INDOPOSCO.ID – Pelantikan 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) oleh Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (2/10/2026) lalu mendapat sorotan.
Guru Besar Ilmu Pemerintahan IPDN, Djohermansyah Djohan, mengingatkan agar Wantimpres tidak berubah menjadi sekadar “rumah para senior” atau tempat berkumpulnya tokoh yang telah selesai dari jabatan publik.
“Presiden tidak membutuhkan 26 orang untuk mengangguk. Presiden membutuhkan orang yang dapat menunjukkan di mana letak risikonya,” tegas Djohermansyah kepada INDOPOSCO , Minggu (4/10/2026).
Wantimpres yang diketuai Pratikno, dengan Wakil Ketua Hatta Rajasa dan Sekretaris M. Qodari ini memang diisi beragam latar belakang, dari akademisi, tokoh agama, mantan menteri, politisi, eks kepala daerah, purnawirawan TNI-Polri, hingga pengusaha.
Menurut Djohermansyah, keberagaman itu akan jadi kekuatan jika dipakai untuk memperkaya perspektif, bukan sekadar jadi stempel.
“Masalahnya bukan senior atau junior. Masalahnya adalah apakah mereka mampu menjadi pengkritik internal yang konstruktif,” ujarnya.
Ia menilai UU No.19 Tahun 2006 memberi mandat Wantimpres memberi nasihat baik diminta maupun tidak diminta. Karena itu Wantimpres tidak boleh jadi yes man dalam jumlah besar.
“Birokrasi memberikan laporan, menteri memberi rekomendasi. Tapi siapa yang menguji semua itu dari luar jalur pengambilan keputusan? Di situlah peran Wantimpres,” katanya.
Djohermansyah juga menyoroti isu desentralisasi yang berpotensi jadi titik buta. Ia mengingatkan kebijakan yang terlihat bagus di atas kertas bisa bermasalah di lapangan karena tiap daerah punya kondisi berbeda.
“Jakarta menyusun kebijakan, Jakarta menetapkan target, Jakarta membuat indikator. Daerah diminta melaksanakan. Padahal kebijakan nasional diuji di kabupaten, kota, dan desa. Indonesia bukan hanya Jakarta,” tegasnya.
Karena itu ia mendorong Wantimpres punya pembidangan jelas, kajian berbasis data, dan keberanian intelektual untuk berbeda pendapat secara tertutup kepada Presiden.
“Jangan sekadar menjadi rumah para senior. Jadikan ia rumah bagi gagasan. Penasihat yang paling berguna bukanlah yang paling dekat dengan telinga Presiden, tapi yang berani membuat Presiden melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat,” pungkasnya. (yas)
















