• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Headline

Gelombang OTT Berlanjut, Doli Desak Sistem Rekrutmen dan Pilkada Dibenahi Total

Laurens Dami Editor Laurens Dami
Selasa, 7 Juli 2026 - 12:51
in Headline
INDOPOSCO.ID – Gelombang operasi tangkap tangan (OTT) yang kembali menjerat kepala daerah dinilai menjadi peringatan keras bahwa sistem politik dan tata kelola pemerintahan di Indonesia membutuhkan evaluasi secara menyeluruh. Tidak hanya menyangkut penegakan hukum, tetapi juga proses rekrutmen calon kepala daerah, mekanisme pemilihan, hingga budaya antikorupsi di tengah masyarakat.Terbaru, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Langkat nonaktif Syah Afandin atau Ondim sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi. Salah satu perkara yang disorot dalam kasus tersebut berkaitan dengan pengadaan seragam sekolah dasar (SD).Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia Tandjung menilai banyaknya kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi sepanjang tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi total terhadap seluruh sistem yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan."Walaupun sangat memprihatinkan sekaligus mengherankan kenapa kejadian serupa terus berulang dan tidak membuat kapok, namun kita harus bisa mengambil pelajaran yang berharga," ujar Doli kepada INDOPOSCO melalui gawai, Selasa (7/7/2026).Menurutnya, semakin banyak kepala daerah yang berhadapan dengan hukum semestinya menjadi peringatan bagi semua pihak, terutama mereka yang berniat maju dalam kontestasi politik."Dengan semakin banyaknya kepala daerah yang terjerat masalah hukum, mudah-mudahan membuat semua kita sadar, takut, dan perlu berpikir masak-masak untuk mau menjadi kepala daerah. Sehingga ke depan, proses rekrutmen calon kepala daerah bertambah selektif, karena mereka adalah orang-orang yang betul-betul punya kesadaran untuk maju sebagai calon kepala daerah, dengan kesiapan yang matang, tahu dan siap untuk tidak korupsi, sekaligus siap dengan konsep membangun dan memajukan daerah yang akan dipimpinnya," kata Doli.Doli menegaskan, partai politik memegang peranan sangat penting dalam proses tersebut. Menurutnya, partai tidak boleh lagi mengedepankan pertimbangan pragmatis saat menentukan calon kepala daerah."Di sinilah pentingnya peran partai politik dalam melakukan proses pencalonan. Partai politik tidak boleh lagi sembarangan menetapkan calon yang tidak berintegritas. Itu yang pertama," tegasnya.Selain proses rekrutmen, Doli juga menilai sistem pemilihan kepala daerah perlu dievaluasi secara komprehensif. Namun, menurut dia, perdebatan mengenai apakah kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat atau melalui DPRD bukanlah persoalan utama."Ini bukan soal kembali ke DPRD atau tetap dipilih secara langsung, seperti yang diperdebatkan selama ini. Yang paling penting adalah komitmen kita semua untuk membuat pengaturan pemilihan yang bebas dari political transactional secara rinci dan konsekuen, apa pun mekanisme pemilihannya," tutur Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI itu.Ia mengingatkan bahwa praktik politik uang dan berbagai bentuk transaksi politik menjadi penyebab utama mahalnya biaya politik, baik dalam pemilu maupun pilkada."Politik uang dan kawan-kawan sejenisnya yang membuat pemilu dan pilkada menjadi mahal dapat dipraktikkan di arena publik maupun DPRD. Karena itu, dibutuhkan komitmen bersama, terutama dari partai politik, DPR, dan pemerintah, untuk menutup seluruh ruang terjadinya praktik tersebut," ungkapnya.Lebih jauh, Doli mengusulkan adanya konsensus nasional yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan guna memperkuat upaya pemberantasan korupsi."Kita semua perlu membuat konsensus baru; elite, pemerintah, partai politik, aparat penegak hukum, KPK, birokrasi, dan masyarakat, untuk sama-sama memerangi korupsi dan menjalankan pemerintahan yang bersih," terang Doli.Menurut dia, konsensus tersebut harus diwujudkan melalui peninjauan ulang terhadap seluruh sistem dan regulasi yang masih membuka peluang terjadinya korupsi, gratifikasi, suap, pungutan liar, maupun berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang lainnya, baik di tingkat pusat maupun daerah. Mekanisme pengawasan juga harus diperkuat agar potensi penyimpangan dapat dicegah sejak dini.Sebagai langkah terakhir, Doli menekankan pentingnya membangun ekosistem yang mampu melahirkan budaya antikorupsi secara berkelanjutan."Kita juga harus berkemauan dan mampu membangun ekosistem yang melahirkan budaya antikorupsi di tengah-tengah masyarakat, dengan literasi dan kampanye yang terus-menerus dilakukan tanpa henti," tutupnya.Menurut Doli, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penindakan hukum. Perbaikan sistem politik, penguatan integritas penyelenggara negara, pengawasan yang efektif, serta pendidikan antikorupsi harus berjalan beriringan agar kasus serupa tidak terus berulang di masa mendatang. (her)

