INDOPOSCO.ID – Indonesia dinilai perlu melakukan transformasi besar dari sekadar produsen kelapa sawit terbesar di dunia menjadi pusat hilirisasi sawit global. Langkah tersebut diyakini mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sawit, memperkuat daya saing industri nasional, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan industri manufaktur berbasis sawit.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, mengatakan Indonesia sebenarnya telah mengembangkan berbagai produk turunan kelapa sawit. Namun, potensi hilirisasi yang dimiliki komoditas strategis tersebut masih jauh lebih besar dibandingkan capaian saat ini.
“Sejauh ini Indonesia sudah mendorong hilirisasi kelapa sawit. Cuma mungkin hilirisasi belum beragam. Oleh karena itu, perlu ada strategi agar Indonesia bisa menjadi pusat hilirisasi industri sawit global,” kata Faisal di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu menyusun arah kebijakan yang jelas untuk mendorong pengembangan industri hilir sawit. Kebijakan tersebut harus mampu melahirkan industri manufaktur yang mengolah kelapa sawit menjadi beragam produk bernilai tambah tinggi, sekaligus didukung berbagai instrumen fiskal dan nonfiskal guna menarik investasi di sektor hilir.
Faisal juga menegaskan percepatan hilirisasi tidak akan berjalan optimal tanpa didukung sektor hulu yang kuat. Karena itu, penguatan produktivitas perkebunan sawit menjadi fondasi penting bagi keberhasilan pembangunan industri hilir nasional.
“Penguatan di sektor hulu ini penting karena tidak mungkin kita membangun industri hilir kalau tidak didukung oleh sektor hulu yang kuat,” ujarnya.
Upaya mempercepat hilirisasi sawit selama ini juga terus didorong oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui berbagai program, mulai dari penguatan riset dan inovasi, promosi, kemitraan, hingga pengembangan sumber daya manusia di sektor hilirisasi. Berbagai inisiatif tersebut diarahkan untuk memperkuat daya saing industri sawit nasional sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Faisal menilai, hilirisasi sawit akan memberikan efek berganda terhadap perekonomian nasional, mulai dari meningkatnya penyerapan tenaga kerja, bertambahnya pendapatan masyarakat, hingga semakin kuatnya struktur industri nasional.
“Dampak positif hilirisasi sawit tentu banyak sekali mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga peningkatan income masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, mengatakan hilirisasi merupakan strategi penting untuk menghasilkan produk turunan bernilai tambah tinggi sekaligus memperluas pasar industri sawit Indonesia. Menurutnya, hilirisasi tidak hanya bertujuan meningkatkan ekspor, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
“Dengan hilirisasi sawit, kita bisa berubah dari raja CPO dunia menjadi raja oleokimia, raja biofuel, raja biomaterial, dan raja oleofood global,” ujarnya.
Ia mencontohkan keberhasilan Program Mandatori Biodiesel yang mampu menekan impor solar berbasis fosil melalui pemanfaatan minyak sawit. Ke depan, potensi hilirisasi masih terbuka lebar untuk menghasilkan berbagai produk substitusi impor, termasuk sustainable aviation fuel (SAF) atau bioavtur berbahan baku sawit, PFAD, POME, minyak jelantah, hingga tandan kosong kelapa sawit.
Selain sektor energi, hilirisasi sawit juga dinilai berpotensi memperkuat industri oleokimia nasional. Dengan kapasitas produksi oleokimia Indonesia yang telah mencapai sekitar 19,93 juta ton per tahun, pengembangan industri hilir sawit diyakini mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan kimia organik berbasis petrokimia.
“Demikian juga impor kimia organik yakni petrokimia yang cukup besar setiap tahun. Bisa kita substitusi dari produk hilir sawit yakni oleokimia sawit,” pungkas Tungkot.(rmn)


















