INDOPOSCO.ID – Satu potongan video bisa dengan cepat menyita perhatian publik, tetapi belum tentu mampu menggambarkan peristiwa secara utuh. Di tengah derasnya arus informasi media sosial, masyarakat pun dituntut lebih kritis sebelum menarik kesimpulan.
Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru memahami sebuah peristiwa hanya berdasarkan video pendek atau clipper yang beredar di media sosial.
Pria yang akrab disapa Hensa itu menilai perkembangan teknologi komunikasi memang membuat informasi semakin mudah diperoleh. Namun, kemudahan tersebut harus diikuti kehati-hatian karena informasi yang muncul di layar belum tentu mewakili keseluruhan cerita.
“Di era teknologi komunikasi saat ini, di era media sosial, di era homeless media, memang harus berhati-hati dalam mencerna sebuah cerita. Cerita harus dilihat secara utuh dan jelas,” kata Hensa melalui gawai, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Hensa, persoalan muncul ketika publik hanya mengandalkan video-video pendek yang sering kali diproduksi untuk mengejar perhatian pengguna.
“Terkadang cerita yang kita dapat hanya setengah-setengah karena hanya melihat clipper-clipper yang dibuat untuk menarik perhatian,” ujarnya.
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu mengatakan fenomena tersebut berkaitan erat dengan perubahan pola konsumsi konten di media sosial. Cerita berdurasi panjang dinilai lebih berisiko membuat pengguna bosan dan membutuhkan lebih banyak kuota. Kondisi itu mendorong pembuat konten memilih format singkat yang lebih mudah menarik perhatian, menambah pengikut, hingga masuk FYP.
“Jadi biasanya cerita komunikasi yang panjang itu jarang sekali ditampilkan karena ditakutkan akan membuat bosan, kemudian makan kuota, dan lain-lain. Sehingga orang lebih tertarik, lebih suka untuk melaksanakan atau membuat clipper-clipper yang tujuannya untuk menarik perhatian, menambah follower, masuk FYP,” kata Hensa.
Masalahnya, kata dia, ada bagian penting dari sebuah peristiwa yang berpotensi lenyap ketika cerita dipotong terlalu pendek.
“Tapi yang dilupakan adalah keseluruhan konten dari cerita itu,” ungkapnya.
Hensa menilai kondisi tersebut dapat membuat masyarakat menerima informasi secara setengah-setengah dan memahami sebuah kejadian secara berbeda karena tidak mengetahui konteks yang melatarbelakanginya.
Ia kemudian mencontohkan peristiwa yang melibatkan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya saat peresmian LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai. Video yang beredar memperlihatkan Teddy meminta sejumlah pihak, termasuk jajaran direksi dan pejabat terkait, berpindah tempat.
Potongan tersebut kemudian menjadi perhatian publik karena cara Teddy memberikan arahan dinilai sebagian masyarakat kurang berkenan.
“Nah, salah satu yang terbaru contohnya adalah cerita Seskab Teddy yang ramai diperbincangkan saat peresmian LRT Kelapa Gading-Manggarai. Ia ramai disebut meminta Direktur LRT pindah tempat, namun caranya mungkin tidak enak bagi sebagian masyarakat jika dilihat videonya,” jelas Hensa.
Namun, menurut Hensa, terdapat konteks lain di balik pengaturan posisi tersebut. Berdasarkan penjelasan Teddy, penataan posisi di dalam gerbong dilakukan agar para penyandang disabilitas dapat berada lebih dekat dengan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Tujuannya, para penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dan berdialog langsung dengan Presiden maupun Gubernur Jakarta.
“Nah, kan ternyata cerita sesungguhnya ada di balik itu, bahwa ada keinginan dari aparat atau pemerintah untuk mendekatkan saudara-saudara kita penyandang disabilitas ke Presiden Prabowo dan Gubernur Pramono Anung supaya para saudara kita yang menyandang disabilitas ini bisa berkomunikasi, berdialog dengan Presiden dan Gubernur,” kata Hensa.
Konteks tersebut, lanjut Hensa, tidak terlihat jika masyarakat hanya menyaksikan potongan video yang lebih dulu viral.
“Tapi clipper yang beredar di masyarakat justru yang terlihat hanya bagaimana Seskab Teddy meminta para direksi LRT, Dirjen Kereta Api dan lainnya untuk pindah gerbong tanpa menjelaskan maksud dan tujuannya,” terangnya.
Hensa menegaskan persoalan serupa dapat terjadi dalam berbagai peristiwa lain ketika publik hanya menerima informasi dalam bentuk potongan-potongan video.
“Hal ini juga sering terjadi di beberapa case clipper-clipper tidak lengkap yang ada di masyarakat,” ucap Hensa.
Karena itu, ia mengajak masyarakat membangun kebiasaan untuk mencari informasi secara lebih lengkap sebelum menilai atau menyimpulkan sebuah peristiwa.
“Maka mari kita biasakan mendengarkan, melihat, menyaksikan cerita lengkap dibandingkan hanya melihat clipper-clipper saja,” tambahnya. (her)















