INDOPOSCO.ID – Perjalanan hidup Edi Permadi, dari anak keluarga veteran yang tumbuh dalam keterbatasan hingga dipercaya menjadi direktur sebelum genap berusia 30 tahun, kini diabadikan dalam buku berjudul Edi Permadi: Direktur di Usia 29 Tahun. Buku tersebut resmi diluncurkan di Sekolah Master (Masjid Terminal), Depok, Senin (1/6/2026), dan mendapat apresiasi dari berbagai tokoh nasional, akademisi, pelaku bisnis, serta para kolega.
Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menilai perjalanan hidup Edi membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari kemudahan.
“Kisah hidup Bapak Edi Permadi menunjukkan bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh latar belakang ataupun kemudahan yang dimiliki seseorang. Keberhasilan sejati dibangun melalui ketekunan, kedisiplinan, keberanian dalam mengemban tanggung jawab, serta komitmen untuk terus belajar dan berkembang,” ujar Listyo.
Menurutnya, buku tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda untuk terus memegang teguh nilai integritas dan profesionalisme.
“Semoga buku ini dapat menginspirasi para pembaca, khususnya generasi muda penerus bangsa, untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai integritas, kerja keras, dan profesionalisme dalam setiap langkah kehidupan, guna mewujudkan Indonesia yang lebih maju, bermartabat, dan berdaya saing global,” harapnya.
Buku itu merekam perjalanan Edi yang lahir di Jakarta pada 10 Februari 1970. Sejak usia delapan tahun, ia sudah membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kacang dan makanan ringan setelah ayahnya meninggal dunia.
Kondisi tersebut tidak menghentikan langkahnya menempuh pendidikan. Edi kemudian meraih gelar Sarjana Teknik Elektro Universitas Indonesia pada 1997. Bekal pendidikan dan pengalaman hidup membawanya berkarier di industri pertambangan hingga dipercaya menjabat Director of External Relations PT International Nickel Indonesia (Inco), kini PT Vale Indonesia Tbk, saat usianya belum genap 30 tahun.
Kariernya terus menanjak. Setelah berkiprah di Vale, Edi bergabung dengan PT J Resources Asia Pasifik Tbk dan dipercaya menduduki posisi Direktur Utama. Di luar dunia korporasi, ia juga aktif dalam berbagai pemikiran strategis terkait pembangunan nasional, ketahanan negara, dan pengelolaan sumber daya alam. Saat ini, Edi dipercaya sebagai Tenaga Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam di Lemhannas RI.
Potensi Kepemimpinan yang Terlihat Sejak Awal
Director & Principal Advisor PT Quintave Kinerja Mulia, Eddie Arsyad, menilai pencapaian Edi bukanlah kebetulan. Menurutnya, kapasitas kepemimpinan Edi telah terlihat sejak awal perjalanan karier.
“Ada anggapan bahwa seseorang harus mencapai usia tertentu untuk menjadi direktur. Menurut saya, itu hanyalah mitos. Yang menentukan bukanlah usia, melainkan potensi yang dimiliki individu tersebut,” ujar Eddie Arsyad yang juga menjadi sosok mentor Edi Permadi.
Ia mengungkapkan bahwa potensi tersebut sudah terlihat ketika Edi berada di bawah pembinaan Human Capital yang dipimpinnya.
“Ketika Edi masih berada di grup Human Capital yang saya pimpin, kami sudah melihat adanya potensi besar dalam dirinya. Pada akhirnya, keberhasilan seseorang sangat ditentukan oleh keinginannya sendiri untuk terus mengembangkan dan mengisi potensi yang ada dalam dirinya,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum IAGI, Budi Santoso. Ia menilai Edi memiliki kombinasi kemampuan teknis dan kecakapan membangun hubungan yang jarang dimiliki seorang engineer.
“Cara beliau membawa diri, berkomunikasi, dan membangun hubungan dengan berbagai pihak sangat humanis. Pendekatan profesional yang beliau lakukan selalu dibalut dengan sentuhan personal dan empati yang kuat. Saya bahkan sempat berpikir tidak mungkin ini seorang engineer,” tutur Budi.
Budi mengaku pernah bekerja bersama Edi di J Resources dan menyaksikan langsung bagaimana ia menangani persoalan bisnis yang kompleks dengan pendekatan berbasis data tanpa mengabaikan hubungan antarmanusia.
“Yang saya kagumi, seluruh keputusan dibuat dengan perhitungan yang sangat matang dan disiplin. Namun dalam proses diskusi maupun penyampaiannya kepada berbagai pihak, beliau tetap mengedepankan empati dan hubungan personal yang baik. Bagi saya, itulah yang membuat Pak Edi menjadi sosok yang lengkap,” imbuhnya.
Dari Pengalaman Hidup hingga Filosofi Tujuh E
Dalam sambutannya, Edi menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari dorongan sahabat dan kolega yang meminta berbagai catatan pengalaman hidupnya dihimpun dalam satu karya.
“Buku ini lahir dari dorongan banyak sahabat yang meminta saya menuliskan pengalaman dan perjalanan hidup yang selama ini tersebar dalam berbagai catatan, tulisan, maupun kenangan. Akhirnya saya mencoba mengumpulkannya menjadi satu karya yang dapat dibaca dan dipelajari bersama,” ujar Edi.
Buku ini dibagi ke dalam tiga fase perjalanan hidupnya: sebagai profesional, entrepreneur, dan warga negara yang ingin berkontribusi bagi bangsa.
Salah satu gagasan utama yang diangkat adalah konsep “Tujuh E”, yakni Ethos (etos kerja), Effectiveness (efektivitas), Efficiency (efisiensi), Empathy (empati), Ethics (etika), Eling (mengingat Tuhan Yang Maha Esa), dan Emak (keberkahan ibu).
“Etos kerja merupakan fondasi utama keberhasilan. Saya melihat bahwa keberhasilan tidak datang secara kebetulan, melainkan melalui kerja keras yang dilakukan secara konsisten,” katanya.
Edi juga menegaskan pentingnya integritas sebagai penopang utama kesuksesan.
“Keberhasilan tanpa etika tidak akan bertahan lama. Karena itu, integritas harus menjadi fondasi dalam setiap tindakan dan keputusan yang kita ambil,” ujarnya.
Menurut Edi, keberhasilan seseorang juga tidak bisa dilepaskan dari dukungan keluarga dan doa orang tua.
“Doa seorang ibu memiliki kekuatan yang luar biasa. Restu dan keberkahan orang tua, khususnya ibu, merupakan salah satu faktor penting yang mendukung perjalanan hidup seseorang. Saya percaya bahwa keberhasilan bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tetapi juga hasil dari doa, dukungan, dan pengorbanan orang tua yang selalu menyertai langkah kita,” tutur Edi.
Melalui buku ini, Edi menegaskan dirinya tidak sedang menawarkan resep sukses, melainkan berbagi pengalaman, pelajaran, kegagalan, dan proses panjang yang membentuk perjalanan hidupnya.
“Saya hanya ingin berbagi pengalaman, pelajaran, kegagalan, dan proses yang saya jalani selama ini. Jika ada manfaat yang dapat dipetik oleh generasi muda maupun para profesional dari kisah yang saya tuliskan, maka tujuan buku ini telah tercapai,” pungkasnya. (her)












