INDOPOSCO.ID – Budayawan Mohamad Sobary, melontarkan kritik tajam terhadap analis komunikasi politik Hendri Satrio atau Hensa terkait pandangannya mengenai berbagai isu yang menyeret Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan keluarganya.
Dalam sebuah tayangan podcast di kanal YouTube Anak Bangsa Channel, Sobary menilai Hensa mampu memetakan persoalan politik dengan baik. Namun, menurutnya, analisis tersebut berhenti pada tataran teknis birokrasi dan tidak berlanjut pada dorongan penyelesaian hukum yang lebih substansial.
“Bung Hensa itu memang sempurna membicarakan perkara politik hari ini, tapi beliau itu sampai di puncak. Saya menyebut Bung Hensa sudah sampai di puncak. Tapi ini bukan puncak, itu anda mengulangi Tragedi Sisyphus, anda sudah sampai di puncak tapi sebenarnya Anda menggelundung,” kata Sobary dalam tayangan tersebut, dikutip pada Minggu (14/6/2026).
Tragedi Sisyphus sendiri merujuk pada kisah dalam mitologi Yunani tentang Sisyphus, seorang raja yang dihukum oleh para dewa untuk mendorong sebuah batu besar ke puncak bukit. Namun, setiap kali batu itu hampir mencapai puncak, batu tersebut selalu menggelinding kembali ke bawah. Hukuman itu berlangsung terus-menerus tanpa pernah selesai.
Lebih lanjut, Sobary berpendapat bahwa solusi administratif atau pembenahan teknis pemerintahan tidak cukup untuk menjawab persoalan politik yang tengah menjadi perhatian publik. Menurutnya, fokus terhadap aspek birokrasi justru berpotensi mengaburkan tuntutan atas proses hukum yang dianggap lebih mendesak.
“Bung Hendri, Bung Hensa, jangan bilang itu susah, ini susah, dan Anda sampai puncak. Itu puncaknya hanyalah menyelesaikan perkara teknis birokrasi, teknis technicality mengenai hal-hal yang sepele. Itu bukan penyelesaian politik, itu pembentukan yang sifatnya birokratik. Dan anda meninggalkan agenda politik begitu penting bagi republik,” jelasnya.
Lebih jauh, Sobary menilai para pengamat politik semestinya tidak berhenti pada analisis konseptual, tetapi juga mendorong adanya langkah nyata melalui mekanisme hukum. Ia menyebut penyelesaian politik harus dibangun di atas fondasi penegakan hukum yang jelas.
“Yang diminta sekarang ini political solution. Birokratik alternatif itu penting, tapi the most important thing ialah bagaimana si anak Jokowi ini dituntut secara hukum,” kata Sobary.
Di akhir pernyataannya, Sobary kembali mengingatkan pentingnya keberanian para intelektual dan analis untuk tidak hanya menawarkan solusi yang bersifat administratif. Baginya, inti penyelesaian persoalan berada pada langkah politik yang diwujudkan melalui proses hukum yang tegas.
“Bung Hensa, tidak ada kata sulit. Dan jangan Bung Hensa lari pada zaman ini hanya menempuh suatu birokratik teknikalitis sebagai solusi untuk bangsa. Itu bukan solution. The central of solution is the political solution,” tambahnya. (her)