INDOPOSCO.ID – Gelombang operasi tangkap tangan (OTT) yang kembali menjerat kepala daerah dinilai menjadi peringatan keras bahwa sistem politik dan tata kelola pemerintahan di Indonesia membutuhkan evaluasi secara menyeluruh. Tidak hanya menyangkut penegakan hukum, tetapi juga proses rekrutmen calon kepala daerah, mekanisme pemilihan, hingga budaya antikorupsi di tengah masyarakat.Terbaru, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Langkat nonaktif Syah Afandin atau Ondim sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi. Salah satu perkara yang disorot dalam kasus tersebut berkaitan dengan pengadaan seragam sekolah dasar (SD).Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia Tandjung menilai banyaknya kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi sepanjang tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi total terhadap seluruh sistem yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan."Walaupun sangat memprihatinkan sekaligus mengherankan kenapa kejadian serupa terus berulang dan tidak membuat kapok, namun kita harus bisa mengambil pelajaran yang berharga," ujar Doli kepada INDOPOSCO melalui gawai, Selasa (7/7/2026).Menurutnya, semakin banyak kepala daerah yang berhadapan dengan hukum semestinya menjadi peringatan bagi semua pihak, terutama mereka yang berniat maju dalam kontestasi politik."Dengan semakin banyaknya kepala daerah yang terjerat masalah hukum, mudah-mudahan membuat semua kita sadar, takut, dan perlu berpikir masak-masak untuk mau menjadi kepala daerah. Sehingga ke depan, proses rekrutmen calon kepala daerah bertambah selektif, karena mereka adalah orang-orang yang betul-betul punya kesadaran untuk maju sebagai calon kepala daerah, dengan kesiapan yang matang, tahu dan siap untuk tidak korupsi, sekaligus siap dengan konsep membangun dan memajukan daerah yang akan dipimpinnya," kata Doli.Doli menegaskan, partai politik memegang peranan sangat penting dalam proses tersebut. Menurutnya, partai tidak boleh lagi mengedepankan pertimbangan pragmatis saat menentukan calon kepala daerah."Di sinilah pentingnya peran partai politik dalam melakukan proses pencalonan. Partai politik tidak boleh lagi sembarangan menetapkan calon yang tidak berintegritas. Itu yang pertama," tegasnya.Selain proses rekrutmen, Doli juga menilai sistem pemilihan kepala daerah perlu dievaluasi secara komprehensif. Namun, menurut dia, perdebatan mengenai apakah kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat atau melalui DPRD bukanlah persoalan utama."Ini bukan soal kembali ke DPRD atau tetap dipilih secara langsung, seperti yang diperdebatkan selama ini. Yang paling penting adalah komitmen kita semua untuk membuat pengaturan pemilihan yang bebas dari political transactional secara rinci dan konsekuen, apa pun mekanisme pemilihannya," tutur Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI itu.Ia mengingatkan bahwa praktik politik uang dan berbagai bentuk transaksi politik menjadi penyebab utama mahalnya biaya politik, baik dalam pemilu maupun pilkada."Politik uang dan kawan-kawan sejenisnya yang membuat pemilu dan pilkada menjadi mahal dapat dipraktikkan di arena publik maupun DPRD. Karena itu, dibutuhkan komitmen bersama, terutama dari partai politik, DPR, dan pemerintah, untuk menutup seluruh ruang terjadinya praktik tersebut," ungkapnya.Lebih jauh, Doli mengusulkan adanya konsensus nasional yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan guna memperkuat upaya pemberantasan korupsi."Kita semua perlu membuat konsensus baru; elite, pemerintah, partai politik, aparat penegak hukum, KPK, birokrasi, dan masyarakat, untuk sama-sama memerangi korupsi dan menjalankan pemerintahan yang bersih," terang Doli.Menurut dia, konsensus tersebut harus diwujudkan melalui peninjauan ulang terhadap seluruh sistem dan regulasi yang masih membuka peluang terjadinya korupsi, gratifikasi, suap, pungutan liar, maupun berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang lainnya, baik di tingkat pusat maupun daerah. Mekanisme pengawasan juga harus diperkuat agar potensi penyimpangan dapat dicegah sejak dini.Sebagai langkah terakhir, Doli menekankan pentingnya membangun ekosistem yang mampu melahirkan budaya antikorupsi secara berkelanjutan."Kita juga harus berkemauan dan mampu membangun ekosistem yang melahirkan budaya antikorupsi di tengah-tengah masyarakat, dengan literasi dan kampanye yang terus-menerus dilakukan tanpa henti," tutupnya.Menurut Doli, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penindakan hukum. Perbaikan sistem politik, penguatan integritas penyelenggara negara, pengawasan yang efektif, serta pendidikan antikorupsi harus berjalan beriringan agar kasus serupa tidak terus berulang di masa mendatang. (her)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Gelombang operasi tangkap tangan (OTT) yang kembali menjerat kepala daerah dinilai menjadi peringatan keras bahwa sistem politik dan tata kelola pemerintahan di Indonesia membutuhkan evaluasi secara menyeluruh. Tidak hanya menyangkut penegakan hukum, tetapi juga proses rekrutmen calon kepala daerah, mekanisme pemilihan, hingga budaya antikorupsi di tengah masyarakat.

