INDOPOSCO.ID – Tekanan terhadap rupiah belum juga mereda. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Kamis (17/9/2026), sekaligus memperpanjang tren pelemahan dalam lima hari perdagangan berturut-turut.
Mengacu pada data JISDOR Bank Indonesia, rupiah yang sempat menguat ke level Rp17.536 per dolar AS pada 10 September justru terus kehilangan tenaga setelahnya. Sehari kemudian, rupiah bergerak melemah ke Rp17.611 dan akhirnya ditutup di level Rp17.753 pada perdagangan Kamis.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mencatat rupiah melemah 57 poin atau sekitar 0,32 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.696 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang Garuda datang ketika pasar masih mencerna keputusan Federal Reserve Amerika Serikat yang kembali mengambil langkah pengetatan moneter.
Dalam rapat yang berakhir pada Rabu (16/9), Federal Open Market Committee (FOMC) secara bulat menaikkan suku bunga acuan federal funds rate sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75 persen hingga 4 persen. Keputusan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak Juli 2023.
Kebijakan tersebut segera menjadi perhatian pasar valuta asing. Suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi memperkuat daya tarik aset berbasis dolar, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan tambahan.
Ibrahim menilai arah kebijakan The Fed masih menjadi salah satu faktor penting yang perlu dicermati pasar. Terlebih, Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menyoroti persoalan inflasi yang dinilai belum sepenuhnya terkendali.
“Warsh mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut pada suku bunga dalam beberapa bulan mendatang,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).
Proyeksi terbaru bank sentral AS juga menunjukkan adanya ruang untuk pengetatan lanjutan. Dalam proyeksi September, sejumlah besar pejabat The Fed memperkirakan masih ada kenaikan suku bunga pada 2026, meski jalur kebijakan berikutnya tetap bergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi.
Di sisi lain, kebijakan moneter AS kini berhadapan dengan dorongan berbeda dari Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump kembali menyerukan agar suku bunga diturunkan ke level 1 persen atau bahkan lebih rendah, hanya beberapa jam setelah The Fed mengumumkan kenaikan suku bunga.
Perbedaan arah tersebut memperlihatkan adanya gesekan terbuka antara keinginan pemerintah AS untuk memperoleh biaya pinjaman yang lebih rendah dan sikap The Fed yang menempatkan pengendalian inflasi sebagai perhatian utama. Reuters mencatat Trump memang kembali mendorong suku bunga yang jauh lebih rendah setelah keputusan The Fed.
“Ini menandakan bahwa gesekan yang terus berlanjut antara Gedung Putih dan The Fed yang independen,” jelas Ibrahim.
Sementara itu, perhatian pasar domestik mulai beralih ke langkah Bank Indonesia (BI). Ruang bagi BI untuk kembali mengerek suku bunga acuan dinilai semakin terbatas menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026.
Menurut Ibrahim, kebijakan agresif yang telah ditempuh BI sebelumnya membuat bank sentral memiliki ruang untuk tidak terburu-buru mengubah arah kebijakan moneternya.
“Langkah agresif BI sebelumnya dinilai menjadi alasan utama mengapa bank sentral tak perlu lagi tergesa-gesa memutar kemudi moneter. Manuver BI yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin merupakan langkah pre-emptive yang sangat presisi, bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat (The Fed),” tambahnya.
Dengan tekanan eksternal yang masih kuat dan pasar menunggu keputusan BI pekan depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas.
Ibrahim memperkirakan rupiah berpotensi kembali bergerak melemah pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Mata uang Garuda diproyeksikan berada dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.790 per dolar AS. Artinya, level Rp17.800 kini semakin dekat menjadi batas psikologis berikutnya bagi rupiah. (her)















