INDOPOSCO.ID – Polemik tantangan hafalan Surat Ad-Dhuha dengan hadiah minuman beralkohol dalam rangkaian festival The Sounds Project di kawasan Ancol belum benar-benar berakhir.
Di tengah permintaan maaf yang telah disampaikan pihak Newport, muncul pertanyaan yang lebih besar, yakni bagaimana aktivitas tersebut bisa berlangsung, siapa yang bertanggung jawab, dan sejauh mana pengawasan terhadap kegiatan promosi di lapangan dijalankan?
Ketua Umum Pemuda Kota RI, Abu Bakar MBS, menilai persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan klarifikasi. Menurutnya, penjelasan Newport yang menyebut aksi tersebut sebagai tindakan spontan pengunjung yang mengambil alih mikrofon perlu diuji dengan rekaman video yang telah beredar luas di masyarakat.
Sebelumnya, Newport menyampaikan permohonan maaf terbuka dan menyatakan bahwa kejadian tersebut bukan bagian dari program promosi perusahaan. Pihak perusahaan juga menyebut akan melakukan evaluasi internal terkait pengawasan kegiatan. Namun, bagi Abu Bakar, evaluasi internal tidak boleh menjadi titik akhir.
Ia meminta Newport membuka secara terang struktur tanggung jawab di balik aktivitas booth, termasuk hubungan antara brand dan event organizer (EO), standar operasional prosedur (SOP) promosi, kewenangan pembawa acara atau master of ceremony (MC), penanggung jawab lapangan, hingga asal-usul produk yang disebut sebagai hadiah.
“Kalau benar perusahaan tidak merancang challenge tersebut, tentu pemeriksaan akan memperjelasnya. Kelalaian yang membuat kegaduhan pun perlu diusut. Kalau ada tindakan individu yang berada di luar prosedur, siapa yang bertanggung jawab juga harus terang. Kalau ada kegagalan pengawasan, tentu harus ada perbaikan dan pertanggungjawaban sesuai kewenangan,” ujar Abu Bakar kepada INDOPOSCO melalui gawai, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, publik saat ini bukan hanya menunggu permintaan maaf, tetapi membutuhkan kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Terlebih, produk minuman beralkohol yang disebut menjadi hadiah dalam tantangan tersebut juga dinilai perlu diverifikasi. Abu Bakar meminta kejelasan mengenai jenis dan varian produk, kadar alkohol, sumber pengadaan, hingga pihak yang menyerahkan produk tersebut.
Sorotan pun tidak hanya diarahkan kepada Newport. Pemuda Kota RI juga meminta PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pengawasan kegiatan pihak ketiga yang berlangsung di kawasan Ancol.
Bagi Abu Bakar, polemik ini membuka pertanyaan penting mengenai tata kelola kegiatan komersial di kawasan tersebut. Mulai dari proses persetujuan sponsor, pengawasan booth, hingga mekanisme penghentian apabila aktivitas di lapangan menyimpang dari ketentuan.
“Bagaimana kegiatan tersebut dapat berlangsung di kawasan Ancol? Siapa yang mengawasi? Bagaimana proses persetujuan kegiatan sponsor? Apakah ada screening terhadap aktivitas booth? Apa standar pengawasan terhadap EO dan tenant? Dan apa mekanisme penghentian apabila aktivitas di lapangan menyimpang?” jelas pria yang akrab disapa Bang Abu itu.
Ia menegaskan, apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya kelemahan pengawasan, baik yang disengaja maupun tidak, termasuk pelanggaran prosedur, maka harus ada langkah korektif yang jelas dan tegas sesuai aturan.
Menurut dia, persoalan ini tidak semestinya berhenti pada siapa yang memegang mikrofon atau siapa yang pertama kali melontarkan tantangan. Yang lebih penting adalah memastikan sistem pengawasan mampu mencegah kejadian serupa terulang.
“Publik bukan hanya membutuhkan permintaan maaf. Publik membutuhkan jaminan bahwa kejadian serupa tidak akan terulang di Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Ancol Jakarta atau dimanapun,” tambahnya.
Dengan demikian, polemik challenge hafalan Surat Ad-Dhuha tersebut kini tidak hanya menyangkut sebuah aksi spontan di tengah festival. Kasus itu juga menyeret pertanyaan mengenai tanggung jawab, pengawasan, SOP, dan tata kelola kegiatan pihak ketiga di kawasan publik.
Bagi Pemuda Kota RI, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting agar klarifikasi tidak berhenti sebagai pernyataan di atas kertas, tetapi benar-benar menghasilkan evaluasi dan perbaikan di lapangan.(her)





















