INDOPOSCO.ID — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong Indonesia memperkuat ekosistem riset agar mampu bertransformasi dari bangsa pengguna menjadi pencipta teknologi. Hasil penelitian juga diharapkan tidak berhenti di laboratorium, publikasi, maupun prototipe, tetapi mampu melahirkan solusi, perusahaan, hingga industri.
Brian mengatakan, Indonesia sejatinya memiliki kapasitas riset dan teknologi yang cukup untuk melakukan lompatan. Namun, persoalan yang masih dihadapi adalah belum kuatnya jalur yang menghubungkan hasil penemuan dengan pengembangan perusahaan hingga menjadi industri.
“Yang perlu kita bangun dengan kuat adalah bagaimana membuat jalan yang menghubungkan antara penemuan menjadi perusahaan, dan perusahaan menjadi industri. Sebagai peneliti, kita tahu valley of death atau lembah kematian ada di sana,” ujar Brian dalam Indonesia Innovator Award dan Indonesia Innovator Lecture 2026, sekaligus peluncuran Program Riset Kebijakan Pembangunan Merah Putih (PRIMA) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Senin (10/8/2026).
Menurut dia, tantangan tersebut membutuhkan ekosistem yang mampu mempertemukan perguruan tinggi, lembaga riset, dunia usaha, dan industri. Kolaborasi antarpihak menjadi penting agar hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
Ia menilai perguruan tinggi memiliki kekuatan berupa sumber daya manusia dan basis pengetahuan. Sementara BRIN memiliki kapasitas serta fasilitas riset yang dapat dimanfaatkan secara bersama untuk mempercepat pengembangan inovasi.
“Banyak produk inovasi yang sudah dihasilkan para peneliti. Tetapi belum semuanya berhasil melewati tahapan menuju industri,” katanya.
Karena itu, lanjut dia, penguatan konektivitas antara perguruan tinggi dan BRIN menjadi salah satu langkah penting. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkecil jarak antara hasil riset dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Brian juga mendorong pengembangan industri berbasis teknologi maju. Menurutnya, penguasaan teknologi menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
Dia mencontohkan sejumlah negara yang berhasil membangun perusahaan teknologi melalui keterhubungan yang kuat antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri. Pola serupa dinilai perlu diperkuat di Indonesia agar hasil riset nasional dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
“Jangan sampai riset kita hanya berhenti pada publikasi atau prototipe. Kita harus memastikan riset itu bisa berkembang menjadi produk, perusahaan, dan akhirnya menjadi industri,” tegasnya.
Momentum Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-31 Tahun 2026, lanjut Brian, harus menjadi pengingat pentingnya membangun kemandirian teknologi. Indonesia perlu memiliki kemampuan untuk menciptakan teknologi yang tidak hanya menjawab kebutuhan nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global. (nas)


















