INDOPOSCO.ID – Bea Cukai perkuat perannya sebagai trade facilitator dan industrial assistance melalui berbagai upaya pendampingan ekspor di sejumlah daerah. Langkah ini dilakukan untuk membantu pelaku usaha dan UMKM memperluas akses pasar internasional, meningkatkan nilai tambah produk lokal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berdampak langsung pada masyarakat.
Di Aceh, Bea Cukai Lhokseumawe menerima audiensi Aceh Trading Committee (ATC) yang membahas rencana pengembangan ekspor komoditas pertanian dan produk UMKM melalui Pelabuhan Krueng Geukuh, pada Rabu (13/05). Dalam pertemuan tersebut, ATC menyampaikan rencana pembentukan ekosistem perdagangan yang akan menampung komoditas pertanian dan produk UMKM Aceh Utara dan sekitarnya untuk dipasarkan ke luar negeri, termasuk kerja sama dengan perusahaan di Malaysia sebagai calon buyer.
Kepala Kantor Bea Cukai Lhokseumawe, Bambang Sutarjo, menegaskan dukungannya terhadap pengembangan ekspor daerah. “Bea Cukai siap memberikan asistensi dan pendampingan kepada pelaku usaha agar kegiatan perdagangan internasional dapat berjalan lancar, tertib administrasi, dan sesuai aturan,” ujarnya.
Upaya peningkatan ekspor juga menjadi salah satu perhatian dalam rapat koordinasi Forum Sinergi Data (FORSIDA) Provinsi Aceh yang digelar di Learning Corner Satellite Kanwil Bea Cukai Aceh, pada Rabu (13/05). Forum yang melibatkan Bea Cukai, DJPb, Badan Pusat Statistik, dan Bank Indonesia tersebut menyoroti pentingnya hilirisasi komoditas agar nilai tambah produk lokal tetap berada di Aceh. Berdasarkan data yang dipaparkan, ekonomi Aceh pada Triwulan I-2026 tumbuh 4,09 persen (year on year), mencerminkan pemulihan ekonomi yang semakin kuat.
Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Aceh, Asral Efendi, menekankan bahwa forum tersebut menjadi wadah penting untuk memastikan kebijakan ekonomi daerah didukung data yang akurat dan terintegrasi.
Sementara itu, pada Jumat (08/05) Bea Cukai Sibolga memanfaatkan ajang Pesta Tapanuli 2026 di Padangsidimpuan untuk memperkuat pembinaan UMKM berorientasi ekspor. Melalui layanan Klinik Ekspor dan sosialisasi fasilitas KITE IKM, pelaku usaha memperoleh pendampingan terkait prosedur ekspor, standar produk internasional, hingga pemanfaatan insentif fiskal guna meningkatkan efisiensi produksi.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Bea Cukai mendorong semakin banyak pelaku usaha memanfaatkan layanan asistensi ekspor yang tersedia. Dengan dukungan pendampingan, edukasi, dan kolaborasi lintas instansi, produk-produk unggulan daerah diharapkan mampu menembus pasar global, menciptakan peluang usaha yang lebih luas, serta memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.(ipo)












