INDOPOSCO.ID – Pembangunan kualitas bangsa harus dimulai dari fondasi terkecil, yakni lingkungan keluarga. Berbeda dengan pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan rusak yang bisa terlihat instan, pembinaan keluarga memerlukan proses bertahap dan berkelanjutan.
Prinsip tersebut ditekankan oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN), Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd. Menurutnya, pembenahan suatu negara wajib diawali dengan memperkuat ketahanan di tingkat keluarga.
”Mengurusi masalah keluarga tidak bisa seperti memperbaiki jalan rusak yang bisa dilihat langsung hasilnya, tapi secara bertahap. Jika ingin memperbaiki negara, harus dimulai dari keluarga,” ujar Wihaji.
Guna menjawab berbagai dinamika dan tantangan tersebut, Kemendukbangga/BKKBN menggulirkan lima program prioritas. Kelima program itu meliputi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Lansia Berdaya (SIDAYA), serta sarana digital Super Apps Keluarga Indonesia.
Pada program GENTING, Kemendukbangga/BKKBN memfokuskan intervensi pada Keluarga Berisiko Stunting (KRS) demi mengoptimalkan bonus demografi. Hingga 3 September 2026, tercatat sebanyak 159.587 Orang Tua Asuh (OTA) telah terlibat dengan perkiraan nilai bantuan mencapai Rp72 miliar, yang berhasil menjangkau 1.053.046 KRS melalui edukasi, pemenuhan nutrisi, penyediaan air bersih, pembenahan rumah layak huni, hingga saniatasi sehat.
Di sektor pengasuhan anak bagi orang tua bekerja, hadir program TAMASYA dengan empat layanan pendampingan di Taman Penitipan Anak (TPA). Program ini mencakup pemantauan tumbuh kembang anak, peningkatan kapasitas pengasuh, hingga fasilitasi rujukan, yang kini telah menjangkau 3.449 TPA di seluruh Indonesia.
Sementara itu, untuk menekan angka fatherless yang mencapai 25,8 persen berdasarkan Pendataan Keluarga (PK) 2025, program GATI diluncurkan untuk memperkuat peran aktif ayah dalam pengasuhan. Melalui menu KOMPAK TENAN, DEKAT di Kampung KB, dan SEBAYA, program ini sukses memberikan edukasi kepada 99,85 persen dari target 2,7 juta ayah dan calon ayah di tahun 2026, di mana menu DEKAT menjadi penyumbang terbesar dengan menjangkau 1,2 juta jiwa.
Perhatian terhadap lansia ditunjukkan melalui program SIDAYA demi mewujudkan lansia yang mandiri, sehat, dan produktif. Per 14 September 2026, sebanyak 793.527 lansia telah mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan, 60.513 lansia mengikuti Sekolah Lansia di 3.806 titik, serta 125.884 kader Bina Keluarga Lansia (BKL) mendapatkan pelatihan Perawatan Jangka Panjang (PJP).
Sebagai pelengkap, Kemendukbangga/BKKBN juga segera meluncurkan layanan digital Super Apps Keluarga Indonesia serta ekosistem SIAP Impact untuk membekali generasi muda menghadapi bonus demografi. Seluruh program strategis ini dijalankan dengan mengandalkan sinergi lintas pemangku kepentingan dan masyarakat demi menyongsong visi Indonesia Emas 2045.(ney)















