INDOPOSCO.ID – Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Sakti Wahyu Trenggono memaparkan cetak biru pengelolaan laut Indonesia berbasis Ekonomi Biru (Blue Economy) di hadapan para pemimpin global, investor, ilmuwan, dan organisasi filantropi dalam forum internasional AT ONE Impact Week 2026 di Sin,gapura, Rabu (16/9/2026).
Melalui pendekatan yang mengintegrasikan konservasi, produktivitas, dan kesejahteraan masyarakat pesisir, Trenggono menegaskan arah baru pembangunan kelautan Indonesia yang menempatkan kesehatan ekosistem laut sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dalam sesi Ocean Ecosystem, ia menjelaskan bahwa ekonomi biru merupakan arsitektur besar pengelolaan laut nasional yang dirancang untuk menjawab tantangan krisis iklim, penurunan biodiversitas, serta kebutuhan pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Indonesia memajukan agenda Ekonomi Biru melalui lima prioritas utama. Pertama, memperluas kawasan konservasi laut hingga 30 persen pada 2045. Kedua, menerapkan kebijakan penangkapan ikan terukur berbasis kuota untuk memastikan keberlanjutan dan keadilan,” ujar Menteri Trenggono.
Ia menambahkan, lima kebijakan prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut juga mencakup pengembangan budi daya perikanan berkelanjutan, penguatan pengelolaan ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengurangan sampah plastik laut.
Menurut Trenggono, perlindungan laut dan pertumbuhan ekonomi harus bergerak selaras, sehingga gotong royong global serta kemitraan lintas negara, sektor swasta, ilmuwan, dan lembaga filantropi sangat krusial untuk mengonversi komitmen menjadi aksi nyata.
Di sela forum, Trenggono menggelar serangkaian pertemuan bilateral bersama pimpinan Tsao Pao Chee (TPC) dan NO.17 Foundation guna memperluas kolaborasi global terkait blue carbon, ocean stewardship, pembiayaan inovatif, dan pengembangan proyek ekonomi pesisir berkelanjutan.(ney)















