INDOPOSCO.ID – Pemerintah mengklaim berhasil menjaga stabilitas harga pangan pasca-Iduladha 2026, sekaligus membentengi pasar domestik dari ancaman fluktuasi harga akibat gejolak geopolitik global.
“Kalau kita bicara kondisi harga pangan, kita harus bersyukur terlebih dahulu dengan situasi global dunia hari ini yang tidak menentu, tapi kondisi neraca pangan kita secara nasional masih cukup kuat,” kata Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Badan Pangan Nasional (Bapanas) Maino Dwi Hartono dalam webinar Pangan Talk, Jakarta dikutip Senin (1/6/2026).
Hal itu mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan inflasi menurun pada April 2026. Secara nasional artinya kondisi harga terkendali.
“Memang yang menjadi catatan kita bersama itu distribusi, karena sentra-sentra produksi belum merata di semua wilayah dan periode (panen) waktunya tentunya juga berbeda-beda antarwilayah,” jelas Maino.
Berdasarkan pantauan Bapanas, sampai 29 Mei atau 2 hari usai Iduladha, rerata harga beberapa pangan pokok strategis masih dalam rentang Harga Eceran Tertinggi (HET) dan Harga Acuan Penjualan (HAP) tingkat konsumen. Misalnya rerata harga beras medium secara nasional di Rp13.456 per kilogram (kg) telah turun tipis 0,19 persen dari seminggu sebelumnya.
Sementara bawang merah di Rp47.185 per kg dari HAP tertinggi Rp41.500 per kg. Cabai merah keriting di Rp60.638 per kg dari HAP maksimal di Rp55 ribu per kg.
Untuk cabai rawit merah yang harus diperhatikan fluktuasinya. Namun daging ayam ras di Rp38.385 per kg dan telur ayam ras Rp29.469 per kg. Keduanya masih di bawah level HAP.
Pemerintah tentunya tidak hanya mengawasi level harga pangan di tingkat konsumen saja. Kepentingan produsen pangan dalam negeri juga harus dijaga keseimbangannya. Terkadang harga di tingkat konsumen cukup baik, namun harga di tingkat produsen terlalu rendah.
“Jadi semua harus kita lindungi, karena produsen kita juga harus mendapatkan harga yang wajar, yang menguntungkan, agar mereka tetap semangat berproduksi,” ucap Maino. (dan)












