INDOPOSCO.ID – Wacana penguatan tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis kembali mengemuka di tengah perhatian pemerintah terhadap potensi praktik transfer pricing yang dapat memicu under invoicing pada perdagangan batu bara dan mineral.
Menanggapi isu tersebut, Asosiasi Pertambangan Indonesia/Indonesia Mining Association (API-IMA) menilai sistem pengawasan ekspor yang selama ini diterapkan pemerintah telah memberikan fondasi yang kuat untuk menjaga transparansi transaksi dan akurasi pelaporan ekspor komoditas tambang.
Menurut API-IMA, berbagai instrumen pengawasan yang dibangun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam beberapa tahun terakhir telah menciptakan mekanisme kontrol yang semakin terintegrasi. Penerapan harga acuan batu bara dan mineral, pengawasan surveyor, hingga verifikasi oleh otoritas kepabeanan dinilai menjadi elemen penting dalam meminimalkan potensi manipulasi nilai ekspor.
“Dengan adanya mekanisme pengawasan digital yang terintegrasi dan melibatkan berbagai instansi di yakini sudah berjalan baik. Oleh karena itu, langkah-langkah penegakan hukum yang tegas diperlukan jika didapati pelanggaran, guna menciptakan iklim usaha yang adil dan berkelanjutan,” kata Direktur Eksekutif API-IMA, Sari Esayanti.
Di sisi lain, asosiasi juga menyoroti rencana pemerintah untuk menerapkan tata kelola ekspor komoditas strategis melalui mekanisme satu pintu. API-IMA mendukung upaya peningkatan tata kelola tersebut, namun menekankan bahwa implementasinya harus dilakukan secara transparan dan tidak menghambat kelancaran arus perdagangan.
Sari mengingatkan bahwa pasar batu bara internasional sangat bergantung pada kepastian pasokan. Karena itu, setiap perubahan kebijakan perlu disertai transisi yang terukur agar tidak menimbulkan gangguan terhadap rantai pasok maupun kontrak dagang yang telah berjalan.
“Hal ini sangat penting dan jangan sampai ada kekosongan agar pasar batu bara Indonesia di tingkat dunia tidak terganggu dan terisi oleh negara lain, mengingat para customer berbagai negara juga sangat membutuhkan on time delivery, terjaganya standar kualitas produksi dan komitmen produsen,” jelas Sari.
Ia menambahkan, ketidakpastian terkait proses ekspor maupun kontinuitas pasokan berpotensi mengurangi kepercayaan pembeli internasional. Dalam kondisi tersebut, konsumen dapat memilih mencari sumber pasokan alternatif dari negara produsen lain yang dianggap lebih mampu menjamin kepastian pengiriman.
Sebagai salah satu organisasi yang mewadahi pelaku industri pertambangan nasional, API-IMA menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penguatan tata kelola sektor pertambangan melalui kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.
“API-IMA berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan semua pemangku kepentingan demi menjaga integritas pasar dan mendorong pertumbuhan sektor pertambangan nasional,” tambahnya.(her)












