INDOPOSCO.ID – Upaya mendorong ekonomi hijau di tingkat desa terus diperkuat PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama anak usahanya, PT PLN Energi Gas. Kali ini, langkah tersebut diwujudkan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berfokus pada pengembangan budidaya madu kelulut (stingless bee) di Desa Tanjung Batu, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Inisiatif tersebut dirancang bukan hanya untuk meningkatkan produksi madu, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang lebih luas melalui pengolahan produk turunan seperti propolis, peningkatan kapasitas kelompok masyarakat, hingga membuka peluang pengembangan wisata edukasi berbasis lingkungan.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, menegaskan bahwa program ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi lokal.
“Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi madu kelulut, tetapi juga mendorong pengembangan produk turunan bernilai tambah seperti propolis, penguatan kapasitas kelompok usaha, hingga membuka peluang pengembangan wisata edukasi berbasis lingkungan,” ujar Mamit dalam keterangannya, Selasa (16/6/2026).
Menurut Mamit, budidaya lebah kelulut memiliki keunggulan karena mampu menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian alam. Peran lebah sebagai penyerbuk alami dinilai penting dalam mempertahankan produktivitas tanaman dan mendukung keberagaman hayati di kawasan sekitar.
Sebagai bentuk dukungan nyata, PLN EPI memberikan pelatihan budidaya madu kelulut dan pengolahan propolis kepada 10 anggota kelompok masyarakat. Selain itu, perusahaan menyalurkan 30 koloni lebah, 30 unit stup budidaya, 100 bibit tanaman pakan lebah, serta perlengkapan untuk panen madu dan propolis.
Melalui program tersebut, perusahaan menargetkan kenaikan produksi madu minimal 30 persen dalam setahun. Jumlah koloni lebah diharapkan bertambah 20 persen, sementara pendapatan kelompok usaha diproyeksikan meningkat hingga 30 persen dalam dua tahun seiring berkembangnya produk madu dan propolis yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Pemerintah daerah menyambut positif inisiatif tersebut. Camat Tenggarong Seberang H. Sukono berharap Desa Tanjung Batu mampu berkembang menjadi salah satu pusat produksi madu kelulut di wilayahnya.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh dari pelatihan ini dapat benar-benar dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Desa Tanjung Batu memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu penghasil madu kelulut di Kecamatan Tenggarong Seberang,” jelas Sukono.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada kesungguhan peserta dalam menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama proses pendampingan.
“Kalau ilmu yang didapat hari ini tidak diterapkan, manfaatnya tidak akan terasa. Karena itu peserta harus mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh dan menularkan ilmunya kepada masyarakat lainnya,” kungkapnya.
Dukungan serupa datang dari Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kutai Kartanegara, Santi Effendi. Menurutnya, madu kelulut menyimpan potensi bisnis yang besar karena dapat diolah menjadi beragam produk bernilai tambah.
“Budidaya madu kelulut memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Produk yang dihasilkan tidak hanya berupa madu, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk turunan seperti propolis dan berbagai produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi,” ucap Santi.
Santi menambahkan, pengembangan UMKM perlu dibarengi dengan pendampingan yang mencakup manajemen usaha, legalitas, strategi pemasaran, hingga perluasan akses pasar. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar inisiatif tersebut dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Program budidaya madu kelulut yang dijalankan PLN EPI ini juga menjadi bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta pelestarian ekosistem daratan.
Melalui pendekatan tersebut, pengembangan madu kelulut di Desa Tanjung Batu diharapkan tidak hanya melahirkan UMKM yang lebih mandiri dan kompetitif, tetapi juga menciptakan model ekonomi berbasis lingkungan yang menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis secara berkelanjutan bagi masyarakat Kutai Kartanegara. (her)











