INDOPOSCO.ID – Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 membukukan kinerja positif sepanjang semester pertama 2026. Di tengah tantangan pengelolaan lapangan migas yang telah memasuki fase mature, perusahaan berhasil menjaga performa produksi sekaligus mempercepat program pengembangan sumur untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Selama periode Januari hingga Juni 2026, PHR Zona 4 mencatat produksi minyak mencapai 27.500 barel per hari (BOPD) dan produksi gas sebesar 506 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).
Capaian tersebut diperkuat dengan realisasi 27 rencana kerja pengeboran sumur pengembangan (development well). Dari aktivitas itu, perusahaan memperoleh tambahan produksi minyak sebesar 1.549 BOPD, atau mencapai 125 persen dari target year to date (YTD) produksi minyak hasil pengeboran pengembangan yang tercantum dalam Work Program and Budget (WP&B) 2026.
Keberhasilan tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menghadapi penurunan produksi alamiah (natural decline) yang lazim terjadi pada lapangan migas berusia tua akibat berkurangnya tekanan reservoir dan semakin menipisnya cadangan hidrokarbon.
Salah satu pendekatan yang dijalankan adalah step out drilling, yakni pengeboran di luar batas area yang telah terbukti produktif untuk menguji potensi keberlanjutan reservoir di wilayah sekitarnya.
“Ide besar pengeboran yang dilakukan PHR Zona 4 adalah setiap pengeboran tidak hanya menghasilkan produksi, tetapi juga membuka peluang penemuan cadangan baru guna mendukung keberlanjutan operasi perusahaan dan ketahanan energi nasional di masa mendatang,” kata General Manager PHR Zona 4 Djudjuwanto, dikutip Jumat (17/7/2026).
Sepanjang 2026, strategi step out drilling dijalankan di empat lapangan milik entitas Pertamina EP, yakni Adera Field, Prabumulih Field, Ramba Field, dan Limau Field. Program tersebut mencakup pengeboran sumur ABB-A5, BNG-A12, GNK-PD17, LKT-23, MJ-OS2 NRB-B, serta LVT-B dengan target tambahan produksi sebesar 209 BOPD minyak dan 0,04 MMSCFD gas.
Selain memperluas area pengeboran, PHR Zona 4 juga mengoptimalkan potensi reservoir melalui penerapan dual completion di sumur BNG-D14, BNG-D19, BNG-B7 di Adera Field, serta GNK-PD80 di Prabumulih Field.
Metode ini memungkinkan satu sumur memproduksikan hidrokarbon dari dua reservoir sekaligus sehingga pemanfaatan cadangan menjadi lebih efisien. Melalui strategi tersebut, perusahaan menargetkan tambahan produksi 325 BOPD minyak dan 2,43 MMSCFD gas.
Baik step out drilling maupun dual completion merupakan bagian dari program development drilling pada lapangan yang telah terbukti memiliki cadangan hidrokarbon. Sepanjang 2026, PHR Zona 4 menargetkan penyelesaian 100 rencana kerja development drilling dengan sasaran tambahan produksi minyak mencapai 4.479 BOPD.
Di sisi lain, perusahaan juga berupaya menekan laju penurunan produksi alamiah melalui optimalisasi sumur-sumur eksisting. Seluruh Senior Field Manager dan Field Manager di Zona 4 diberi mandat menjaga keandalan fasilitas produksi, mulai dari artificial lift hingga berbagai fasilitas permukaan agar performa lapangan tetap terjaga.
“Kami menargetkan pimpinan field menjaga natural decline 15-20 persen dengan menjaga performance artificial lift, surface facility, dan fasilitas lainnya yang ada. Dengan demikian, saat ada keberhasilan pengembangan sumur baru, produksi akan bertambah, bukan hanya menutupi penurunan yang terjadi secara alamiah,” ujar Djudjuwanto.
Di balik upaya peningkatan produksi, PHR Zona 4 tetap menempatkan aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan (HSSE) sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas operasional.
Budaya keselamatan diperkuat melalui penerapan Stop Work Authority (SWA) yang memberikan kewenangan kepada setiap pekerja untuk menghentikan pekerjaan apabila ditemukan kondisi yang berpotensi membahayakan.
Perusahaan juga mendorong pekerja lini terdepan memimpin safety briefing secara bergiliran sebagai upaya membangun kepemimpinan keselamatan di seluruh tingkatan organisasi.
Agar pesan keselamatan lebih mudah dipahami, berbagai aturan dan rambu HSSE diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat Sumatera Selatan. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan pemahaman pekerja lapangan terhadap prosedur keselamatan.
Menurut Djudjuwanto, penguatan budaya HSSE justru berjalan seiring dengan peningkatan kinerja operasional perusahaan.
“HSSE itu investasi, bukan hambatan dalam operasi. Kami menemukan peningkatan kedisiplinan HSSE di Zona 4 justru beriringan dengan peningkatan produksi,” ucap Djudjuwanto.(her)


















