INDOPOSCO.ID – Gejolak pasokan bahan baku plastik di pasar global mulai terasa hingga ke lapak-lapak pedagang di Pasar Tanah Pasir, Penjaringan. Dalam beberapa bulan terakhir, para penjual mengaku harus menghadapi lonjakan harga yang cukup tajam akibat terganggunya distribusi bahan baku seperti etilena dan propilena yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Kenaikan tersebut mulai dirasakan sejak pertengahan April dan memengaruhi berbagai jenis produk berbahan plastik. Kondisi ini membuat biaya operasional pedagang meningkat, sementara kemampuan masyarakat untuk berbelanja justru cenderung melemah.
Sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga yang bervariasi, mulai dari sekitar 10 persen hingga bahkan mencapai 100 persen. Plastik kresek yang sebelumnya dijual Rp5.000 per bungkus kini menyentuh Rp7.000, sedangkan plastik es yang semula dibanderol sekitar Rp22.000 per pak berisi lima bungkus melonjak hingga Rp40.000.
Alin (50), salah seorang pedagang plastik, mengaku lonjakan harga tersebut datang di luar perkiraan para pelaku usaha.
“Semua pada kaget harganya bisa meloncat begitu, kita aja yang jual juga tidak menyangka harganya bisa tinggi begitu”, tutur Alin (50), pedagang plastik saat ditemui pada Jumat (15/6/2026).
Dampaknya tidak berhenti pada produk plastik saja. Kemasan berbahan styrofoam juga mengalami penyesuaian harga, begitu pula berbagai barang kebutuhan sehari-hari yang mengandalkan kemasan plastik dalam proses distribusinya.
Situasi serupa dirasakan Casmin (58), seorang agen yang memasok barang dagangan untuk warung-warung kecil. Ia mengatakan kenaikan biaya memaksanya menyesuaikan harga jual pelembut pakaian dalam kemasan renteng berisi 14 sachet, dari semula Rp10.000 menjadi Rp12.000.
Kondisi tersebut turut memangkas margin keuntungan para pemilik warung. Bahkan, strategi promosi seperti penawaran “beli 6 gratis 1” terpaksa tidak lagi dijalankan demi menjaga keuntungan yang tersisa, yang kini hanya sekitar Rp2.000 per penjualan.
Menurut para pedagang, pelemahan nilai tukar rupiah dan konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang memperburuk harga bahan baku impor. Mereka berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan kebijakan perdagangan, tetapi juga memberikan dukungan langsung kepada pelaku usaha kecil agar tetap mampu bertahan.
“Seharusnya pemerintah tahu bagaimana pemberdayaan semacam UMKM itu harus bisa tetap belanjut, dengan adanya penambahan dana (modal),” tutur Casmin.
Di sisi lain, industri disebut telah berupaya mencari alternatif pasokan bahan baku dari wilayah lain, termasuk Afrika dan India. Namun, langkah tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan karena waktu pengiriman yang semula berkisar 10–15 hari kini dapat memakan waktu hingga sekitar 50 hari.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah telah menerapkan kebijakan pembebasan bea masuk impor bahan baku plastik selama enam bulan sejak Mei. Kebijakan itu diharapkan dapat membantu menekan tekanan biaya dan meredakan kenaikan harga yang saat ini masih dirasakan oleh para pedagang di tingkat pasar. (mg171)


















