INDOPOSCO.ID – Usaha gula aren milik Susanti di kaki perbukitan Bungbulang, Garut, Jawa Barat, kini mulai dilirik pasar ekspor. Produk gula semut yang diproduksi melalui usaha bernama Gasebu (Gula Semut Bungbulang) bahkan mendapat permintaan sampel untuk penjajakan ekspor hingga 30 ton.
Perjalanan tersebut tidak diraih secara instan. Susanti telah menggeluti pengolahan gula aren sejak 2015. Namun, saat itu produknya masih dipasarkan tanpa merek sehingga sulit dikenal lebih luas.
Keterbatasan modal, promosi, hingga pencatatan usaha yang masih sederhana menjadi kendala Susanti dalam mengembangkan Gasebu. Sejumlah peluang ekspor yang sempat terbuka melalui proses kurasi pun harus tertunda karena kapasitas produksi dan sistem pemasaran belum siap memenuhi permintaan dalam jumlah besar.
“Usaha bermula saat mendapatkan modal dari PNM Mekar dan digunakan untuk membeli hasil produksi para petani aren di sekitar Bungbulang,” kata Susanti dalam keterangan, Minggu (6/9/2026).
Tak hanya membeli hasil produksi, ia juga mengajak para petani bergabung dalam kelompok usaha binaannya. Dengan pola tersebut, manfaat permodalan turut dirasakan petani, sementara pengelolaan cicilan kelompok dilakukan secara kolektif.
Dikatakan dia, dukungan PNM tidak berhenti pada akses permodalan. Ia juga memperoleh pendampingan untuk meningkatkan kualitas kemasan, membangun merek, hingga memperluas strategi pemasaran melalui kanal digital.
Produk Gasebu kemudian didorong untuk masuk ke penjualan daring dan live shopping. Bahkan, kisah gula aren asal Bungbulang tersebut sempat viral di media sosial TikTok dan membuat produknya semakin dikenal masyarakat.
“Ini benar-benar suatu wadah yang sangat luar biasa. Saya pun merasa diapresiasi banget,” ujar Susanti.
Dampak dari semakin dikenalnya Gasebu mulai dirasakan. Salah satu eksportir asal Cianjur, Mahkota Bumi, mendatangi langsung rumah produksi Susanti dan meminta sampel produk untuk penjajakan ekspor sebanyak 30 ton.
Bagi Susanti, permintaan tersebut menjadi peluang besar untuk membawa Gasebu menembus pasar yang sebelumnya sulit dijangkau secara mandiri.
“Dikenalnya Gasebu secara lebih luas membuka peluang yang sebelumnya sulit saya jangkau sendiri,” ungkapnya.
Kini sekitar 130 orang terlibat dalam usaha tersebut. Mereka terdiri dari 113 petani aren dan 17 pekerja di rumah produksi. Tak hanya berorientasi bisnis, sebagian keuntungan Gasebu juga disisihkan untuk kegiatan sosial di lingkungan sekitar.
Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Kindaris mengatakan, pengembangan usaha ultra mikro membutuhkan pendekatan yang berbeda. Menurut dia, pemberian modal saja tidak cukup untuk membuat pelaku usaha naik kelas.
“Untuk membuat usaha ultra mikro berkembang bukan hanya butuh modal uang tetapi juga dibukakan jalan untuk bisa naik kelas. Dibutuhkan dukungan yang lebih besar agar literasi dan kualitas usaha meningkat dibandingkan dengan skala usaha lainnya,” jelasnya. (nas)















