INDOPOSCO.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat masih banyak tumbuhan langka Indonesia yang belum memiliki koleksi cadangan di jaringan kebun raya. Kondisi ini dinilai berisiko terhadap upaya pelestarian apabila terjadi bencana atau serangan penyakit di lokasi penyimpanan koleksi.
Peneliti BRIN, Lutfi, mengungkapkan Indonesia memiliki kekayaan flora yang sangat besar. Sekitar 8,4 persen flora vaskular dunia berasal dari Indonesia, meski luas daratan Indonesia hanya sekitar 1,3 persen dari total daratan dunia.
“Angka tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran Indonesia dalam menjaga keanekaragaman hayati dunia,” ujar Lutfi dalam keterangan, Selasa (21/7/2026).
Ia menjelaskan kajian dilakukan terhadap empat kategori tumbuhan berdasarkan Daftar Merah IUCN, yakni Extinct in the Wild (punah di alam liar), Critically Endangered (kritis), Endangered (genting), dan Vulnerable (rentan).
Hasil analisis menunjukkan kelompok Endangered dan Vulnerable mendominasi hingga sekitar 88,4 persen dari seluruh spesies yang dikaji. Artinya, sebagian besar tumbuhan tersebut masih ditemukan di habitat aslinya, tetapi populasinya terus mengalami penurunan sehingga memerlukan langkah konservasi yang lebih serius.
“Dari total 361 spesies tumbuhan yang masuk kategori terancam punah, sebanyak 214 spesies atau sekitar 59,3 persen merupakan flora asli Indonesia. Dan 63 spesies merupakan tumbuhan endemik yang hanya hidup di wilayah Indonesia,” ungkapnya.
Lutfi menegaskan, kepunahan spesies endemik akan menjadi kehilangan permanen bagi dunia karena tumbuhan tersebut tidak ditemukan di negara lain.
Salah satu contoh spesies yang telah berstatus Extinct in the Wild ialah mangga kasturi (Mangifera casturi).
“Saat ini keberadaannya di alam telah hilang dan hanya dapat dipertahankan melalui koleksi di kebun raya,” ucapnya.
Ia juga menuturkan, BRIN menemukan persoalan lain, yakni sebanyak 260 dari 361 spesies yang dikaji hanya tersimpan di satu kebun raya. Kondisi tersebut dinilai berisiko tinggi karena apabila kebun raya mengalami bencana atau wabah penyakit, tidak tersedia koleksi pengganti.
“Dari spesies yang hanya tersimpan di satu lokasi tersebut, terdapat 29 spesies berstatus kritis (Critically Endangered) serta 111 spesies yang masuk kategori tunggal ganda kritis,” terangnya.
Untuk mengurangi risiko tersebut, menurutnya, BRIN akan melakukan verifikasi kondisi koleksi di lapangan, mengaudit asal-usul koleksi, mengevaluasi kemampuan perbanyakan tanaman, serta memperbanyak spesies prioritas sebagai koleksi cadangan di kebun raya lainnya.
Menurut Lutfi, lima Kebun Raya BRIN bersama 44 kebun raya binaan perlu dikelola sebagai satu jaringan konservasi nasional yang saling mendukung. Pengembangannya juga harus disesuaikan dengan tiga kawasan fitogeografi Indonesia, yakni Sunda Shelf, Wallacea, dan Sahul Shelf.
Ia menambahkan, keberhasilan konservasi tumbuhan tidak hanya bergantung pada banyaknya koleksi yang dimiliki, tetapi juga pada sistem pengelolaan yang memastikan setiap spesies tetap hidup. Selain itu juga memiliki identitas yang valid, asal-usulnya terdokumentasi dengan baik, dan menjadi bagian dari jaringan konservasi nasional yang terintegrasi.(nas)


















