INDOPOSCO.ID – Hilirisasi dan industrialisasi yang tengah digenjot pemerintah tidak akan menghasilkan nilai tambah maksimal tanpa didukung tenaga kerja yang kompeten. Di tengah upaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi industri di dalam negeri.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan, Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Kemampuan mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah sangat bergantung pada kesiapan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri.
Karena itu, menurutnya, pembangunan pekerja yang kompeten menjadi salah satu strategi utama pemerintah untuk mendorong hilirisasi, memperkuat industrialisasi, sekaligus meningkatkan daya saing bangsa. “Tidak ada hilirisasi tanpa manusia yang mampu mengerjakannya, tidak ada industrialisasi tanpa pekerja yang kompeten, dan tidak ada kemandirian ekonomi tanpa kekuatan tenaga kerja Indonesia,” ujar Yassierli dalam keterangan, Selasa (18/8/2026).
Menurut Yassierli, momentum kemerdekaan memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menentukan arah pembangunan secara mandiri. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh potensi dan sumber daya nasional dapat dikelola oleh tenaga kerja dalam negeri sehingga mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
“Kami (Kementerian Ketenagakerjaan/ Kemnaker) menetapkan 4 fokus utama, yakni membangun pekerja yang kompeten dan siap menghadapi perubahan, menciptakan pasar kerja yang adaptif, mewujudkan dunia kerja yang inklusif, serta memperkuat hubungan industrial yang harmonis,” ujarnya.
Dia menegaskan, pembangunan kompetensi tenaga kerja tidak boleh tertinggal dari perkembangan industri yang berlangsung sangat cepat. Karena itu, Kemnaker terus memperkuat pelatihan vokasi, program pemagangan, sertifikasi kompetensi, serta memperluas kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri.
Menurutnya, sistem pelatihan juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan digitalisasi, kecerdasan artifisial (AI), otomatisasi, transisi energi, hingga munculnya berbagai industri baru.
“Kita harus semakin mampu membaca perubahan kebutuhan industri agar sistem pelatihan kita tidak selalu datang terlambat. Sebab pada akhirnya, kedaulatan industri membutuhkan kedaulatan kompetensi,” katanya.
Selain meningkatkan kualitas SDM, masih ujar dia, pemerintah juga terus memperkuat ekosistem pasar kerja melalui layanan informasi ketenagakerjaan, program pencocokan kerja, pemagangan, hingga peningkatan kompetensi melalui program upskilling dan reskilling.
Berdasarkan data Sakernas Mei 2026, jumlah penduduk yang bekerja telah mencapai sekitar 148 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen. Yassierli menilai, pasar kerja harus mampu mempertemukan pencari kerja dengan kebutuhan industri secara lebih cepat dan tepat.
Dia menambahkan, keberhasilan industrialisasi tidak hanya diukur dari bertambahnya kapasitas industri. Lebih dari itu, industrialisasi harus mampu menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, serta mendorong kesejahteraan pekerja. (nas)






















