INDOPOSCO.ID – Dinamika politik nasional mulai menunjukkan arah baru. Di satu sisi, hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan PDI Perjuangan terlihat semakin hangat. Di sisi lain, Presiden ke-7 RI Joko Widodo mulai aktif melakukan manuver politik yang dinilai sebagai langkah menjaga pengaruh menjelang kontestasi 2029.
Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai kedekatan antara Prabowo dan PDI Perjuangan bukan sekadar peristiwa politik biasa. Menurutnya, fenomena tersebut mempertegas karakter kepemimpinan Prabowo yang selama ini dikenal berupaya merangkul seluruh kekuatan politik.
“Secara komunikasi politik, ini mengirimkan pesan bahwa Presiden tidak ingin ada kubu-kubuan, tidak ingin ada yang merasa ditinggal. Pak Prabowo memang konsisten dengan politik merangkul, dan itu terlihat jelas di momen Harlah Pancasila kemarin,” ujar Hensa -sapaan Hendri Satrio- melalui gawai, Selasa (2/6/2026).
Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu melihat kedekatan tersebut semakin nyata setelah Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto secara terbuka menyebut berbagai persoalan yang saat ini dihadapi pemerintahan Prabowo merupakan warisan dari pemerintahan sebelumnya di bawah Joko Widodo.
Bagi Hensa, pernyataan tersebut memiliki makna politik yang lebih dalam. Ia menilai PDIP secara tidak langsung menunjukkan sikap mendukung pemerintahan Prabowo sekaligus menegaskan jarak politiknya dengan Jokowi.
“Ini pun menandakan bahwa PDI Perjuangan kini semakin ke sini mendekat, dan sudah terangkul oleh pak Prabowo, meski dalam posisi masing-masing mereka tak harus bermusuhan kan dan ini sekaligus jadi ajang buat PDI Perjuangan kalau mereka memang sudah tak bersama Jokowi,” kata Hensa.
Sementara itu, Jokowi juga mulai menunjukkan aktivitas politik yang lebih intens. Mantan presiden tersebut diketahui semakin dekat dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan berencana melakukan perjalanan keliling Indonesia dalam waktu mendatang.
Menurut Hensa, langkah tersebut tidak bisa dibaca hanya sebagai agenda silaturahmi atau nostalgia politik semata. Ada kepentingan strategis yang dinilai sedang dibangun untuk menjaga keberlangsungan pengaruh politik keluarga menjelang Pemilu 2029.
“Jokowi turun gunung itu perlu kita baca dengan cermat. Ini bukan sekadar nostalgia atau silaturahmi. Ini adalah pergerakan politik yang punya misi,” tutur Hensa.
“Dan ketika Jokowi bergerak bersamaan dengan hangatnya hubungan PDI Perjuangan dan Prabowo, maka kita bisa membaca satu hal dengan sangat jelas, ini pemanasan menuju 2029 sudah dimulai, dan ia dimulai lebih awal dari yang banyak orang perkirakan,” lanjutnya.
Dalam situasi tersebut, Hensa melihat Prabowo menghadapi tantangan politik yang tidak sederhana. Kedekatan dengan PDI Perjuangan membuka peluang memperluas basis legitimasi politik pemerintahan. Namun pada saat yang sama, hubungan dengan Jokowi dan jaringan politik yang telah terbentuk selama beberapa tahun terakhir juga tetap harus dijaga.
Menurutnya, kemampuan Prabowo menjaga komunikasi dengan berbagai kekuatan politik selama ini menjadi modal penting menghadapi situasi tersebut.
“Prabowo itu politisi yang tahu betul cara menjaga hubungan di banyak arah sekaligus. Tapi sekarang, dua arah itu mulai bergerak ke tujuan yang berbeda. PDI Perjuangan makin mesra, Jokowi makin aktif. Dan Prabowo ada di tengah. Apakah ini masalah? Belum tentu. Tapi apakah ini ujian? Sudah pasti. Yang menarik justru bukan siapa yang dipilih Prabowo, melainkan seberapa lama ia bisa menjaga keseimbangan itu,” terang Hensa.
Hensa menambahkan, cara Prabowo mengelola hubungan dengan dua poros politik tersebut akan sangat berpengaruh terhadap konfigurasi politik nasional menjelang Pemilu 2029. Sikap yang diambil, termasuk kemungkinan memilih tetap berada di tengah, akan menentukan arah koalisi dan tingkat tensi politik dalam beberapa tahun ke depan.
“Ya kita lihat nanti saja perkembangannya. Yang jelas, apa yang sedang terjadi sekarang ini bisa jadi pembuka dari fase paling panas perpolitikan kita menuju 2029. Dan para pemain utamanya sudah mulai mengambil posisi masing-masing, sadar atau tidak,” tambahnya. (her)












