INDOPOSCO.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadirkan dua terobosan utama guna meningkatkan keselamatan di perlintasan kereta api sebidang. Yakni inovasi material pelat karet canggih dan pengembangan sistem persinyalan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Inovasi ini diambil untuk meminimalkan risiko kecelakaan di perlintasan kereta api dan memperbaiki kualitas infrastruktur transportasi nasional. Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rakhman Priandana, menjelaskan bahwa aspek kelistrikan memegang peran vital dalam menjaga keandalan sistem keselamatan.
“Salah satu kuncinya adalah memastikan pasokan listrik tetap stabil dan tidak terputus melalui penerapan perangkat Uninterruptible Power Supply (UPS). Sehingga sistem persinyalan, palang pintu perlintasan kereta api, hingga sirine peringatan tetap berfungsi meski terjadi gangguan aliran listrik,” ungkap Eka dalam keterangan, Kamis (14/5/2026).
Dalam operasional Kereta Rel Listrik (KRL), Eka menambahkan, pemeriksaan ketat terhadap ketinggian dan ketegangan kabel aliran atas sangat diperlukan. Selain itu, nilai hambatan atau resistansi pembumian rel harus dijaga di bawah 1 Ohm, agar emisi medan listrik dan magnet yang dihasilkan tetap berada dalam batas aman bagi lingkungan sekitar.
Menurut Eka, modernisasi dan otomatisasi penuh sistem pengamanan adalah keharusan untuk menekan angka insiden. BRIN pun mendorong pengembangan sistem persinyalan berbasis AI yang mampu bekerja secara mandiri, diperkuat dengan penambahan sensor canggih seperti axle counter (LIDAR).
Langkah lain, masih ujar dia, yang disarankan adalah penutupan akses perlintasan yang tidak memiliki pengamanan memadai serta penyediaan jalur alternatif yang lebih aman bagi masyarakat. “Ke depan, inovasi teknologi kelistrikan yang paling dibutuhkan adalah sistem persinyalan dan pengamanan perlintasan berbasis AI yang mampu bekerja otomatis,” tegas Eka.
Terkait kekhawatiran publik bahwa kendaraan bisa mogok akibat paparan gelombang elektromagnetik dari kereta, Eka menegaskan hasil riset membuktikan hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Berdasarkan pengukuran, medan magnet di sekitar rel rata-rata 47,73 µT, setara dengan medan magnet bumi yang kita alami sehari-hari.
“Gangguan baru akan terjadi jika paparan mencapai di atas 2.000 µT, nilai yang jauh melampaui kondisi nyata di lapangan, dan kendaraan modern yang lolos uji standar internasional dipastikan aman dari gangguan tersebut,” katanya.
Sementara itu, Perekayasa Ahli Madya Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN, Ade Sholeh Hidayat, memperkenalkan inovasi bernama Rubber Crossing Plate (RCP), yaitu pelat perlintasan berbahan dasar karet alam yang dikembangkan untuk menggantikan material konvensional seperti beton atau aspal.
Ade menjelaskan, banyak kecelakaan terjadi bukan hanya karena faktor manusia, tapi juga kondisi fisik perlintasan yang kurang baik, seperti permukaan tidak rata, licin saat hujan, atau getaran berlebih yang membuat kendaraan tersangkut.
“RCP hadir untuk menjawab masalah tersebut dengan karakteristik yang lebih elastis, mampu meredam getaran, serta tahan terhadap beban berat dan cuaca ekstrem,” katanya.
Dibuat dari campuran karet alam, aditif khusus, dan pengisi mineral, dikatakan dia, RCP memiliki permukaan presisi dan anti-slip. Hal ini membuat permukaan lintasan menjadi rata dan stabil, sehingga risiko kendaraan tergelincir atau tersangkut berkurang drastis. Selain lebih aman, material ini juga efektif meredam kebisingan di lingkungan sekitar.
“Pengembangan RCP ini juga bernilai strategis karena mendorong hilirisasi produk karet dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor. Penggunaan limbah mineral sebagai bahan campuran juga mendukung prinsip ekonomi sirkular dan target pengurangan emisi karbon,” ujar Ade.(nas)











