INDOPOSCO.ID – Ketidakpastian pasar dan tekanan harga nikel global belum menyurutkan langkah PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel. Di tengah tantangan yang membayangi industri nikel dunia, perusahaan memilih fokus memperkuat efisiensi operasional, menjaga produktivitas, serta menjalankan praktik usaha yang bertanggung jawab guna mempertahankan daya saing jangka panjang.
Sebagai perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi, Harita Nickel menilai integrasi bisnis dari hulu hingga hilir menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga ketahanan usaha di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Head of Investor Relations Harita Nickel, Lukito Gozali, mengatakan dinamika industri nikel saat ini menuntut perusahaan untuk mengelola operasional secara lebih cermat dan terukur.
“Saat ini industri nikel global sangat dinamis dan penuh tantangan. Fokus kami adalah tetap menjaga operasional berjalan secara efisien, terukur, dan bertanggung jawab. Integrasi dari penambangan hingga pengolahan membantu Perseroan mengelola produktivitas dan efektivitas operasional secara lebih baik, dengan tetap memperhatikan tata kelola serta keberlanjutan usaha jangka panjang,” ujar Lukito dalam keterangannya, dikutip Minggu (31/5/2026).
Meski menghadapi tekanan pasar, Harita Nickel tetap mampu menjaga kesinambungan bisnis. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp29,63 triliun sepanjang 2025 dan Rp6,81 triliun pada Kuartal I 2026. Capaian tersebut menjadi fondasi bagi perusahaan untuk terus menjalankan operasional secara disiplin dan efisien di tengah kondisi industri yang menantang.
Dari sisi operasional, seluruh lini bisnis berjalan sesuai target yang telah ditetapkan. Aktivitas penambangan bijih nikel, fasilitas pengolahan pirometalurgi melalui teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), hingga pengolahan hidrometalurgi berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) yang menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nikel sulfat tetap beroperasi secara optimal.
Selain fokus pada efisiensi, Harita Nickel juga terus memperkuat agenda keberlanjutan melalui berbagai inisiatif energi bersih. Perseroan tengah mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 40 Megawatt peak (MWp) serta pembangkit listrik berbasis pemanfaatan panas buang (waste heat recovery) dari fasilitas HPAL dengan kapasitas 50 MWp.
Langkah tersebut diperkuat dengan pengembangan Energy Management System yang mengacu pada standar ISO 50001 guna memastikan penggunaan energi yang lebih efisien, terukur, dan berkelanjutan.
Di bidang tata kelola dan keberlanjutan, Harita Nickel juga melanjutkan penguatan standar ESG melalui proses corrective action dalam evaluasi berdasarkan standar The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA). Selain itu, perusahaan bersiap menjalani audit Responsible Minerals Assurance Process (RMAP) Supply Chain Due Diligence Plus (SCDDP) Module sebagai bagian dari penguatan praktik rantai pasok yang bertanggung jawab.
Komitmen terhadap dekarbonisasi juga terus menunjukkan progres positif. Pada Kuartal I 2026, Harita Nickel mencatat penghindaran emisi karbon sebesar 977.278 ton CO2e atau meningkat 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut didorong oleh berbagai inisiatif, mulai dari pemanfaatan kembali panas buang, penggunaan biosolar, hingga penerapan teknologi gasifikasi batu bara yang lebih efisien.
Menurut Lukito, strategi efisiensi dan optimalisasi operasional akan tetap menjadi fokus utama perusahaan dalam menghadapi perkembangan industri ke depan.
“Di tengah dinamika industri yang terus berkembang dan semakin menantang, perusahaan akan tetap berfokus pada efisiensi, optimalisasi operasional, dan penguatan daya saing jangka panjang. Integrasi dari penambangan hingga pengolahan memungkinkan Perseroan menjaga produktivitas, meningkatkan efektivitas operasional, serta memperkuat ketahanan usaha dalam menghadapi perkembangan industri ke depan,” tutupnya.
Dengan kombinasi antara efisiensi operasional, integrasi bisnis, penguatan standar Environmental, Social, dan Governance (ESG) atau Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola, serta percepatan transisi energi, Harita Nickel berupaya membangun fondasi yang lebih kokoh untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus menjawab tuntutan industri nikel global yang makin kompetitif. (rmn)











