• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Megapolitan

Melanjutkan Amanah Nahdliyyin Betawi: dari Muktamar 1933 Batavia Menuju Jakarta Kota Global

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Kamis, 10 September 2026 - 09:40
in Megapolitan
lutfi
Share on FacebookShare on Twitter

oleh: KH. Lutfi Hakim, Wakil Ketua PWNU DKI Jakarta dan Imam Besar FBR

INDOPOSCO.ID – Saya sepakat dengan spirit tulisan Husny Mubarok Amir yang menegaskan bahwa Jakarta memiliki akar kultural yang kuat dengan Nahdlatul Ulama (NU), dan masyarakat Betawi merupakan salah satu komunitas yang sejak lama hidup dengan tradisi keislaman yang memiliki kedekatan dengan nilai-nilai Nahdliyyin.

BacaJuga:

Pemprov DKI Manut Keputusan Pusat soal Konser Andrea Bocelli di Jakarta

Menuju 5 Abad Jakarta, Warga Jadikan Ancol Gratis sebagai Kado Istimewa

Berlibur di Akhir Pekan, Waspadai Potensi Hujan di Jakarta Hari Ini

Tradisi tahlilan, maulidan, manaqiban, ziarah kubur, penghormatan kepada ulama, serta kehidupan keagamaan berbasis komunitas telah menjadi bagian dari budaya yang melekat dalam keseharian masyarakat Betawi jauh sebelum NU berdiri pada tahun 1926. Karena itu, hubungan NU dan Betawi tidak dapat dilihat hanya dalam perspektif organisasi, melainkan sebagai pertemuan panjang antara tradisi keilmuan Islam, budaya masyarakat, dan perjalanan kebangsaan.

Namun, narasi sejarah tersebut perlu ditempatkan secara lebih proporsional agar tidak berhenti pada kebanggaan identitas semata. Justru karena memiliki akar sejarah yang kuat, amanah Nahdliyyin Betawi hari ini menjadi semakin besar. Tantangannya bukan hanya membuktikan bahwa NU memiliki jejak panjang di Jakarta, tetapi bagaimana nilai-nilai NU mampu menjawab perubahan zaman dan memberikan arah bagi Jakarta yang kini memasuki fase baru sebagai kota global.

Salah satu bagian penting dari tulisan Husny adalah penegasan mengenai keterlibatan ulama Betawi dalam Muktamar NU ke-8 tahun 1933 di Batavia. Peristiwa tersebut bukan sekadar agenda organisasi, melainkan momentum penting yang menunjukkan bahwa NU sejak awal telah berkembang melampaui basis awalnya di Jawa Timur. Batavia menjadi ruang strategis tempat para ulama, tokoh masyarakat, dan pejuang kebangsaan bertemu menghadapi situasi kolonial yang semakin kompleks.

Kehadiran ulama Betawi seperti Guru Marzuki bin Mirshod, Guru Manshur Jembatan Lima, dan ulama lainnya menunjukkan bahwa masyarakat Betawi bukan hanya menjadi tuan rumah penyelenggaraan muktamar, tetapi merupakan bagian dari proses konsolidasi dan perkembangan NU secara nasional.

Namun, sejarah NU di Betawi sesungguhnya jauh lebih panjang daripada Muktamar 1933. Sebelum NU lahir, Batavia telah memiliki tradisi keilmuan Islam yang kuat melalui para ulama besar seperti Syekh Abdurrahman al-Mashri al-Batawi Pekojan, Guru Marzuki bin Mirshod Cipinang Muara, Guru Mughni Kuningan, Guru Manshur Jembatan Lima, Guru Majid Pekojan, dan Habib Utsman bin Yahya Mufti Betawi. Mereka membangun fondasi kehidupan Islam di Batavia melalui pendidikan, pengajaran agama, dan pembentukan karakter masyarakat.

Karena itu, ketika NU berdiri di Surabaya pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926 melalui prakarsa KH Wahab Hasbullah dan KH Hasyim Asy’ari, masyarakat Betawi telah memiliki tradisi keislaman yang secara amaliyah memiliki kedekatan dengan corak keberagamaan NU. Dalam bahasa lain, DNA keagamaan masyarakat Betawi identik dengan DNA keagamaan yang dimiliki NU, yaitu Ahlussunnah Waljama’ah.

Inilah yang membuat hubungan NU dan masyarakat Betawi memiliki karakter yang khas. Ia bukan hanya hubungan antara jamiyyah dan jamaah, tetapi hubungan antara nilai, tradisi, dan sejarah sosial yang telah berlangsung lama.

Namun demikian, narasi ini perlu disampaikan dengan bijaksana. Jakarta hari ini bukan lagi Batavia masa lalu. Jakarta telah menjadi ruang yang sangat plural, dihuni oleh berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Karena itu, kebanggaan terhadap akar sejarah NU-Betawi harus menjadi energi untuk membangun Jakarta, bukan menjadi alasan untuk membangun batas antara kelompok satu dengan lainnya.

