INDOPOSCO.ID – Ada masa ketika cerita tentang pertambangan Indonesia hampir selalu berakhir di tempat yang sama, yakni tambang menghasilkan bijih, komoditas dikirim keluar, lalu negara menghitung berapa besar penerimaan yang bisa diperoleh. Kini ceritanya coba untuk ditulis ulang.
Titik akhirnya tidak lagi berada di mulut tambang. Ia bergeser jauh ke depan, ke pabrik, kawasan industri, kabel listrik, kendaraan listrik, teknologi energi, bahkan ke rantai pasok industri pertahanan.
Di tengah perubahan itu, tembaga memperoleh peran yang semakin penting. Logam berwarna kemerahan ini mungkin terlihat biasa, namun di dunia yang sedang berlomba melakukan elektrifikasi, tembaga justru menjadi salah satu material yang menentukan masa depan.
Ia dibutuhkan untuk jaringan transmisi listrik, perangkat elektronik, kendaraan listrik, hingga pengembangan energi baru terbarukan. Karena itu, persoalannya bukan lagi sekadar berapa banyak tembaga yang dimiliki Indonesia.
Pertanyaan yang lebih besar adalah: berapa banyak nilai dari tembaga itu yang bisa tinggal dan tumbuh di Indonesia?
Pertanyaan itulah yang membawa perjalanan tembaga dari kawasan tambang Grasberg menuju Gresik menjadi lebih dari sekadar kisah pertambangan.
Di Papua, PT Freeport Indonesia (PTFI) mengoperasikan salah satu aset pertambangan strategis Indonesia. Kepemilikan mayoritas melalui MIND ID membuat pengelolaan sumber daya tersebut berada dalam kerangka yang lebih luas: bukan hanya menghasilkan mineral, tetapi membangun mata rantai pengolahan yang semakin panjang di dalam negeri.
Salah satu simpul pentingnya berada di Gresik, Jawa Timur. Di kawasan tersebut, konsentrat tembaga diproses melalui fasilitas pemurnian. Tetapi tembaga bukan satu-satunya cerita yang keluar dari proses itu.

Ada emas. Ada perak. Ada pula mineral ikutan lain yang sebelumnya mungkin hanya dilihat sebagai bagian dari proses pengolahan.
Melalui Precious Metal Refinery (PMR), anode slime, produk samping dari proses pemurnian konsentrat tembaga diolah menjadi logam mulia. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi sekitar 50 ton emas dan 200 ton perak per tahun.
Di sinilah sebuah perubahan penting terjadi. Sebuah batuan yang berasal dari perut bumi tidak lagi berhenti sebagai komoditas tambang. Nilainya diperpanjang melalui proses pemurnian di dalam negeri.
Dan ketika emas hasil pemurnian itu kemudian masuk ke pasar domestik, lingkarannya menjadi semakin jelas.
Pada Februari 2025, PTFI mengirimkan 125 kilogram emas batangan berkadar 99,99 persen kepada PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM). Nilainya sekitar Rp207 miliar.
PTFI dan ANTAM sebelumnya juga telah menyepakati pembelian hingga 30 ton emas per tahun.
Angka itu menjadi menarik jika diletakkan berdampingan dengan kebutuhan pasar. Data World Gold Council mencatat permintaan emas batangan dan koin di Indonesia mencapai 31,6 ton pada 2025. Konsumsi emas untuk perhiasan mencapai 16,6 ton.
Jika dijumlahkan, kebutuhan kedua segmen tersebut mencapai sekitar 48,2 ton. Di satu sisi terdapat kebutuhan pasar domestik, di sisi lain terdapat kapasitas pemurnian yang terus dikembangkan.
Di antara keduanya terbentang satu gagasan besar: mempertemukan sumber daya mineral dengan kebutuhan industri dan konsumen di negeri sendiri.
Kepala Divisi Institutional Relations MIND ID, Selly Adriatika, mengatakan integrasi tersebut merupakan bagian dari strategi MIND ID dalam membangun rantai nilai mineral yang saling mendukung di antara Anggota Holding.
“MIND ID tidak melihat setiap aset dan perusahaan sebagai entitas yang berdiri sendiri. Kami mengintegrasikan sumber daya dan kapabilitas Anggota Holding agar dapat saling mendukung, sehingga hasil pengolahan mineral dapat terus dikembangkan menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional dan memberikan nilai tambah di dalam negeri.” kata Selly dalam keterangannya, dikutip pada Kamis (17/9/2026).
