INDOPOSCO.ID – Dewan Komisaris dan Komite Nominasi dan Remunerasi (NR) PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) meninjau kondisi operasional serta kesiapan pasokan energi primer dan biomassa di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bolok, Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (17/9/2026).
Kunjungan yang dipimpin Komisaris Utama PLN EPI Nikson Silalahi tersebut merupakan bagian dari fungsi pengawasan Dewan Komisaris sekaligus evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan strategis perusahaan dalam menjaga keandalan rantai pasok energi primer di wilayah NTT.
PLTU Bolok memiliki kapasitas 2 x 16,5 megawatt (MW) dan telah beroperasi sejak 2013. Pembangkit ini menjadi salah satu penopang kebutuhan listrik di Pulau Timor, sekaligus mendukung upaya mengurangi ketergantungan pembangkit terhadap bahan bakar minyak (BBM).
Dalam kunjungan tersebut, Dewan Komisaris dan Komite NR PLN EPI memperoleh pemaparan mengenai kondisi operasional pembangkit yang dikelola PT PLN Nusantara Power Services. Pembahasan meliputi kebutuhan energi primer, kondisi pasokan, pengelolaan persediaan bahan bakar, serta pemanfaatan biomassa untuk mendukung program co-firing.
Komisaris Utama PLN EPI Nikson Silalahi mengatakan, kunjungan lapangan penting untuk memperoleh gambaran langsung mengenai implementasi kebijakan perusahaan, khususnya dalam memastikan pasokan energi primer mampu mendukung operasional pembangkit secara andal.
“Keandalan pembangkit tidak dapat dipisahkan dari kesiapan energi primernya. Melalui kunjungan ini, kami ingin melihat langsung kondisi di lapangan, mulai dari kesiapan pasokan, pengelolaan persediaan hingga pemanfaatan biomassa, sehingga dapat menjadi bagian dari evaluasi dan penguatan kebijakan strategis perusahaan,” kata Nikson.
Menurut Nikson, karakteristik geografis NTT sebagai wilayah kepulauan menghadirkan tantangan tersendiri dalam pengelolaan rantai pasok energi primer. Ketersediaan sumber energi, moda transportasi, kondisi cuaca, kesiapan fasilitas penerimaan, dan kecukupan persediaan perlu dikelola secara terintegrasi untuk memitigasi risiko gangguan pasokan.
“NTT memiliki tantangan logistik yang berbeda dengan wilayah lainnya. Karena itu, pengamanan pasokan harus dilakukan secara menyeluruh dengan memperhitungkan berbagai risiko agar energi primer dapat tersedia dalam jumlah dan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan pembangkit,” ujarnya.
Selain meninjau kesiapan pasokan energi primer, Dewan Komisaris PLN EPI turut melihat implementasi pemanfaatan biomassa sebagai substitusi sebagian batu bara melalui program co-firing. Program tersebut menjadi bagian dari upaya PLN Group meningkatkan pemanfaatan energi berbasis sumber daya domestik sekaligus mendukung agenda transisi energi.
Dewan Komisaris mendorong agar pengembangan biomassa tidak hanya berorientasi pada kebutuhan pembangkit, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan pasokan dan potensi sumber daya lokal. Pengembangan rantai pasok yang melibatkan masyarakat serta pelaku usaha daerah dinilai berpotensi memberikan nilai tambah ekonomi bagi wilayah sekitar pembangkit.
“Kita ingin pemanfaatan biomassa tidak hanya memberikan manfaat dari sisi energi, tetapi juga mampu membangun ekosistem yang memberikan nilai tambah bagi daerah. Potensi lokal perlu terus dipetakan sehingga rantai pasok biomassa dapat tumbuh secara berkelanjutan dan pada saat yang sama memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Nikson.
PLN EPI menegaskan bahwa keandalan pasokan energi primer merupakan fondasi penting dalam menjaga operasional pembangkit dan kontinuitas layanan kelistrikan, termasuk di wilayah kepulauan seperti NTT. Melalui penguatan pengawasan dan pengelolaan rantai pasok yang adaptif, perusahaan terus mendukung keandalan listrik bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur.(rmn)















