INDOPOSCO.ID – Anggota Komisi IV DPR Ajbar Abdul Kadir menepis isu situasi pangan Indonesia dalam kondisi mengkhawatirkan. Faktanya, data kuartal I 2026 mencatat inflasi pangan bergejolak justru turun signifikan menjadi 2,1 persen (yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu.
“Pada kuartal I tahun 2026, inflasi kelompok pangan bergejolak (volatile food) tercatat sebesar 2,1 persen (yoy), turun signifikan dibandingkan kuartal I 2025 yang mencapai 3,8 persen saat Indonesia dan dunia menghadapi dampak El Nino,” kata Ajbar di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Ia menjelaskan adanya tren positif pada harga beras premium konsumen kini stabil di kisaran Rp14.200 per kilogram, setelah sebelumnya sempat melonjak pada puncak krisis September 2025.
“Harga beras premium di tingkat konsumen saat ini stabil di kisaran Rp 14.200/kg, lebih rendah dari puncak krisis September 2025 yang sempat menembus Rp 15.800/kg,” ujar Ajbar.
Belum lagi, surplus produksi beras yang diproyeksikan BPS mencapai 1,2 juta ton pada akhir musim panen raya ini. Fakta-fakta itu harus menjadi bahan diskusi publik, bukan narasi nir pijakan data sehingga kehilangan arah yang sulit diukur.
Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Pertanian, Perdagangan, BUMN (Bulog), hingga Badan Pangan Nasional duduk dalam satu meja dengan pola komando yang jelas.
“Kepemimpinan (Menko Pangan) Zulhas justru memperlihatkan koordinasi pangan yang semakin solid,” nilai Ajbar.
Selain itu, berdasarkan data statistik dan Bulog, sebanyak 650 ribu ton setara beras telah berhasil terserap selama dua bulan pertama tahun 2026.
“Hasil instruksi presiden melalui menko pangan yang harus memastikan Bulog menyerap seluruh gabah petani dengan harga layak, petani kita itu bergembira dan merasa sangat dijaga marwahnya oleh negara,” ucap Ajbar.
Ia meminta semua pihak berhenti menjadikan isu pangan sebagai panggung tekanan politik. Pasalnya, dapat mengganggu stabilisasi dan merugikan rakyat maupun petani yang sehari-harinya bergulat dengan harga di pasar.
“Taruhannya upaya stabilisasi bisa terganggu, dan yang paling menderita tetaplah rakyat dan petani yang sehari-harinya bergulat dengan harga di pasar,” imbuhnya. (dan)