Tetapi emas hanyalah salah satu bagian dari cerita. Pertanyaan yang lebih besar berada pada tembaga itu sendiri.
Jika katoda tembaga menjadi produk hasil pemurnian, apakah perjalanan berhenti di sana?
Jawabannya sedang dicari melalui pengembangan industri hilir.
PTFI, misalnya, telah bersinergi dengan PT Pindad untuk mengoptimalkan katoda tembaga dalam produksi brass cup di Gresik. Kapasitas produksinya mencapai 10 ribu ton per tahun.
Langkah ini memperlihatkan perubahan sederhana namun penting. Tembaga tidak lagi hanya dilihat sebagai produk pertambangan. Ia mulai ditempatkan sebagai bahan baku industri.
Bahkan industri pertahanan.
Rantai yang sebelumnya berawal dari batuan di dalam bumi kini memiliki ujung yang berbeda: material yang dibutuhkan untuk menghasilkan komponen manufaktur.
Mata rantai berikutnya juga sedang disiapkan.
MIND ID akan mengembangkan fasilitas produksi batang tembaga dan kawat tembaga dengan kapasitas mencapai 300 KTPA. Selain itu, direncanakan fasilitas pipa tembaga dengan kapasitas 100 KTPA.
Jika seluruh mata rantai tersebut berkembang, perjalanan tembaga menjadi semakin panjang. Dari konsentrat menjadi katoda, dari katoda menjadi batang dan kawat, lalu masuk ke berbagai industri pengguna.
Di situlah makna hilirisasi berubah dari sekadar slogan menjadi persoalan tentang seberapa jauh sebuah mineral mampu menggerakkan industri lain.
Sebab, nilai tambah terbesar tidak selalu berada di tempat mineral pertama kali diambil. Ia bisa muncul beberapa langkah setelahnya: di pabrik kabel, industri elektronik, kendaraan listrik, pembangkit energi, atau bahkan industri pertahanan.
Percepatan pemulihan produksi Grasberg dan optimalisasi Smelter PTFI Gresik karena itu memiliki arti lebih besar daripada sekadar meningkatkan kapasitas produksi.
Semakin besar produksi tembaga, semakin besar pula potensi bahan baku untuk menghidupkan industri hilir. Namun pada saat yang sama, keberhasilan hilirisasi juga bergantung pada kemampuan Indonesia membangun ekosistem setelah mineral keluar dari smelter.
Sebab sebuah negara tidak otomatis menjadi berdaulat hanya karena memiliki tambang.
Ia menjadi lebih kuat ketika mampu mengolah sumber dayanya, menguasai teknologi, menciptakan industri pengguna, membangun tenaga kerja, mengembangkan pemasok, dan menjaga agar nilai ekonomi terus berputar di dalam negeri.
“Penguatan rantai nilai tersebut menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan terhadap mineral strategis. Karena itu, pengembangan PTFI tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat keterhubungan antara pertambangan, pengolahan, pemurnian, dan industri hilir di dalam negeri,” jelas Selly.
Gagasan itu menjadi semakin relevan ketika dunia memasuki era elektrifikasi. Kendaraan berubah. Sistem energi berubah. Jaringan listrik diperluas. Teknologi semakin bergantung pada material mineral.
Di tengah perubahan itu, negara-negara tidak hanya berlomba mendapatkan teknologi. Mereka juga berlomba memastikan ketersediaan bahan bakunya.
Tembaga menjadi bagian dari pertarungan tersebut. Indonesia memiliki sumber dayanya. Tantangannya adalah memastikan sumber daya itu tidak berhenti menjadi angka cadangan dan volume produksi.
Kawasan JIIPE Gresik menjadi salah satu panggung penting dalam cerita tersebut. Konektivitas multimoda darat dan laut, logistik terintegrasi, serta layanan perizinan terpadu menjadi bagian dari ekosistem yang dibutuhkan untuk mempertemukan pertambangan dengan industri.
Di kawasan yang sama, pengembangan hilirisasi emas juga diarahkan untuk memperkuat industri logam mulia domestik.
ANTAM akan mengembangkan fasilitas produksi batangan emas dengan kapasitas mencapai 30 ton per tahun atau sekitar 5 juta keping per tahun. Bahan bakunya berasal dari hasil pemurnian logam mulia PTFI.
