INDOPOSCO.ID – Serikat Pekerja PT Pertamina Drilling Services Indonesia (SP PDSI) mendorong penguatan PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) sebagai National Drilling Champion di tengah proses transformasi dan penyederhanaan struktur (streamlining) yang berlangsung di lingkungan Pertamina Subholding Upstream (SHU).
SP PDSI menilai restrukturisasi seharusnya tidak hanya berorientasi pada penyederhanaan struktur organisasi, tetapi juga mampu menciptakan nilai tambah bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, serta memperkuat kapasitas pengeboran nasional.
Ketua Umum SP PDSI Rahmat Wijaya mengatakan, kegiatan pengeboran merupakan salah satu titik kritis dalam rantai bisnis hulu minyak dan gas (migas) karena berkaitan langsung dengan keberhasilan pencapaian target produksi nasional.
“Transformasi organisasi merupakan kebutuhan agar perusahaan semakin adaptif. Namun, keberhasilan streamlining tidak boleh diukur sekadar dari berapa banyak struktur yang dikurangi atau organisasi yang dilebur, melainkan dari nilai tambah yang dihasilkan bagi Pertamina secara keseluruhan. Keputusan yang diambil harus berpijak pada rasionalitas bisnis, efisiensi operasional, dan keandalan jangka panjang,” ujar Rahmat.
Menurut dia, tanpa kegiatan pengeboran yang andal, keberlanjutan produksi migas dan ketahanan energi nasional akan menghadapi risiko yang lebih besar. Karena itu, proses transformasi di lingkungan Subholding Upstream perlu mempertimbangkan penguatan kapasitas dan kompetensi pengeboran secara menyeluruh.
SP PDSI menilai terdapat business case yang kuat untuk menjadikan PDSI sebagai konsolidator utama bisnis pengeboran di lingkungan Pertamina. Saat ini, PDSI mengoperasikan 58 unit rig yang menjadi salah satu armada pengeboran terbesar di Asia Tenggara.
Armada tersebut didukung standar health, safety, security and environment (HSSE), kemampuan engineering, serta pengalaman dan kompetensi operasional yang telah terakumulasi selama puluhan tahun.
“Skala operasi sebesar 58 rig ini memberikan economies of scale yang nyata bagi Pertamina. Keunggulannya mencakup efisiensi biaya operasional, optimalisasi utilisasi aset, standardisasi keselamatan kerja, hingga fleksibilitas mobilisasi rig di seluruh wilayah hulu migas Indonesia,” kata Rahmat.
Dia menambahkan, konsolidasi fungsi pengeboran dalam satu entitas yang memiliki fokus dan kompetensi khusus, seperti PDSI, justru dapat menjadi bagian dari strategi efisiensi perusahaan.
“Memperkuat dan mengkonsolidasikan fungsi pengeboran ke dalam satu wadah yang fokus seperti PDSI adalah bentuk efisiensi itu sendiri,” ujarnya.
Selain aspek aset dan operasional, SP PDSI juga menekankan pentingnya menempatkan pekerja dan kompetensi pengeboran sebagai sumber keunggulan kompetitif (competitive advantage), bukan semata-mata sebagai komponen biaya (cost center).
Menurut SP PDSI, pengalaman serta modal intelektual para insan pengeboran Pertamina yang diwariskan dari generasi ke generasi merupakan aset strategis yang perlu dijaga dan dikembangkan. Penguatan kompetensi tersebut dinilai dapat dilakukan melalui pembangunan center of excellence di bidang pengeboran.
“Perjuangan kami bukan sekadar membela nama atau struktur organisasi, melainkan menjaga keberlangsungan kompetensi pengeboran nasional. Memperkuat PDSI sebagai National Drilling Champion berarti memperkuat daya saing Pertamina dan memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga,” tegas Rahmat.
SP PDSI menyatakan siap menjadi mitra strategis manajemen dalam proses transformasi perusahaan. Serikat pekerja berharap setiap keputusan restrukturisasi dapat dilakukan secara objektif dan profesional dengan mempertimbangkan kepentingan bisnis jangka panjang, efisiensi, keberlanjutan kompetensi, serta kontribusi terhadap ketahanan energi nasional.
“Kami siap menjadi mitra strategis manajemen untuk mewujudkan transformasi yang objektif, profesional, dan memberikan nilai maksimal bagi negara,” tutup Rahmat. (her)


















