INDOPOSCO.ID – Lebih dari setahun setelah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Indonesia diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 24 Februari 2025, dampak transformasi yang diusung lembaga pengelola investasi negara tersebut mulai tercermin pada peningkatan kinerja sejumlah badan usaha milik negara (BUMN). Berdasarkan data periode April 2025 hingga April 2026, sebanyak 22 BUMN mencatat pertumbuhan laba signifikan, bahkan salah satunya melonjak hingga 1.339 persen.
Pakar sekaligus praktisi komunikasi, Dr. M. Fariza Irawady, menilai capaian tersebut menjadi indikator awal bahwa visi Presiden Prabowo untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional mulai terealisasi melalui tata kelola investasi yang lebih terintegrasi.
“Presiden Prabowo telah menyalakan api harapan bangsa melalui visi pembangunan yang jelas. Danantara kemudian menjadi instrumen yang menerjemahkan harapan itu menjadi hasil nyata yang mulai dapat dirasakan,” jelas Fariza di Jakarta, Minggu (5/7/2026).
Menurutnya, kekuatan utama Danantara terletak pada kemampuannya menghubungkan visi strategis pemerintah dengan pengelolaan investasi negara yang profesional. Di bawah kepemimpinan Chief Executive Officer (CEO) Rosan Perkasa Roeslani, Danantara dinilai mampu menjalankan fungsi sebagai motor konsolidasi aset sekaligus mendorong penguatan tata kelola BUMN.
Hal itu, kata Fariza, tercermin dari membaiknya performa keuangan berbagai perusahaan pelat merah di sejumlah sektor strategis.
Di sektor energi, PT Pertamina (Persero) membukukan laba Rp24,97 triliun atau meningkat sekitar 80 persen dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp13,9 triliun. PT Pupuk Indonesia juga mencatat lonjakan laba dari Rp1,59 triliun menjadi Rp4,82 triliun atau tumbuh 202 persen.
Sementara itu, sektor perbankan tetap menjadi penyumbang laba terbesar. Bank Rakyat Indonesia (BRI) membukukan laba Rp21,2 triliun atau naik 15 persen, Bank Mandiri Rp21,3 triliun atau tumbuh 13 persen, Bank Negara Indonesia (BNI) Rp7,2 triliun atau naik 6 persen, sedangkan Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat laba Rp2,8 triliun atau meningkat 18 persen.
Adapun Bank BTN menjadi BUMN dengan pertumbuhan laba tertinggi, yakni melonjak 1.339 persen menjadi Rp1,4 triliun.
Di sektor lainnya, Mining Industry Indonesia (MIND ID) mencatat laba Rp14,1 triliun atau tumbuh 31 persen, Pegadaian Rp4,3 triliun atau naik 87 persen, Pelindo membukukan laba Rp1,5 triliun atau meningkat 169 persen, sedangkan InJourney mencatat laba Rp300 miliar atau tumbuh 33 persen.
Tidak hanya meningkatkan laba perusahaan yang telah sehat, Danantara juga dinilai berhasil mempercepat pemulihan sejumlah BUMN yang sebelumnya mengalami kerugian.
PT Krakatau Steel, misalnya, berhasil berbalik dari rugi Rp981 miliar menjadi laba Rp635 miliar. PT Danareksa berubah dari rugi Rp72 miliar menjadi laba Rp43 miliar.
Perbaikan serupa juga terjadi pada PT Kimia Farma yang membalikkan kinerja dari rugi Rp160 miliar menjadi laba Rp108 miliar, PT Len Industri dari rugi Rp228 miliar menjadi laba Rp314 miliar, PT Semen Indonesia dari rugi Rp66 miliar menjadi laba Rp106 miliar, PT Agrinas Pangan dari rugi Rp12 miliar menjadi untung Rp465 miliar, serta PT Adhi Karya yang mencatat pertumbuhan laba 667 persen menjadi Rp69 miliar.
Menurut Fariza, pemulihan tersebut tidak terlepas dari program restrukturisasi serta dukungan permodalan (capital support) yang diberikan melalui Danantara Asset Management (DAM).
Ia menegaskan, lonjakan laba yang terjadi tidak semata-mata mencerminkan peningkatan keuntungan perusahaan, tetapi juga menjadi sinyal bahwa proses konsolidasi, efisiensi, dan disiplin tata kelola mulai menunjukkan hasil.
“Keuntungan yang dihasilkan BUMN harus menjadi energi baru bagi pembangunan. Ketika kinerja perusahaan negara meningkat, ruang fiskal dan kemampuan investasi pemerintah untuk menjalankan program prioritas juga semakin kuat,” tambahnya.
Fariza yang pernah bertugas di bidang komunikasi dan kehumasan di sejumlah kementerian, mulai dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Kementerian Komunikasi dan Informatika hingga Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, menilai keberhasilan Danantara juga penting dilihat dari perspektif komunikasi publik.
Menurutnya, kepercayaan masyarakat terhadap proyek ekonomi berskala besar hanya dapat dibangun apabila narasi optimisme didukung oleh capaian yang nyata.
Fariza mengatakan, Presiden Prabowo selama ini konsisten mendorong agenda hilirisasi, industrialisasi, serta penguatan pengelolaan aset strategis nasional. Dalam konteks tersebut, Danantara menjadi instrumen penting untuk menerjemahkan visi tersebut ke dalam implementasi yang lebih operasional.
Ia juga mengapresiasi kepemimpinan Rosan Roeslani beserta jajaran Danantara yang dinilai berhasil menjaga arah transformasi investasi negara tetap profesional, akuntabel, dan berorientasi pada hasil.
“Pertumbuhan laba sejumlah BUMN menjadi indikator bahwa transformasi tata kelola bergerak ke arah yang benar. Ini merupakan modal penting untuk memperkuat daya saing BUMN sekaligus mendukung pembiayaan berbagai program strategis pemerintah,” ucapnya.
Meski demikian, Fariza mengingatkan tantangan Danantara ke depan masih besar. Konsistensi penerapan tata kelola yang baik, transparansi, serta kemampuan menjaga kepercayaan publik akan menjadi faktor penentu keberlanjutan transformasi tersebut.
“Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Danantara bukan semata besarnya dana kelolaan, melainkan sejauh mana kekayaan negara benar-benar bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sinergi antara visi besar Presiden Prabowo dan eksekusi Danantara merupakan kombinasi penting. Presiden menyalakan harapan, sementara Danantara bekerja mewujudkannya,” pungkasnya. (rmn)


