Kembali terlihat sebuah pola: tembaga menghasilkan produk samping, produk samping dimurnikan, emas masuk ke industri logam mulia, sementara katoda tembaga masuk ke industri manufaktur.
Rantai itu mungkin terlihat seperti rangkaian proses teknis. Namun sesungguhnya, di sanalah pertarungan nilai tambah berlangsung.

Direktur Strategi Hilirisasi dan Ekosistem Mineral MIND ID, Tedy Badrujaman, menyebut pengembangan tersebut sebagai bagian dari agenda industrialisasi yang lebih luas.
“Langkah strategis ini merupakan bagian dari rangkaian besar Proyek Hilirisasi Danantara, sebuah program yang tidak hanya membangun kapasitas produksi, tetapi memperkuat fondasi industri strategis nasional secara menyeluruh, dari hulu ke hilir, dari bahan baku hingga produk akhir yang dibutuhkan bangsa,” terang Tedy.
Kalimat “dari hulu ke hilir” mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi negara kaya sumber daya, perjalanan menuju sana justru panjang.
Membangun tambang membutuhkan modal. Membangun smelter membutuhkan teknologi dan energi. Membangun industri hilir membutuhkan pasar. Menguasai produk akhir membutuhkan sumber daya manusia, riset, inovasi, dan kemampuan manufaktur.
Karena itu, hilirisasi sesungguhnya bukan hanya proyek membangun pabrik. Ia adalah proyek membangun kemampuan sebuah bangsa.
Pertanyaan paling penting akhirnya kembali ke tempat semuanya bermula: bumi.
Setiap mineral yang diambil memiliki nilai ekonomi. Namun nilai itu akan jauh lebih panjang jika pengambilannya menjadi awal dari tumbuhnya industri baru.
Di situlah ukuran keberhasilan tidak cukup dihitung dari berapa ton tembaga yang ditambang atau berapa ton emas yang dimurnikan.
Pertanyaan berikutnya adalah: apa yang lahir setelah mineral itu diambil dari bumi?
Apakah ada pabrik baru? Apakah ada teknologi baru? Apakah ada tenaga kerja baru? Apakah muncul pemasok lokal? Apakah industri dalam negeri menjadi lebih kuat?
Dan yang paling penting, apakah Indonesia menjadi semakin mampu menentukan sendiri bagaimana kekayaan alamnya digunakan?
Presiden Prabowo Subianto, dalam groundbreaking 13 proyek hilirisasi nasional tahap II di Cilacap, Jawa Tengah, pada April 2026, menempatkan agenda tersebut dalam konteks penguasaan sumber daya nasional.
“Kita harus berani dan mampu menguasai kekayaan sumber daya alam. Ini adalah bentuk keberanian bangsa untuk menguasai dan mengolah di negaranya sendiri. Hilirisasi adalah jalan satu satunya untuk kita bisa lebih makmur,” kata Prabowo saat GROUNDBREAKING 13 PROYEK HILIRISASI NASIONAL TAHAP II di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).
Bagi MIND ID, perjalanan tersebut belum selesai.
“Apa yang MIND ID kerjakan hari ini adalah bagian dari perjalanan membangun industri pertambangan yang berdaulat, di mana kekayaan alam yang kita miliki dapat kita kelola dan kembangkan semaksimal mungkin untuk kepentingan bangsa,” tutur Selly.
“Sumber daya Indonesia harus menjadi kekuatan bagi generasi hari ini sekaligus fondasi bagi generasi yang akan datang,” tambahnya.
Mungkin itulah cara paling sederhana memahami babak baru pertambangan Indonesia.
Kedaulatan bukan ketika sebuah negara sekadar memiliki mineral. Kedaulatan adalah ketika mineral itu mampu menghidupkan industri.
Ketika hasil tambang dapat menjadi bahan baku produk buatan sendiri. Ketika nilai tambah tidak seluruhnya pergi bersama kapal yang meninggalkan pelabuhan.
Dan ketika kekayaan yang tersimpan selama jutaan tahun di dalam bumi akhirnya dapat menjadi fondasi bagi kehidupan generasi yang belum lahir.
Tembaga mungkin bermula jauh di dalam perut bumi. Tetapi masa depannya ditentukan oleh apa yang dilakukan Indonesia setelah mineral itu berhasil diangkat ke permukaan.
Di situlah perjalanan sesungguhnya baru dimulai. (her)















