID – Bandung menjadi titik yang mendapat perhatian pengamat politik Hendri Satrio ketika membaca langkah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menunjukkan posisinya sebagai bagian dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Bagi Hensa, sapaan Hendri Satrio, Jawa Barat bukan sekadar lokasi. Wilayah tersebut memiliki makna politik karena dikenal sebagai salah satu basis dukungan Presiden Prabowo Subianto.
Karena itu, keputusan Jokowi menyampaikan langkah politiknya dari Bandung dinilai memiliki pesan tersendiri kepada kekuasaan yang saat ini berada di tangan Prabowo.
“Kenapa harus di Bandung pengumumannya? Kenapa harus di Jawa Barat? Jadi dia ingin berkomunikasi ke penguasa hari ini, Pak Prabowo, bahwa saya ada di kandang Anda nih. Ingat lho, Jawa Barat itu kandangnya Pak Prabowo,” kata Hensa dalam tayangan di kanal YouTube Hendri Satrio Official, dikutip pada Rabu (30/9/2026).
Hensa bahkan membandingkan pilihan Bandung dengan Solo atau Jawa Tengah. Menurutnya, lokasi pengumuman dapat memberikan konteks berbeda terhadap pesan politik yang ingin disampaikan Jokowi.
“Kalau dia mau berhadapan dengan PDI Perjuangan atau Megawati, dia umumkan di Jawa Tengah. Tapi kenapa dia enggak umumkan di Solo? Kalau dia umumin di Solo, pasti dampaknya enggak besar. Tapi ini Jawa Barat, kandangnya Prabowo,” ucap Hensa.
Dari pilihan lokasi tersebut, Hensa kemudian melihat langkah Jokowi bersama PSI sebagai bagian dari proses membangun jalur politik sendiri. Ia belum menyebutnya sebagai tanda Jokowi berpisah jalan dengan Prabowo.
“Apakah kemudian ini tandanya dia pisah jalan dengan Prabowo? Saya tidak ingin mengatakan pisah jalan, tapi dia sedang membangun jalannya sendiri, jalannya yang baru,” ujar founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu.
Menurut Hensa, momentum Jokowi menunjukkan dirinya sebagai bagian dari PSI pada September 2026 juga berlangsung ketika isu parliamentary threshold tengah menjadi pembicaraan.
Ia menilai kondisi tersebut dapat membuat Jokowi merasa semakin terisolasi secara politik.
“Kenapa Pak Jokowi kemudian mengumumkan September 2026 ini bahwa dia menjadi bagian dari PSI? Ini karena dia merasa terisolasi. Menurut catatan saya, dia merasa terisolasi, ditinggalkan,” jelas Hensa.
Kehadiran Jokowi di PSI kemudian dibaca sebagai upaya menunjukkan bahwa ia masih memiliki kendaraan politik sendiri.
“Dia merasa ingin dilihat sebagai kekuatan baru yang tidak bisa dianggap remeh. Oke, lu bisa mengisolasi gue, tidak ikutan bicarakan threshold, tapi jangan meremehkan saya. Saya punya kendaraan, dan ini bisa jadi kekuatan baru,” ujarnya.
Namun, Hensa menilai kehadiran Jokowi belum otomatis membuat elektoral PSI melonjak. Ada kalkulasi politik lain yang menurutnya tetap harus diperhitungkan.
“PSI pasti akan diuntungkan dengan itu, tapi apakah kemudian PSI bisa melonjak dengan hadirnya Jokowi? Ya, kita mesti ada hitung-hitungan politik lain,” tutur Hensa.
Hensa juga mengaitkan situasi tersebut dengan berbagai isu yang menyentuh Jokowi maupun Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, kondisi itu dapat membuat Jokowi mempertanyakan sikap kekuatan politik di sekitarnya.
“Kok bergulir ya kasus ini? Kok enggak ditahan ya? Kok double attack ya? ‘Ke saya juga, ke anak saya juga. Kok didiamkan ya? Kok gue enggak dibelain ya?’ Dia diserang, merasa diserang menurut saya,” ungkapnya.
Meski demikian, Hensa menegaskan pandangannya bahwa hubungan Jokowi dan Prabowo belum dapat disebut memasuki fase permusuhan.
“Lantas saya pernah bilang, belum saatnya Jokowi dan Prabowo bermusuhan. Tapi dengan adanya isu threshold kemarin, kemudian MK tentang Gibran, saya rasa dia mulai menyadari,” kata Hensa.
Pada akhirnya, pilihan Bandung menjadi salah satu bagian penting dari pembacaan Hensa terhadap manuver tersebut. Ia melihat Jokowi ingin menunjukkan bahwa PSI memiliki kekuatan politik yang tidak bisa begitu saja diabaikan.
“Dengan Pak Jokowi mengumumkan dia menjadi anggota PSI, maka dia mengumumkan bahwa jangan remehkan kekuatan baru ini, dan ini adalah kekuatan baru yang siap menandingi kekuatan-kekuatan politik yang sudah ada,” tutupnya. (her)