Sejarah juga menunjukkan bahwa keberadaan NU di Jakarta selalu berkaitan dengan perubahan kota. Ketika PBNU berkantor di Jakarta sejak dekade 1950-an, hal tersebut bukan sekadar persoalan administratif, tetapi merupakan konsekuensi dari posisi Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan kehidupan nasional.

Dalam perjalanan panjangnya, NU Jakarta memiliki karakter yang berbeda dengan NU di daerah lain. Jika kekuatan NU di berbagai daerah banyak bertumpu pada pesantren, maka kekuatan NU Jakarta tumbuh melalui masjid, mushala, madrasah, majelis taklim, dan komunitas masyarakat. Ruang-ruang sosial itulah yang selama puluhan tahun menjadi tempat nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan diwariskan.

Namun Jakarta hari ini telah berubah. Jakarta diarahkan menjadi kota global dengan peran ekonomi, politik, dan kebudayaan yang semakin strategis.

Perubahan status tersebut membawa tantangan baru bagi Nahdliyyin Jakarta. Pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana menjaga sejarah masa lalu, tetapi bagaimana menghadirkan NU sebagai kekuatan moral dan sosial dalam menghadapi masa depan kota.

Salah satu tantangan terbesar adalah perubahan ruang sosial masyarakat. Perkembangan kota, urbanisasi, pembangunan kawasan bisnis, dan perubahan tata ruang telah mengubah banyak lingkungan yang sebelumnya menjadi basis kehidupan sosial-keagamaan masyarakat.

Kampung-kampung yang dahulu menjadi tempat tumbuhnya majelis taklim, mushala, madrasah, dan interaksi sosial perlahan menghadapi tekanan perubahan. Persoalannya bukan hanya hilangnya ruang fisik, tetapi juga berkurangnya ruang sosial tempat tradisi keagamaan diwariskan.

Dalam konteks inilah nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Betawi tetap memiliki relevansi. Penghormatan kepada ulama, semangat gotong royong, keterbukaan terhadap pendatang, dan kehidupan keagamaan yang moderat merupakan modal sosial yang penting bagi Jakarta sebagai kota global.

Tetapi nilai tersebut tidak boleh berhenti sebagai romantisme masa lalu. Ia harus diterjemahkan menjadi kekuatan untuk menjawab persoalan nyata masyarakat.

Tantangan berikutnya adalah kemandirian organisasi. Hubungan antara NU dan pemerintah daerah merupakan bagian dari dinamika sosial keagamaan Jakarta. Dukungan pemerintah terhadap kegiatan keagamaan tentu merupakan bentuk sinergi antara umara dan ulama.

Namun, organisasi sebesar NU tidak dapat membangun masa depan hanya dengan mengandalkan fasilitasi pemerintah. Era Jakarta sebagai kota global harus menjadi momentum bagi NU Jakarta untuk memperkuat kemandirian ekonomi umat melalui koperasi, BMT, wakaf produktif, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

NU harus bergerak dari sekadar penerima program menjadi pencipta solusi.

Selain itu, perubahan ruang dakwah juga menjadi tantangan besar. Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan agama. Hari ini, majelis taklim dan masjid tidak hanya berhadapan dengan persoalan internal masyarakat, tetapi juga dengan arus informasi digital yang sangat cepat.

Karena itu, NU Jakarta harus mampu menghadirkan dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat perkotaan. Dakwah tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga menjawab persoalan kemiskinan kota, pendidikan generasi muda, lingkungan, keluarga, hingga tantangan kehidupan modern.

Dengan modal sejarah dan jaringan organisasi yang besar, PWNU Jakarta sesungguhnya memiliki peluang untuk menjadi laboratorium nasional bagi NU dalam menjawab persoalan perkotaan.

Jakarta seharusnya tidak menjadi panggung konflik kepentingan elite organisasi, tetapi menjadi ruang lahirnya gagasan besar tentang bagaimana Islam moderat, kebangsaan, dan kepedulian sosial diterapkan dalam kehidupan kota modern.

NU Jakarta perlu mengembangkan gagasan tentang fiqh perkotaan: bagaimana nilai Islam memberikan panduan terhadap persoalan tata ruang, lingkungan, transportasi, kemiskinan, dan perubahan sosial.

Pada saat yang sama, hubungan NU dengan masyarakat Betawi harus terus diperkuat dalam semangat kemitraan. Persoalan kebudayaan Betawi memang penting, tetapi harus ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem sosial Jakarta yang lebih luas. Yang paling utama adalah memastikan nilai-nilai yang selama ini hidup dalam masyarakat dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi perubahan zaman.

