INDOPOSCO.ID – Harga emas diperkirakan masih menyimpan tenaga untuk melanjutkan penguatan dalam beberapa waktu ke depan. Harapan pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), ditambah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dinilai menjadi kombinasi sentimen yang mampu menopang kenaikan logam mulia.
Mengacu pada situs Logam Mulia, harga emas Antam saat ini berada di level Rp2.670.000 per gram. Sementara itu, berdasarkan data Trading Economics, harga emas dunia diperdagangkan di kisaran US$ 4.170 per troy ons.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan emas pada pekan depan masih akan dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, terutama perkembangan geopolitik, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta keseimbangan pasokan dan permintaan.
“Sentimen pekan depan fokus pada geopolitik, kebijakan bank sentral AS, serta supplai dan demand,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).
Jika terjadi koreksi, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia memiliki area penopang pertama di level US$ 4.100 per troy ons, sedangkan emas Antam berpotensi bertahan di sekitar Rp2.650.000 per gram. Apabila tekanan jual berlanjut, support berikutnya diperkirakan berada di US$ 4.000 per troy ons dengan harga emas Antam sekitar Rp2.550.000 per gram.
Di sisi lain, apabila tren penguatan berlanjut, emas dunia diproyeksikan mampu menguji resistance pertama di US$ 4.248 per troy ons dengan harga emas Antam sekitar Rp2.690.000 per gram. Selanjutnya, resistance berikutnya diperkirakan berada di level US$ 4.348 per troy ons, sementara emas Antam berpotensi menembus Rp2.780.000 per gram.
Menurut Ibrahim, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada perkembangan hubungan AS dan Iran setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman. Kesepakatan tersebut dinilai mulai menciptakan optimisme terhadap stabilitas kawasan, terutama di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Pasar juga masih menunggu kelanjutan pertemuan pejabat AS dan Iran yang akan membahas pencabutan sanksi ekonomi, termasuk rencana pencairan dana milik Iran yang selama ini dibekukan.
“Ini yang sedang ditunggu pasar. Tapi pasar optimistis AS – Iran ada jeda waktu 60 hari untuk gencatan senjata dan kemungkinan besar akan dipermanenkan,” jelas Ibrahim.
Ia menjelaskan, semakin lancarnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz telah mendorong harga minyak mentah terus melemah. Kondisi tersebut diyakini berpotensi menekan inflasi sehingga membuka ruang bagi bank sentral AS untuk mempertahankan bahkan memangkas suku bunga acuannya.
“Kalau melihat kondisi harga minyak mentah mengalami penurunan, ada kemungkinan bank sentral akan menurunkan suku bunga. Ini yang membuat harga emas kembali terbang,” tutur Ibrahim.
Selain faktor suku bunga, permintaan emas dari bank sentral berbagai negara juga masih menjadi penopang utama harga. Hingga Mei 2026, pembelian emas oleh bank sentral global tercatat mencapai 41 ton. China menjadi pembeli terbesar dengan akumulasi 10 ton, disusul Uzbekistan sebanyak 9 ton, Kazakhstan 7 ton, dan Singapura 4 ton.
Aksi akumulasi tersebut menunjukkan bahwa bank sentral masih melihat emas sebagai aset lindung nilai yang menarik, terutama ketika harga mengalami pelemahan. Dengan prospek penurunan inflasi, normalisasi kondisi geopolitik, dan potensi pelonggaran kebijakan moneter, Ibrahim optimistis reli emas belum berakhir.
“Ada kemungkinan besar harga emas dunia menuju level di atas US$ 5.000 per troy ons sampai akhir tahun,” tambahnya. (her)


















