INDOPOSCO.ID – Transformasi digital kini bukan lagi sekadar jargon di industri energi. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, industri hulu migas mulai bergerak menuju sistem kerja yang lebih cerdas, terintegrasi, dan berbasis data. Semangat itulah yang dibawa PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Regional 1 saat menggelar program Diskusi Sharing Update Literasi (Disrupsi) di Auditorium Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Depok, Kamis (21/5/2026).
Mengangkat tema Implementasi Digitalisasi di Industri Energi, forum ini menjadi ruang pertemuan antara dunia industri dan akademisi untuk membahas bagaimana teknologi mengubah wajah sektor energi nasional. Tak hanya berbagi pengalaman, PHR juga membuka cakrawala mahasiswa tentang tantangan dan peluang industri migas modern yang kini semakin bergantung pada inovasi digital.
Dalam pemaparannya, PHR menunjukkan bagaimana digitalisasi telah diterapkan di berbagai lini perusahaan. Mulai dari penguatan fungsi corporate secretary melalui integrated corporate secretary dashboard, hingga pengembangan infrastruktur Process Control Network (PCN) Regional 1 yang dirancang untuk menjaga konektivitas sistem operasi dan keamanan siber secara lebih andal.
Teknologi berbasis data juga menjadi perhatian utama. PHR memanfaatkan Data Science, Artificial Intelligence (AI), serta otomasi untuk mempercepat proses analisis, meningkatkan produktivitas, dan meminimalkan risiko operasional di lingkungan kerja migas yang kompleks.
Senior Manager IT Operations PHR, Elan Kusuma Kurniawan menegaskan bahwa digitalisasi kini menjadi kebutuhan strategis dalam menjaga keberlanjutan industri energi.
“Digitalisasi merupakan kebutuhan strategis untuk menjaga daya saing dan keberlanjutan industri energi. Melalui pemanfaatan data, otomasi, dan teknologi digital yang terintegrasi, kami terus mendorong peningkatan efisiensi, keandalan operasi, serta pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat,” ujar Elan.
Tak hanya memperkenalkan teknologi, PHR juga membuka peluang kolaborasi pengembangan talenta muda melalui program Kerja Praktik, Magang, hingga Tugas Akhir. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi era industri energi berbasis digital.
Ketua Departemen Teknik Elektro FTUI, Muhammad Salman, menilai kehadiran industri di lingkungan kampus memberikan pengalaman yang tidak bisa diperoleh mahasiswa hanya dari teori di ruang kuliah.
“Kehadiran PHR memberi konteks riil mengenai penerapan digitalisasi di lapangan, melampaui konsep teoretis di ruang kuliah,” jelas Salman.
Melalui kegiatan Disrupsi, PHR Regional 1 memperlihatkan bahwa masa depan industri migas tidak hanya ditentukan oleh sumber energi, tetapi juga oleh kemampuan memanfaatkan teknologi secara adaptif dan inovatif. Kolaborasi antara kampus dan industri pun menjadi kunci dalam mencetak talenta yang siap menopang ketahanan energi nasional di era digital. (her)










