INDOPOSCO.ID – Hubungan Indonesia dan Malaysia tidak hanya dibangun melalui jalur diplomasi formal antarpemerintah. Persahabatan antarmanusia, hubungan budaya, dan nilai spiritual dinilai turut menjadi jembatan penting dalam menjaga kedekatan dua negara serumpun.
Hal itu tergambar dalam kunjungan Wakil Perdana Menteri (PM) Malaysia, Dato’ Seri Dr. Ahmad Zahid Hamidi, ke Menara 165, Jakarta, di sela agenda kenegaraannya di Indonesia.
Bagi Pendiri ESQ Corp dan Universitas Ary Ginanjar, Prof. Dr. (H.C.) Ary Ginanjar Agustian, pertemuan tersebut bukan sekadar reuni dengan sahabat yang telah dikenalnya selama lebih dari dua dekade. Pertemuan itu juga menjadi refleksi mengenai pentingnya membangun hubungan Indonesia-Malaysia melalui nilai budaya, spiritualitas, dan kemanusiaan.
Ary menyebut pendekatan tersebut sebagai “diplomasi spiritual”, yakni membangun jembatan persaudaraan melalui hubungan hati dan nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui kepentingan politik.
“Persahabatan kita tidak melihat jabatan, tetapi persahabatan hati. Dalam keadaan suka maupun duka, hubungan itu tetap terjaga,” ujar Ary dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Hubungan persahabatan Ary Ginanjar dengan Ahmad Zahid telah terjalin sejak tokoh Malaysia tersebut menjabat sebagai Menteri Agama Malaysia. Keduanya memiliki perhatian terhadap pembangunan manusia yang tidak hanya bertumpu pada kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual.
Persahabatan itu kemudian terus terjaga seiring perjalanan Ahmad Zahid menduduki sejumlah posisi penting di pemerintahan Malaysia, mulai dari Menteri Pertahanan dan Menteri Dalam Negeri hingga dipercaya menjadi Wakil Perdana Menteri Malaysia.
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Ary Ginanjar terjadi ketika hubungan Indonesia dan Malaysia sempat memanas terkait persoalan Ambalat.
Saat itu, Ahmad Zahid yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan Malaysia tetap berkunjung ke Menara 165. Menurut Ary Ginanjar, pertemuan tersebut bahkan mempertemukan sejumlah tokoh pertahanan dari kedua negara dalam suasana dialog.
Bagi Ary Ginanjar, kehadiran Ahmad Zahid pada situasi tersebut menunjukkan bahwa hubungan personal dapat menjadi ruang komunikasi ketika hubungan formal kedua negara tengah menghadapi tantangan.
“Beliau menyebutnya diplomasi spiritual. Hubungan Indonesia-Malaysia tidak cukup didekatkan melalui politik saja, tetapi juga melalui hubungan kultural dan spiritual,” tuturnya.
Menurut dia, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa hubungan antarmanusia dapat membuka ruang dialog dan membangun kepercayaan, termasuk ketika kedua negara menghadapi situasi yang sensitif.
Dalam konteks hubungan masyarakat kedua negara, Ary Ginanjar juga menyoroti keberadaan sekitar 2,5 juta alumni ESQ di Indonesia dan Malaysia.
Menurutnya, jaringan tersebut bukan hanya menjadi komunitas pendidikan dan pengembangan diri, tetapi juga dapat berperan sebagai jembatan kultural dan spiritual yang memperkuat hubungan masyarakat kedua negara.
“Alumni ESQ menjadi jembatan kultural dan spiritual antara Indonesia dan Malaysia. Ketika rakyat Indonesia datang ke Malaysia, mereka disambut oleh alumni ESQ. Begitu pula ketika rakyat Malaysia datang ke sini, Menara 165 menjadi rumah persaudaraan,” katanya.
Dalam pertemuan dengan Ahmad Zahid, Ary Ginanjar juga membahas sejumlah peluang kerja sama yang berkaitan dengan pembangunan manusia sekaligus penguatan hubungan bilateral dan regional.
Salah satu yang dibahas adalah penguatan hubungan budaya dan spiritual sebagai fondasi persaudaraan Indonesia-Malaysia.
Selain itu, keduanya membicarakan pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui program Technical and Vocational Education and Training (TVET) Malaysia. Dalam pembahasan tersebut, turut muncul ketertarikan terhadap penerapan TalentDNA Assessment, yang telah digunakan dalam Program Sekolah Rakyat di Indonesia.
Peluang kerja sama lainnya berkaitan dengan penguatan ekosistem halal regional, termasuk gagasan pembentukan ASEAN Halal Council. Gagasan tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi Asia Tenggara dalam perkembangan industri halal global.
Ary Ginanjar mengatakan ESQ siap mengambil bagian dalam penguatan ekosistem tersebut melalui pengembangan ESQ Halal Hub.
Di tengah pembahasan mengenai kerja sama bilateral dan regional, Ary Ginanjar menilai pembangunan manusia tetap menjadi fondasi yang perlu diperkuat.
Menurut dia, perkembangan kecerdasan buatan (AI), teknologi, dan perubahan ekonomi global yang berlangsung cepat harus diimbangi dengan pembangunan karakter dan nilai spiritual.
“Hari ini teknologi berkembang sangat cepat. Justru karena itu, nilai spiritual harus menjadi fondasi untuk membangun manusia seutuhnya, menggabungkan IQ, EQ, dan SQ,” tuturnya.
Ary Ginanjar menilai hubungan Indonesia dan Malaysia tidak hanya dapat diperkuat melalui perdagangan dan kerja sama politik. Hubungan antarmasyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga kedekatan dan persaudaraan kedua negara.
“Kepentingan spiritual lebih menyatukan daripada kepentingan intelektual, dagang, ataupun politik. Jembatan hati seperti inilah yang perlu terus dijaga untuk merawat kedamaian Asia Tenggara,” pungkasnya.(rmn)















