INDOPOSCO.ID – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Bersatu mengungkap dugaan adanya keterlibatan aktor politik dalam rangkaian aksi demonstrasi mahasiswa yang menolak Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam sepekan ini. Organisasi tersebut menilai gerakan penolakan terhadap program pemerintah itu berpotensi disusupi kepentingan politik praktis yang dapat mencederai independensi gerakan mahasiswa.
Juru Bicara BEM Bersatu, Rahmat Djimbula, menyatakan pihaknya menemukan sejumlah indikasi yang dinilai mengarah pada keterlibatan tokoh dan jejaring politik tertentu dalam aksi penolakan MBG. Salah satu nama yang disebut adalah politisi PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, yang disebut hadir di tengah massa aksi.
Selain itu, BEM Bersatu juga menyoroti kendaraan yang digunakan oleh pimpinan aksi penolakan MBG, Tiyo Ardianto. Menurut Rahmat, mobil Toyota Fortuner yang digunakan dalam kegiatan tersebut diduga terdaftar dengan pemilik atas nama Siti Nuraeni, yang disebut memiliki hubungan keluarga dengan Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Nama Setyo Sularso sendiri dikaitkan dengan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa yang pernah menjadi bagian dari tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.
“Kami melihat adanya indikasi kuat keterlibatan aktor politik praktis dalam gerakan ini. Kehadiran tokoh politik tertentu di tengah aksi dan sejumlah keterkaitan yang kami temukan perlu menjadi perhatian publik,” ujar Rahmat dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (16/6/2026).
Rahmat menambahkan, dugaan keterhubungan tersebut semakin menguat setelah Tiyo Ardianto diketahui menghadiri sebuah forum kebangsaan di Bandung yang juga dihadiri sejumlah tokoh nasional seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dr. Tifa, serta Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso.
Menurutnya, keberadaan sejumlah tokoh tersebut dalam satu forum yang sama menunjukkan adanya jejaring yang layak dicermati, terutama terkait dugaan pengaruh terhadap gerakan mahasiswa yang mengatasnamakan kepentingan publik.
Atas dasar temuan tersebut, BEM Bersatu menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk intervensi eksternal yang berpotensi memanfaatkan mahasiswa sebagai alat kepentingan politik. Organisasi itu menekankan bahwa gerakan mahasiswa harus tetap independen dan berorientasi pada aspirasi rakyat, bukan menjadi instrumen kelompok tertentu dalam kontestasi kekuasaan.
Lebih lanjut, kata Rahmat, BEM Bersatu juga mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk menjaga integritas gerakan dan tidak mudah terpengaruh oleh kepentingan politik yang dapat mengaburkan tujuan perjuangan mahasiswa itu sendiri.
“Kami menolak segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Mahasiswa harus tetap menjadi kekuatan moral dan suara rakyat yang independen,” tegas Ketua BEM dari Universitas Ibnu Chaldun Jakarta itu.
Sementara itu, Juru Bicara PDIP, Guntur Romli, menegaskan partainya tidak terlibat dalam aksi-aksi mahasiswa penolakan BBM, sebagaimana dituding oleh Aliansi BEM Bersatu.
“PDI Perjuangan tidak terkait dengan aksi-aksi mahasiswa, jangan merendahkan gerakan independen mahasiswa dengan memberikan tuduhan ditunggangi oleh partai dengan bukti yang sumir dan tidak masuk akal,” ucap Guntur saat dihubungi wartawan.
Menurut Guntur, tuduhan yang dilayangkan oleh Aliansi BEM Bersatu soal mobil Fortuner yang ditumpangi Tiyo merupakan milik Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang merupakan besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024, hanyalah sebuah “cocokologi”.
“Itu hanya ‘cocokologi’, mobil yang dipakai Tiyo adalah pinjaman dari seseorang, dan seseorang itu adik dari seseorang yang besannya dari orang yang dulunya timses di pilpres, padahal pilpres sudah selesai,” ucap Guntur.
“Adik kakak juga belum tentu pilihan politiknya sama. Besanan juga belum tentu sama politiknya. Dipaksakan dengan cocokologi. Kritik terhadap MBG itu datang dari hampir semua lapisan masyarakat. Yang sekarang terbukti dengan ditangkapnya 3 eks pimpinan BGN atas tuduhan korupsi. Apa BEM Bersatu itu mau bela koruptor MBG,” tambahnya.
Guntur pun menegaskan, nama-nama yang terkait dengan mobil Fortuner Tiyo bukanlah bagian dari timses Ganjar.
“Ibu Siti Nuareni bukan Timses. Pak Setyo Sularso juga bukan,” tegasnya.
“Pak Setyo Bu Siti juga bukan orang PDI Perjuangan,” tandasnya.(dil)