Terbaru, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Langkat nonaktif Syah Afandin atau Ondim sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi. Salah satu perkara yang disorot dalam kasus tersebut berkaitan dengan pengadaan seragam sekolah dasar (SD).

BacaJuga:

Kapolri Beri Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk 3 Polisi Katingan yang Gugur

Ketum MUI: Jangan Berlindung di Balik HAM untuk Benarkan Korupsi dan LGBT

Polisi Dalami Laporan Intimidasi dr. Icha oleh Anggota DPRD TTU

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia Tandjung menilai banyaknya kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi sepanjang tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk melakukan evaluasi total terhadap seluruh sistem yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan.

“Walaupun sangat memprihatinkan sekaligus mengherankan kenapa kejadian serupa terus berulang dan tidak membuat kapok, namun kita harus bisa mengambil pelajaran yang berharga,” ujar Doli kepada INDOPOSCO melalui gawai, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, semakin banyak kepala daerah yang berhadapan dengan hukum semestinya menjadi peringatan bagi semua pihak, terutama mereka yang berniat maju dalam kontestasi politik.

“Dengan semakin banyaknya kepala daerah yang terjerat masalah hukum, mudah-mudahan membuat semua kita sadar, takut, dan perlu berpikir masak-masak untuk mau menjadi kepala daerah. Sehingga ke depan, proses rekrutmen calon kepala daerah bertambah selektif, karena mereka adalah orang-orang yang betul-betul punya kesadaran untuk maju sebagai calon kepala daerah, dengan kesiapan yang matang, tahu dan siap untuk tidak korupsi, sekaligus siap dengan konsep membangun dan memajukan daerah yang akan dipimpinnya,” kata Doli.

Doli menegaskan, partai politik memegang peranan sangat penting dalam proses tersebut. Menurutnya, partai tidak boleh lagi mengedepankan pertimbangan pragmatis saat menentukan calon kepala daerah.

“Di sinilah pentingnya peran partai politik dalam melakukan proses pencalonan. Partai politik tidak boleh lagi sembarangan menetapkan calon yang tidak berintegritas. Itu yang pertama,” tegasnya.

Selain proses rekrutmen, Doli juga menilai sistem pemilihan kepala daerah perlu dievaluasi secara komprehensif. Namun, menurut dia, perdebatan mengenai apakah kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat atau melalui DPRD bukanlah persoalan utama.

“Ini bukan soal kembali ke DPRD atau tetap dipilih secara langsung, seperti yang diperdebatkan selama ini. Yang paling penting adalah komitmen kita semua untuk membuat pengaturan pemilihan yang bebas dari political transactional secara rinci dan konsekuen, apa pun mekanisme pemilihannya,” tutur Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI itu.

Ia mengingatkan bahwa praktik politik uang dan berbagai bentuk transaksi politik menjadi penyebab utama mahalnya biaya politik, baik dalam pemilu maupun pilkada.

“Politik uang dan kawan-kawan sejenisnya yang membuat pemilu dan pilkada menjadi mahal dapat dipraktikkan di arena publik maupun DPRD. Karena itu, dibutuhkan komitmen bersama, terutama dari partai politik, DPR, dan pemerintah, untuk menutup seluruh ruang terjadinya praktik tersebut,” ungkapnya.

Lebih jauh, Doli mengusulkan adanya konsensus nasional yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan guna memperkuat upaya pemberantasan korupsi.

“Kita semua perlu membuat konsensus baru; elite, pemerintah, partai politik, aparat penegak hukum, KPK, birokrasi, dan masyarakat, untuk sama-sama memerangi korupsi dan menjalankan pemerintahan yang bersih,” terang Doli.