Amanah terbesar Nahdliyyin Betawi bukan sekadar menjaga keberadaan PBNU di Jakarta. Amanah yang lebih besar adalah menjaga Jakarta dengan nilai-nilai NU.

Karena itu, perjuangan ke depan harus diarahkan pada kerja nyata: memperkuat ekonomi umat, memperluas pendidikan, membangun kemandirian organisasi, dan memastikan kehadiran NU benar-benar dirasakan masyarakat.

Sejarah telah membuktikan bahwa ulama Betawi bukan sekadar pelengkap dalam perjalanan NU. Mereka adalah bagian dari mata rantai sejarah Islam dan kebangsaan di Jakarta.

Tetapi sejarah tidak boleh hanya menjadi kenangan. Dari Batavia 1933 menuju Jakarta Kota Global, amanah para muassis NU harus diterjemahkan dalam bentuk perjuangan baru.

Jakarta boleh menjadi pusat ekonomi dunia. Namun, dalam proses perubahan itu, masyarakat yang telah lama menjadi bagian dari sejarah Jakarta tidak boleh kehilangan ruang untuk tumbuh dan berkembang.

Sebab tugas Nahdliyyin hari ini bukan hanya mempertahankan posisi di Jakarta, tetapi memberikan arah moral bagi Jakarta yang sedang berubah.

Labbaika ya Muassis, Amanahmu kami terima. Bukan untuk mengejar jabatan, bukan untuk mempertahankan simbol, tetapi untuk memastikan nilai agama, kebangsaan, kemanusiaan, dan khidmah kepada masyarakat tetap hidup di tengah Jakarta yang terus berubah. Wallahu a’lam!!!

Tags: fbrJakarta Kota GlobalLutfi hakimNahdliyyin BetawiPWNU DKI Jakarta

Berita Terkait.

bocelli
Megapolitan

Pemprov DKI Manut Keputusan Pusat soal Konser Andrea Bocelli di Jakarta

Senin, 2 November 2026 - 11:21
ancol
Megapolitan

Menuju 5 Abad Jakarta, Warga Jadikan Ancol Gratis sebagai Kado Istimewa

Minggu, 1 November 2026 - 22:02
Stasiun
Megapolitan

Berlibur di Akhir Pekan, Waspadai Potensi Hujan di Jakarta Hari Ini

Minggu, 1 November 2026 - 08:18
Perkuat Layanan Wholesale Banking, BRI Luncurkan Qlola Mobile
Megapolitan

Peringatan Dini BMKG, Waspadai Potensi Hujan di Jakarta Akhir Pekan Ini

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 08:35
boncos
Megapolitan

Penggerebekan Kampung Boncos: 3 Orang Ditangkap, Sajam dan Sabu Disita

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 06:06
strada
Megapolitan

5 Siswa SMK Strada 1 Rampungkan Magang 4 Bulan di BumiMas Permata Group

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 04:04

OLAHRAGA

bca
Olahraga

Runvestasi 2026 Dimulai, BCA Ajak Masyarakat Lari Sehat Sekaligus Belajar Investasi

Editor Ali Rachman
Senin, 2 November 2026 - 04:14

INDOPOSCO.ID - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) resmi membuka kompetisi lari dan investasi bertajuk Runvestasi 2026: Wealth Life Balance...

SelengkapnyaDetails
Arisan Elqueen Berujung Buntung, 24 Warga Lebak-Pandeglang Tertipu Rp1,34 Miliar

Hadapi Duel Papan Atas, Stjepan Loncar Pastikan Persija Siap Tempur

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:13
Jelang Laga Lawan Dewa United, Shin Tae-yong Minta Persija Tetap Waspada

Jelang Laga Lawan Dewa United, Shin Tae-yong Minta Persija Tetap Waspada

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:39
Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:13
Wamendagri Tegaskan Kepercayaan Masyarakat Jadi Modal Utama Kepemimpinan Kepala Daerah

Krisis Tata Kelola Futsal, Pemilik Klub Minta PSSI Turun Tangan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 20:57

BERITA POPULER

  • MUI

    Penggerebekan Ponpes Hamalatul Qur’an Berbuntut Panjang, MUI Layangkan 5 Tuntutan ke Polri

    1800 shares
    Share 720 Tweet 450
  • Kurangi Beban Dosen, Mendiktisaintek Bakal Tata Kembali Prodi untuk Efisiensi Kampus

    5159 shares
    Share 2064 Tweet 1290
  • Super League Pekan 8: Persija Diuji Dewa United, Persib-PSS Bawa Misi Penting

    1155 shares
    Share 462 Tweet 289
  • Krisis Tata Kelola Futsal, Pemilik Klub Minta PSSI Turun Tangan

    1009 shares
    Share 404 Tweet 252
  • Resmi Dirilis, Ini Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di Piala Asia 2027

    888 shares
    Share 355 Tweet 222
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.