INDOPOSCO.ID – Fenomena penggunaan istilah “londo ireng” dalam pidato Presiden Prabowo Subianto terus memantik respons dari berbagai kalangan. Salah satu yang ikut menanggapi adalah pengamat politik Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensa. Namun, alih-alih melontarkan kritik keras, Hensa memilih membalasnya dengan humor.
Melalui akun media sosialnya, Hensa berkelakar bahwa dirinya lebih nyaman menyandang predikat komika politik ketimbang pengamat politik.
“Saya jadi Komika Politik aja, jangan disebut pengamat lagi, supaya tidak termasuk dalam kategori ‘itu,’” tulis Hensa melalui akun X miliknya, @satriohendri, dikutip pada Selasa (28/7/2026).
Unggahan tersebut merujuk pada pidato Prabowo dalam puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta beberapa waktu lalu.
Dalam pidatonya, Presiden menegaskan bahwa pemerintah tidak alergi terhadap kritik. Meski demikian, ia juga mengingatkan adanya pihak-pihak yang dinilai lebih mengutamakan kepentingan bangsa lain dibanding kepentingan Indonesia.
Pada kesempatan itu, Prabowo kembali mengangkat istilah “londo ireng”, yang menurutnya masih eksis hingga kini, meski tampil dengan wajah dan peran yang berbeda.
“Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain,” ujar Prabowo dalam pidatonya saat itu.
Prabowo kemudian menyebut sejumlah kelompok, mulai dari wartawan, pengamat hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM), dalam konteks pernyataannya tersebut.
Menanggapi hal itu, Hensa menilai ucapan Presiden mengandung unsur gurauan sehingga ia memilih merespons dengan nada yang sama.
“Saya paham ada unsur bercandanya dalam selorohan Presiden. Makanya saya respons juga dengan bercanda, sekalian saja mengaku sebagai komika politik. Cuma, namanya juga candaan Presiden, tetap saja bisa membuat pengamat seperti saya sedikit deg-degan,” kata Hensa.
Hensa menegaskan bahwa responsnya bukan dimaksudkan sebagai serangan kepada kepala negara. Menurutnya, candaan tersebut justru menjadi cara menyampaikan kegelisahan bahwa profesi pengamat memiliki tugas mengawasi, memberi penilaian, sekaligus menyampaikan kritik terhadap jalannya pemerintahan.
Ia pun menyindir anggapan yang berkembang bahwa kritik kerap dipersepsikan sebagai bentuk keberpihakan kepada kepentingan asing.
“Kalau pengamat yang tugasnya mengamati kemudian dianggap sebagai ‘londo ireng’, ya lebih aman saya menjadi komika politik saja. Kalau melontarkan kritik, nanti bisa dibilang sedang bercanda. Padahal, kritik dan pengawasan itu diperlukan agar pemerintah tetap berjalan pada jalur yang benar,” jelas Hensa.
Perdebatan mengenai istilah tersebut juga mendapat perhatian dari pengamat politik Rocky Gerung. Menurutnya, penggunaan istilah “londo ireng” dalam dinamika politik saat ini sudah kehilangan konteks historis yang jelas.
“Londo Ireng tuh adanya dalam imajinasi. Karena udah berabad-abad orang lupa bahwa dulu orang Afrika disogok oleh Belanda untuk jadi tentara bayaran, sekarang enggak jelas mana tentara bayarannya,” kata Rocky dalam tayangan yang diunggah akun Instagram @hensa.official.
Di akhir tanggapannya, Hensa berharap istilah tersebut tidak dipakai untuk melabeli setiap orang yang memiliki pandangan berbeda dengan pemerintah. Ia menekankan bahwa kritik merupakan bagian dari mekanisme demokrasi dan tidak selalu lahir dari keinginan menjatuhkan kekuasaan.
“Jangan sampai semua yang mengkritik kemudian dicurigai sebagai antek asing atau pembantu penjajah. Bisa saja mereka ingin menyampaikan sesuatu karena ingin pemerintah berhasil. Kalau semua harus diam dan hanya boleh memuji, nanti pengamat politik benar-benar lebih cocok beralih profesi menjadi komika,” tutup Hensa. (her)


