Menurut dia, konsensus tersebut harus diwujudkan melalui peninjauan ulang terhadap seluruh sistem dan regulasi yang masih membuka peluang terjadinya korupsi, gratifikasi, suap, pungutan liar, maupun berbagai bentuk penyalahgunaan wewenang lainnya, baik di tingkat pusat maupun daerah. Mekanisme pengawasan juga harus diperkuat agar potensi penyimpangan dapat dicegah sejak dini.

Sebagai langkah terakhir, Doli menekankan pentingnya membangun ekosistem yang mampu melahirkan budaya antikorupsi secara berkelanjutan.

“Kita juga harus berkemauan dan mampu membangun ekosistem yang melahirkan budaya antikorupsi di tengah-tengah masyarakat, dengan literasi dan kampanye yang terus-menerus dilakukan tanpa henti,” tutupnya.

Menurut Doli, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penindakan hukum. Perbaikan sistem politik, penguatan integritas penyelenggara negara, pengawasan yang efektif, serta pendidikan antikorupsi harus berjalan beriringan agar kasus serupa tidak terus berulang di masa mendatang. (her)

Tags: Korupsi Kepala DaerahKPKPolitik Indonesia

Berita Terkait.

Kapolri Beri Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk 3 Polisi Katingan yang Gugur
Headline

Kapolri Beri Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk 3 Polisi Katingan yang Gugur

Selasa, 7 Juli 2026 - 11:31
Ketum MUI: Jangan Berlindung di Balik HAM untuk Benarkan Korupsi dan LGBT
Headline

Ketum MUI: Jangan Berlindung di Balik HAM untuk Benarkan Korupsi dan LGBT

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:03
icha
Headline

Polisi Dalami Laporan Intimidasi dr. Icha oleh Anggota DPRD TTU

Sabtu, 4 Juli 2026 - 22:14
Sebastian
Headline

Polisi Ungkap Detail Luka Tembak pada Jenazah Pilot AS Nicholas F. Goselin

Sabtu, 4 Juli 2026 - 11:03
Rupiah
Headline

Ekonom: Potensi Umat Besar, Tapi Kekuatan Ekonominya Masih Loyo

Sabtu, 4 Juli 2026 - 09:11
Raja-Juli
Headline

Acceptance of Envelope From Kuantan Singingi Regent Could Constitute Criminal Offense, Legal Expert Says

Jumat, 3 Juli 2026 - 18:47

BERITA POPULER

  • brace

    Hasil Piala Dunia: Brace Haaland Antar Norwegia Singkirkan Brasil dan Cetak Sejarah

    919 shares
    Share 368 Tweet 230
  • Koran Indoposco Edisi 10 November 2023

    2277 shares
    Share 911 Tweet 569
  • Portugal vs Kroasia: Martinez Sebut Ronaldo dan Modric Berada di Atas Keraguan Publik

    853 shares
    Share 341 Tweet 213
  • Cuaca di Jakarta Didominasi Cerah, Sebagian Wilayah Jaksel dan Jakbar Berpotensi Hujan

    796 shares
    Share 318 Tweet 199
  • Gempa Bumi Dangkal M 4,0 Guncang Palu, BMKG: Kedalaman Hiposenter 2 Km

    779 shares
    Share 312 Tweet 195
Portugal Gagal di Piala Dunia 2026, Roberto Martinez Resmi Mundur
Olahraga

Portugal Gagal di Piala Dunia 2026, Roberto Martinez Resmi Mundur

Editor Laurens Dami
Selasa, 7 Juli 2026 - 10:24

INDOPOSCO.ID - Pelatih Timnas Portugal Roberto Martinez akan mengundurkan diri dari jabatannya setelah timnya tersingkir dari Piala Dunia 2026. Selecao...

SelengkapnyaDetails
Portugal Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Ronaldo Merana: Saya Sedih

Portugal Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Ronaldo Merana: Saya Sedih

Selasa, 7 Juli 2026 - 09:34
Hasil Piala Dunia: Bungkam AS, Belgia Tantang Spanyol di Perempatfinal

Hasil Piala Dunia: Bungkam AS, Belgia Tantang Spanyol di Perempatfinal

Selasa, 7 Juli 2026 - 09:29
Hasil Piala Dunia: Sengit, Spanyol Singkirkan Portugal Lewat Drama Injury Time

Hasil Piala Dunia: Sengit, Spanyol Singkirkan Portugal Lewat Drama Injury Time

Selasa, 7 Juli 2026 - 09:04
Ronaldo

Jelang Hadapi Spanyol, Ronaldo Fokus Nikmati Piala Dunia Terakhirnya

Senin, 6 Juli 2026 - 19:15
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.