INDOPOSCO.ID – Impor barang modal Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan pada Mei 2026. Di tengah neraca perdagangan yang mencatat defisit bulanan, peningkatan impor mesin dan peralatan produksi dinilai menjadi sinyal menguatnya aktivitas investasi serta kapasitas industri nasional.
Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI mencatat nilai impor Indonesia pada Mei 2026 mencapai USD24,81 miliar. Angka tersebut memang turun 1,59 persen dibanding April 2026, namun masih melonjak 22,16 persen dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year).
Menteri Perdagangan RI Budi Santoso mengatakan, kenaikan paling mencolok terjadi pada impor barang modal yang tumbuh 21,12 persen secara bulanan (month to month). Sebaliknya, impor barang konsumsi turun 8,42 persen dan bahan baku/penolong menyusut 5,72 persen.
“Kenaikan impor barang modal mencerminkan menguatnya aktivitas investasi dan kapasitas produksi nasional. Hal ini diharapkan dapat mendukung peningkatan daya saing industri serta ekspor Indonesia ke depan,” ujar Budi dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
Secara kumulatif Januari-Mei 2026, nilai impor Indonesia mencapai USD111,33 miliar atau tumbuh 15,24 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan impor migas sebesar 27,89 persen dan impor nonmigas sebesar 13,16 persen.
Berdasarkan golongan penggunaan barang (BEC), seluruh komponen impor mengalami kenaikan. Barang modal tumbuh 17,53 persen, barang konsumsi meningkat 17,05 persen, sedangkan bahan baku dan barang penolong naik 14,41 persen.
Dari sisi komoditas, kenaikan impor nonmigas tertinggi terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya yang melonjak hingga 808,56 persen. Disusul garam, belerang, batu dan semen sebesar 73,94 persen, bijih logam, terak dan abu naik 58,63 persen, bahan bakar mineral meningkat 40,48 persen, serta berbagai produk kimia tumbuh 34,94 persen.
Sementara itu, negara asal impor nonmigas masih didominasi Tiongkok, Jepang, dan Australia dengan kontribusi gabungan mencapai 52,68 persen. Adapun pertumbuhan impor tertinggi berasal dari Meksiko yang melonjak 247,36 persen, Perancis 193,63 persen, dan Spanyol 88,33 persen.
Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar. Defisit tersebut dipicu membengkaknya defisit sektor migas yang mencapai USD3,76 miliar.
Meski demikian, secara kumulatif selama Januari-Mei 2026 Indonesia masih mencatat surplus perdagangan sebesar USD4,03 miliar. Surplus itu ditopang perdagangan nonmigas yang membukukan surplus USD16,31 miliar, sehingga mampu menutup defisit migas sebesar USD12,28 miliar.
Budi menegaskan, perdagangan nonmigas tetap menjadi fondasi utama kinerja perdagangan luar negeri Indonesia.
“Meski neraca perdagangan Mei 2026 defisit, secara kumulatif Indonesia masih mencatatkan surplus. Ini membuktikan perdagangan nonmigas Indonesia tetap kokoh di tengah tantangan global,” tegasnya.
Pada sisi ekspor, Indonesia membukukan nilai ekspor sebesar USD23,20 miliar pada Mei 2026 atau turun 8,30 persen dibanding bulan sebelumnya dan turun 5,73 persen dibanding Mei 2025. Namun secara kumulatif Januari-Mei 2026, ekspor masih tumbuh 3,02 persen menjadi USD115,36 miliar, didorong kenaikan ekspor nonmigas sebesar 3,89 persen.
Menurut Budi, industri pengolahan masih menjadi motor utama ekspor nasional. Selama lima bulan pertama tahun ini, ekspor sektor industri pengolahan tumbuh 6,80 persen dengan kontribusi terbesar berasal dari aluminium, nikel, serta bahan kimia organik yang menikmati peningkatan permintaan di pasar global.(nas)


















