INDOPOSCO.ID – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Prof. Yassierli mendorong generasi muda menjadi penggerak inovasi guna mewujudkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dunia sekaligus mencapai visi Indonesia Emas 2045.
Menurut Yassierli, prediksi lembaga riset dunia PricewaterhouseCoopers (PwC) yang menempatkan Indonesia sebagai ekonomi terbesar keempat dunia pada 2050 hanya dapat terwujud jika didukung sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan memiliki pola pikir inovatif.
“Inovasi menjadi satu kata yang menjadi tantangan kita dan tidak banyak didiskusikan. Ini harus dibicarakan terutama pada para leader yang lahir di sini. Adik-adik Tanoto Scholar memiliki peran menjadi leaders yang berkontribusi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujar Yassierli dalam keterangan, Selasa (4/8/2026).
Yassierli mengakui posisi Indonesia dalam Global Innovation Index 2025 masih berada di peringkat 55, tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam. Meski demikian, ia optimistis Indonesia mampu menjadi innovation nation jika generasi mudanya dibekali kompetensi dan semangat berinovasi.
Ia menegaskan inovasi bukan sekadar menciptakan produk baru, tetapi menghadirkan nilai baru yang mampu menyelesaikan persoalan masyarakat. Menurutnya, inovasi selalu berawal dari empati terhadap masalah yang dihadapi masyarakat.
Sebagai contoh, ia menyebut lahirnya layanan transportasi daring yang mampu mempertemukan kebutuhan masyarakat akan transportasi dengan pengemudi yang membutuhkan penumpang.
“Dengan empati, kita punya perhatian dan perasaan yang sama dengan orang-orang ketika menghadapi masalah. Inovasi-inovasi besar lahir dari empati,” katanya.
Yassierli juga mengajak generasi muda tidak berhenti menjadi pengguna teknologi, tetapi naik kelas menjadi pengembang, penggerak, hingga pemimpin inovasi.
“Jangan hanya menjadi user. Setelah jadi user kemudian Anda jadi developer, orchestrator, sampai jadi leader,” tegasnya.
Selain itu, Menaker mengingatkan pentingnya membangun growth mindset dibandingkan fixed mindset. Menurutnya, anak muda harus berani keluar dari zona nyaman, terus belajar, mencari mentor, dan menjadikan para tokoh inovator dunia sebagai inspirasi.
“Belajarlah dan carilah mentor atau coach sebagai role model. Lihat bagaimana mereka berkembang, siap menghadapi tantangan, dan pantang menyerah,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Yassierli juga memaparkan tantangan kualitas angkatan kerja nasional. Saat ini, hanya sekitar 14 persen dari 155 juta angkatan kerja yang mengenyam pendidikan tinggi, sementara sisanya didominasi lulusan SMA dan SMK.
Untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja, Kementerian Ketenagakerjaan menjalankan program pemagangan nasional bagi 150 ribu lulusan baru. Menurutnya, sekitar 30 persen peserta bahkan telah mendapatkan tawaran kerja sebelum masa magang berakhir.
“Ini adalah bentuk bagaimana kita ingin memberikan impact dan kontribusi kepada bangsa,” katanya.
Yassierli turut mengapresiasi peran Tanoto Foundation melalui Program Beasiswa TELADAN yang tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tetapi juga membekali mahasiswa dengan pelatihan kepemimpinan dan pengembangan kapasitas.
Ia meyakini kolaborasi pemerintah dan berbagai pihak dalam mencetak pemimpin muda inovatif menjadi modal penting bagi Indonesia.
“Pada 2045, Indonesia menjadi negara besar hanya kalau kita menjadi innovation nation. Kalau inovasi itu terbangun, akan mampu memecahkan berbagai persoalan, termasuk keterbatasan lapangan kerja,” ujarnya.(nas)


















